Asiah, Istri Fir’aun – Cinta Berbuah Hidayah

kisah-03Al-Ustadz Idral Harits

Kekejaman Fir’aun

Suatu ketika, Fir’aun bermimpi melihat api menjalar dari Baitul Maqdis menuju Mesir dan membakar rumah orang-orang Qibti (penduduk asli Mesir). Esok harinya, Fir’aun menceritakan mimpinya kepada para pembesar dan dukun-dukun ahli di istananya. Jawaban yang diterimanya adalah bahwa akan ada seorang anak laki-laki dari Bani Israil yang akan meruntuhkan kerajaannya.

Mengetahui tafsir mimpinya, Fir’aun memberi perintah agar semua anak laki-laki Bani Israil dibunuh. Para prajurit segera melaksanakan perintah yang keji ini. Akhirnya, terbunuhlah ribuan anak laki-laki di kalangan Bani Israil. Demikianlah menurut sebagian ahli sejarah.

Yang lain menceritakan, orang-orang Bani Israil sering bercerita satu sama lain tentang pesan-pesan bapak moyang mereka, Ibrahim , bahwa akan ada dari mereka yang menjadi sebab runtuhnya kerajaan Fir’aun. Cerita ini terdengar juga oleh sebagian orang Qibti.

Tidak lama setelah itu, cerita tersebut sampai juga ke telinga Fir’aun dan para pembesarnya. Akhirnya, Fir’aun memerintahkan agar semua anak laki-laki Bani Israil dibunuh, sedangkan yang perempuan dibiarkan tetap hidup.

Dalam situasi mencekam itu, di salah satu pinggiran Sungai Nil lahirlah seorang bayi suci dari keluarga ‘Imran. Bayi itu begitu tampan, menyenangkan, dan membuat siapa saja yang melihatnya jatuh cinta kepadanya.

Alangkah takutnya sang ibu yang masih lemah itu begitu mengetahui bahwa bayinya adalah laki-laki. Namun, bertambah pula kecintaannya melihat keadaan bayi tersebut. Dia menyusui bayi itu dengan penuh kasih sayang sambil memikirkan cara menyelamatkan bayi tersebut dari incaran Fir’aun dan tentaranya.

Allah subhanahu wa ta’ala mengilhamkan kepadanya agar menyembunyikan bayi itu di dalam sebuah peti dan meletakkannya di sungai. Demikianlah keadaan bayi suci itu. Setiap hari sang ibu masih menyusuinya. Namun, ketika khawatir ada bahaya mengancam, dia segera menyembunyikan bayinya dalam peti itu dan meletakkannya di sungai. Beberapa kali upaya sang ibu berhasil. Peti itu terikat kencang di sebuah kayu di pinggir sungai.

Namun, kehendak Allah subhanahu wa ta’ala mendahului kehendak siapa pun. Apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi tanpa ada yang bisa mengelak ataupun menolak. Sebaliknya, apa saja yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi, bagaimanapun cermat dan maksimal usaha serta perhitungan manusia.

Apabila Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan sesuatu, Dia mudahkan pula sebab-sebabnya.

Dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala pula, sang ibu lupa mengikat kembali peti tempat menyimpan bayinya. Akhirnya, peti itu dengan perlahan-lahan mulai hanyut mengikuti aliran Sungai Nil.

Ketika sang ibu menyadarinya, ternyata peti itu sudah jauh dan lenyap dari pandangan mata. Meskipun cemas dan sedih, sang ibu tidak panik, karena yakin akan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau memerintah saudari Nabi Musa ‘alaihissalam mengikuti ke arah mana peti itu meluncur.

Dengan sembunyi-sembunyi, gadis itu berjalan sambil memerhatikan peti tempat adiknya itu.

Allahu Akbar.

Alangkah terperanjatnya ketika melihat peti itu ternyata mendekati salah satu istana Fir’aun yang ada di tepian Sungai Nil. Dengan cepat sambil mengendap-endap, dia pulang memberi tahu ibunya di mana adiknya berada.

Begitu mengetahui putranya sekarang di tangan keluarga kerajaan, hati sang ibu mulai goyah. Kasih sayang seorang ibu yang ada dalam hatinya mendorongnya untuk berangkat ke istana menyelamatkan putranya. Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala meneguhkan hatinya dan mengilhamkan bahwa Dia akan mengembalikan anak itu ke pangkuannya.

Perlahan-lahan, hati sang ibu mulai tenang. Dia pun berdoa agar Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan putranya. Hatinya pasrah dan tunduk kepada Allah.

Dalam Asuhan Keluarga Istana

Fir’aun dan istrinya yang sedang santai bersama beberapa dayang istana di tepian Sungai Nil melihat sebuah peti berayun-ayun mengikuti arus air mendekati istananya. Fir’aun memerintah para dayang mengambil peti tersebut.

