Aisyah bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anha

Aisyah bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anha

Oleh: Al-Ustadzah Hikmah

Siapa sih yang belum pernah mendengar nama Aisyah bintu Abi Bakr d? Tinta emas sejarah telah mengukir indah namanya. Kitab-kitab para ulama dan lisan-lisan para penghafal hadits Rasulullah n sudah pasti menyebut-nyebut namanya.

            Muslimah salehah tentu sangat rindu untuk lebih jauh mengenalnya. Tidak usahlah kita mengenal artis ini dan penyanyi itu karena hanya akan mengotori fitrah suci kita.

 

Lahir di Tengah Keluarga as-Sabiqunal Awwalun (Orang-orang yang Pertama Kali Masuk Islam)

Saudariku di jalan Allah….

Kira-kira pada tahun ke-6 kenabian lahirlah seorang bayi perempuan yang akan menjadi wanita mulia. Beliau adalah Ummul Mukminin Ummu ‘Abdillah Aisyah ash-Shiddiqah bintu Abi Bakr ash-Shiddiq at-Taimiyah[1]. Beliau lahir di tengah keluarga as-Sabiqunal Awwalun.

Ayah beliau adalah Abu Bakr Abdullah bin Utsman ash-Shiddiq (yang sangat membenarkan dan beriman kepada Rasulullah n dari awal dakwah beliau). Abu Bakr adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki[2]. Beliau pula orang yang paling dicintai oleh Rasulullah n dari kalangan laki-laki[3].

Ibu Aisyah adalah Ummu Ruman bintu ‘Amir bin ‘Uwaimir, sosok shahabiyah yang mulia[4]. Saudara dan saudari Aisyah adalah para sahabat Nabi yang mulia. Di antara mereka adalah Asma bintu Abi Bakr dan Abdurrahman bin Abi Bakr[5].

Menjadi Ummul Mukminin (Ibu Kaum Mukminin)

Pada bulan Syawwal tahun ke-11 dari kenabian, Aisyah menikah dengan Rasulullah n (baru akad). Ketika itu, Aisyah berusia 6 atau 7 tahun[6]. Tiga tahun kemudian, pada bulan Syawwal tahun 1 H, Rasulullah n membangun rumah tangga dengan Aisyah di Madinah. Usia Aisyah saat itu 9 tahun[7].

Aisyah mengisahkan, “Setelah kami datang di Madinah, aku sakit panas selama sebulan sehingga rambutku memanjang setelinga atau sekitar itu. Ketika aku sedang bermain ayunan bersama teman-teman kecilku, ibuku menghampiriku lantas berteriak. Aku pun mendatanginya tanpa tahu apa yang dia inginkan dariku. Ibuku menarik tanganku hingga nafasku terengah-engah.

Ibuku menyuruhku berhenti di depan pintu. Ternyata, sudah datang sejumlah wanita Anshar. Mereka mengucapkan,

عَلَى الْخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ وَعَلَى خَيْرِ طَائِرٍ

“Mudah-mudahan memperoleh kebaikan dan keberkahan dan mudah-mudahan mendapat nasib yang terbaik”

Ibuku menyerahkanku kepada mereka. Mereka pun mengeramasi rambutku dan meriasku.

            Tidak ada yang mengejutkanku selain kedatangan Rasulullah n pada saat itu di waktu dhuha. Wanita-wanita Anshar itu pun menyerahkanku kepada Rasulullah n[8].”

Demikianlah, pada usia Aisyah yang masih dini, Allah l telah menganugerahkan nikmat yang sangat besar kepada beliau, yaitu menjadi salah seorang ummahatul mukminin[9].

 

Hadir dalam Mimpi Rasulullah n Sebelum Menikah

            Aisyah berkisah, “Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Aku bermimpi melihatmu dalam tidurku selama tiga malam[10]. Malaikat mendatangiku sambil membawamu yang berselubung sepotong sutra (putih)[11] yang sangat indah[12]. Malaikat tersebut mengatakan, ‘Ini istrimu’. Aku menyingkap penutup wajahmu. Ternyata, yang ditutupi kain sutra itu adalah dirimu. Aku pun berdoa, ‘Jika ini dari sisi Allah, semoga Allah menjadikannya (kenyataan)’.” (HR. Muslim no. 2438)

Wanita Terfakih (yang Paling Paham akan Hukum-hukum Syariat Islam) secara Mutlak

Tatkala Nabi n wafat, Aisyah berumur sekitar delapan belas tahun. Pada usia remaja ini beliau telah menghafal ilmu yang sangat banyak, beliau menimbanya langsung dari Rasulullah n.

