Adab Berdoa (bagian 3)

adab-berdoa-5Al-Ustadz Idral Harits

Tak ingin beranjak jiwa ini, kala sedang bersimpuh di hadapan Rabb semesta alam. Menghinakan diri, menengadahkan kedua tangan seraya memelas kepada-Nya, menangis, memohon kebaikan diri, dunia, dan akhirat. Itulah keadaan terindah dalam hidup seorang hamba. Namun, tak banyak manusia yang merasakan hal itu. Di pekatnya malam, mereka banyak termanjakan di atas peraduannya.

Hanyalah hamba yang diberi taufik oleh Allah, yang sadar akan makna hidupnya. Ia senantiasa meminta pertolongan Rabbnya. Ia berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan sedekat-dekatnya. Ia senantiasa menjaga adab dan etika ketika di hadapan-Nya agar kelak memetik buah doanya.

Muslimah, beberapa adab dan etika dalam berdoa telah kita ketahui pada Qonitah edisi-edisi sebelumnya. Kami tambahkan pada edisi ini, beberapa adab dan etika yang kian mendukung terkabulnya doa Anda.

1. Bersungguh-sungguh, yakin, mendesak, dan berulang-ulang (ilhah)

Berdoa dengan serius, tidak ragu-ragu, dan yakin akan terkabul adalah sebab terwujudnya apa yang diharapkan. Di samping itu, kesungguhan dan keyakinan tersebut menampakkan husnuzh zhan (baik sangka) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti inilah kepribadian seorang mukmin.

Barangkali, seperti ketika kita datang ke dokter atau membeli obat untuk penyakit yang kita rasakan. Artinya, kalau kita tidak mengharapkan kesembuhan, untuk apa kita bersusah-susah mendatangi seorang dokter atau membeli obat? Demikian pula halnya ketika berdoa, yakinlah bahwa doa itu pasti terkabul. Apalagi, Allah subhanahu wa ta’ala sudah berjanji akan mengabulkan semua doa, sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat ke-186 dan surat Ghafir ayat ke-60 yang telah kita sampaikan.

Kita pun tidak boleh berdoa, “Ya Allah, ampunilah aku bila Engkau menghendaki”, karena ungkapan ini seolah-olah membuat Allah terpaksa. Seakan-akan, kita menganggap bahwa Allah memandang apa yang diberikan-Nya kepada kita sebagai sesuatu yang sangat besar, sehingga Dia berat untuk menyerahkannya. Selain itu, menggantungkan doa pada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan bahwa kita tidak membutuhkan apa yang kita minta, bahkan tidak membutuhkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إنْ شِئْتَ؛ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإنَّهُ لاَ مُكْرِهَ لَهُ
وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ فَإنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan, Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki. Ya Allah, rahmatilah aku apabila Engkau menghendaki. Akan tetapi, hendaklah dia memantapkan permohonannya, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang membuat Allah terpaksa.”

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

“Hendaklah dia memantapkan permohonannya dan memperbesar harapannya, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak memandang besar sesuatu yang telah diberikan-Nya.”[1]

Mendesak dan berulang-ulang dalam berdoa adalah inti ‘ubudiyyah (penghambaan diri) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila seorang hamba berulang-ulang meminta, mendesak, dan memelas kepada Rabb-nya, serta menampakkan bahwa dia sangat membutuhkan dan mengharapkan karunia dari Rabb-nya, sangat besar kemungkinan doanya terkabul. Siapa yang berulang-ulang mengetuk pintu, tentu akan dibukakan.[2]

2. Tidak terburu-buru atau menganggap lambat

Siapa pun pasti ingin semua keinginan dan harapannya segera terwujud, tentu saja setelah mengusahakan berbagai sebab yang mendukung tercapainya hal yang dicita-citakan. Akan tetapi, kadang-kadang waktu begitu panjang sehingga harapan itu tidak tampak dalam sekejap, bahkan baru terlihat nyata setelah berbilang tahun.

Demikian pula halnya doa. Kadang, dalam sekejap dapat terlihat apa yang diminta. Namun, tidak jarang beberapa waktu kemudian baru tampak hasilnya.

Keadaan-keadaan seperti itu tentu tidak boleh menyebabkan kita berputus asa atau menganggap “alangkah lambatnya” Allah mengabulkan permintaan kita. Sikap seperti ini termasuk perilaku yang kurang baik dan kurang sopan. Seperti ketika kita menelan obat, sehebat apa pun obat itu, tidak mungkin dalam sekejap mata kita akan sembuh. Akan tetapi, pasti kita melalui proses dan tahapan.

Allah subhanahu wa ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Adil dalam setiap perbuatan-Nya. Semua perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala berkisar antara karunia dan sifat adil. Apabila Allah subhanahu wa ta’ala menunda atau menahan karunia-Nya dari salah seorang hamba-Nya, tidak berarti Dia zalim. Sebaliknya, kalau Allah subhanahu wa ta’ala memberikan apa yang diminta oleh seseorang, belum tentu hal itu karena Allah mencintainya.

3. Berdoa dengan bertawassul dengan berbagai tawassul yang disyariatkan

Secara bahasa, tawassul artinya sama dengan qurbah (taqarrub/pendekatan), ketaatan, dan semua yang digunakan untuk mencapai dan mendekati sesuatu. Jadi, ber-tawassul artinya mengerjakan suatu amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.[3]

Ar-Raghib al-Ashfahan rahimahullah menerangkan bahwa hakikat tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala ialah memerhatikan jalan-Nya, dengan ilmu dan ibadah serta menekuni syariat yang mulia, atau sama seperti qurbah.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ

 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (alMaidah: 35)

maksudnya, mendekatlah kepada Allah dengan cara menaati-Nya dan kerjakanlah semua yang membuat-Nya ridha.

Tawassul ada tiga jenis, yaitu:

  • Tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam berdoa dengan menyebut salah satu nama atau sifat-Nya.

Misalnya, dengan mengatakan,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ، أَنْ تُعَافِيَنِي

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, bahwa Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, agar Engkau memaafkan aku.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ

Hanya milik Allah asmaul husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (alA’raf: 180)

Di antara bentuk kesempurnaan keindahan (husna) nama-nama tersebut ialah tidaklah seseorang berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala melainkan dengan menyebut nama-nama tersebut. Oleh sebab itulah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “…maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Saya pernah duduk bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, sementara itu ada seorang sahabat sedang shalat lalu berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ. فَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ دَعَا اللهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dengan (meyakini) bahwa milik-Mu-lah segala pujian, tidak ada sembahan yang haq selain Engkau Yang Maha Memberi karunia, Maha Mencipta langit-langit dan bumi. Ya Dzal Jalali wal Ikram, Ya Hayyu Ya Qayyum.”

Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sungguh, dia telah berdoa kepada Allah dengan (menyebut) nama-Nya yang Mahaagung, yang apabila Allah diseru dengan menyebutnya, pasti Dia mengabulkan, dan apabila diminta dengan (menyebut) nama itu, pasti Dia memberinya.”[4]

  • Tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan amal saleh yang pernah dikerjakan oleh orang yang berdoa.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kisah tiga orang Bani Israil yang terkurung di dalam gua.

  • Tawassul dengan meminta doa orang saleh yang masih hidup, ada di hadapan, dan mendengar serta mengetahui perkataan orang yang ber-tawassul.

Termasuk di sini adalah tawassul para sahabat dengan doa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Seorang badui memasuki masjid pada saat Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam sedang berkhutbah pada hari Jumat. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta telah binasa dan jalan-jalan telah putus karena kurangnya hujan dan tanaman. Maka dari itu, berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan kepada kami’.”

Apabila doa itu disertai kehadiran hati (bersungguh-sungguh, tidak lalai, khusyuk) secara menyeluruh terhadap apa yang dibutuhkan, bertepatan dengan waktu yang mustajab, dipanjatkan dengan perasaan hina dan rendah serta sangat membutuhkan pertolongan dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala, ditambah dengan pengakuan atas dosa yang pernah dilakukan, sudah tentu doa seperti ini hampir tidak tertolak.

Jangan lupa pula menjauhi hal-hal yang menjadi sebab terhalangnya doa.

Wallahu a’lam.

[1] HR. al-Bukhari (8/92)(6339) dan Muslim (8/64) (2679)(8)(9). Lihat Fathul Bari (13/459).

[2] Tahdzib Madarijus Salikin (381).

[3] Lihat an-Nihayah (5/185), al-Qamus al-Muhith (hlm. 1379), dan al-Mishbahul Munir (hlm. 660).

[4] HR. Abu Dawud (no. 1497), dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani v.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + fifteen =