            Sepeninggal Nabi n, Aisyah hidup hingga mendekati usia lima puluh tahun. Murid beliau sangatlah banyak, baik dari kalangan lelaki maupun perempuan. Mereka menukil dari beliau berbagai bidang ilmu, seperti hukum-hukum dan adab-adab Islam. Sampai-sampai dikatakan bahwa seperempat hukum syariat dinukil dari Aisyah d[13].

            Hisyam bin ‘Urwah berkata, dari ayahnya, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih alim tentang fikih (hukum-hukum Islam), ilmu kesehatan, dan syair daripada Aisyah.”

            Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy’ari berkata, dari ayahnya, “Tidak ada suatu problem pun yang dialami oleh para sahabat Rasulullah n kemudian ditanyakan kepada Aisyah, melainkan kami dapatkan ilmunya dari beliau.”

Abu adh-Dhuha berkata, dari Masruq, “Aku melihat para pembesar sahabat Nabi n yang sudah senior; mereka bertanya kepada Aisyah tentang faraidh (ilmu waris).”

            Az-Zuhri berkata, “Seandainya ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu istri-istri Nabi n lainnya dan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah lebih banyak.”[14]

Dalam kitab-kitab mushthalah hadits, Aisyah termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Secara urut, mereka adalah:

1. Abu Hurairah

2. Aisyah

3. Anas bin Malik

4. Abdullah bin Abbas

5. Abdullah bin Umar

6. Jabir bin Abdillah al-Anshari

7. Abu Sa’id al-Khudri

8. Abdullah bin Mas’ud

9. Abdullah bin Amr bin al-‘Ash.[15]

Oleh karena itu, pantaslah beliau dijuluki oleh Ibnu Hajar—dalam Taqribut Tahdzib—sebagai wanita yang terfakih secara mutlak.

 

Di Antara Keutamaan Aisyah

1. Malaikat Jibril mengucapkan salam untuk Aisyah. Disebutkan dalam hadits bahwa Aisyah berkata, “Pada suatu hari Rasulullah n bersabda, ‘Wahai Aisyah, ini Jibril mengucapkan salam untukmu.’ Aku pun menjawab,

وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

‘Semoga keselamatan dilimpahkan atas Jibril, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya.’

‘Anda, wahai Rasulullah, melihat apa yang tidak saya lihat’.” (HR. al-Bukhari no. 3768)

2. Dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah n bersabda,

فَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

“Keutamaan Aisyah di atas seluruh wanita adalah bagaikan keutamaan tsarid dibandingkan dengan seluruh makanan. (HR. al-Bukhari no. 3769)

Tsarid adalah khubz (makanan yang terbuat dari tepung, sejenis roti tawar) yang lauknya daging.

 

Wafat Beliau

            Beliau wafat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada bulan Ramadhan tahun 58 H atau 57 H[16].

            Aisyah bintu Abi Bakr d, semoga Allah l meridhainya…

Referensi:

1. Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, “Bab Fadhlu Aisyah

2. Tahdzibut Tahdzib

3. Taqribut Tahdzib

4. Zadul Ma’ad “Fashl Fi Azwajihi

5. Siratur Rasul karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

6. Syarh Shahih Muslim lin Nawawi

7. Al-Ba’its al-Hatsits

8. dll



[1] Zadul Ma’ad “Fashl Fi Azwajihi”.

[2] Siratul Rasul.

[3] HR. al-Bukhari.

[4] Tahdzibut Tahdzib.

[5] HR. al-Bukhari.

[6] HR. Muslim no. 1422 dan al-Bukhari no. 3894.

[7] HR. Muslim no. 1422 dan al-Bukhari no. 3894.

[8] HR. al-Bukhari no. 3894 dan Muslim no. 1422.

[9] QS. al-Ahzab.

[10] Dalam sebuah hadits disebutkan dengan lafadz, “…dua kali.”

[11] Ta’liq Zadul Ma’ad cet. Muassasah ar-Risalah.

[12] An-Nihayah.

[13] Fathul Bari “Bab Fadhl Aisyah” hadits no. 3768—3775.

[14] Tahdzibut Tahdzib “Biografi Aisyah”.

[15] Al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulumil Hadits, karya Ibnu Katsir.

[16] Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari “Bab Fadhlu Aisyah”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 7 =