Para dayang dengan segera mengambil peti itu dan menyerahkannya kepada istri Fir’aun. Mereka tidak berani lancang mendahului membuka peti tersebut.

Peti itu dibuka oleh Asiah, istri Fir’aun.

Aduhai….

Alangkah kagetnya sang permaisuri. Ternyata di dalam peti itu ada sosok bayi yang tampan dan sangat menyenangkan. Seketika, Asiah jatuh cinta melihat bayi itu. Dengan lembut dan penuh kasih sayang dia menggendong bayi itu lalu mendekapnya dan menciuminya.

Bukan kepalang kagetnya Fir’aun melihat istrinya mendekap seorang bayi. Jangan-jangan itu salah satu bayi Bani Israil yang bisa jadi dialah yang akan menjadi sebab kehancuran kerajaannya. Fir’aun pun segera mendekati istrinya dan meminta bayi tersebut. Dia memberikan alasan mengapa dia meminta bayi itu.

Akan tetapi, Asiah membujuknya dengan lembut, “Biarkanlah anak ini. Dia adalah penyejuk mata buat saya dan buat Paduka. Mudah-mudahan dia berguna bagi kita, atau bisa kita angkat sebagai anak.”

Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa Fir’aun menolak, “Buatmu, bukan buatku.”

Sambil menyimpan marah dan curiga, Fir’aun membiarkan istrinya menimang-nimang Musa ‘alaihissalam.

Sejak saat itu, Musa ‘alaihissalam tinggal dalam asuhan keluarga istana kerajaan, bahkan di bawah pengawasan dan kasih sayang istri Fir’aun.

Karena lama tidak menyusu, Musa mulai merasa lapar. Ia pun menangis. Asiah kebingungan, ada apa dengan anak angkatnya ini. Dengan lembut dia menggendong bayi tersebut dan menghiburnya. Akan tetapi, bayi itu tidak berhenti menangis.

Beberapa dayang dipanggil, mungkin bayi itu ingin menyusu. Karena tidak mempunyai anak, Asiah tidak dapat menyusui bayi itu. Ternyata, bayi itu tidak mau menyusu kepada dayang-dayang tersebut. Akhirnya, dicarilah wanita-wanita di luar istana untuk menyusukan bayi tersebut.

Ternyata, tidak seorang pun yang berhasil menyusui bayi itu.

Asiah hampir putus asa melihat ‘bayi’nya tidak mau menyusu kepada wanita-wanita tersebut. Pada saat itulah saudari Nabi Musa berhasil mendekat ke istana. Mengetahui apa yang terjadi, dia memberanikan diri berbicara dengan Asiah. Katanya, “Maukah Paduka saya tunjukkan satu keluarga yang mungkin dapat menyusui ‘bayi’ Paduka dan memeliharanya dengan sebaik-baiknya?”

Asiah menyetujui usul gadis itu. Akhirnya, diundanglah wanita yang akan menyusui bayi itu ke istana. Tidak lama kemudian, wanita yang sebetulnya adalah ibunda Nabi Musa sendiri tiba di istana. Dengan hati yang masih diliputi kecemasan dan kesedihan, dia memasuki istana.

Musa pun diserahkan kepada ibunya sendiri. Begitu mencium bau ibunya, Nabi Musa segera menyusu dengan lahap. Sambil menyimpan kebahagiaan, sang ibu pun menyusui putranya dengan penuh kasih sayang. Tidak ada seorang pun melihat betapa bahagia sang ibu bertemu kembali dengan putranya.

Setelah puas menyusu, Nabi Musa dikembalikan ke istana dan diasuh sendiri oleh Asiah. Adapun Fir’aun, masih tetap curiga dan tidak senang melihat keadaan bayi itu tumbuh semakin sehat, bahkan menyenangkan sebetulnya.

Suatu ketika, Fir’aun mencoba menerima tawaran istrinya untuk menggendong Musa yang masih bayi. Begitu berada di pangkuan Fir’aun, Musa memegang janggut Fir’aun dan menariknya dengan kuat. Fir’aun tersentak kaget dan kesakitan. Dengan cepat dia menghunus pedangnya untuk membunuh Musa.

Asiah yang ada di situ terkejut dan menahan tangan Fir’aun sambil membujuk, “Tenanglah, Paduka, dia masih bayi, belum tahu apa-apa. Cobalah Paduka mengujinya.”

Fir’aun menerima perkataan istrinya. Diambilnya sebongkah bara api dan sepiring makanan, lalu disodorkannya ke hadapan bayi tersebut. Nabi Musa yang melihat ada bara api dan makanan di depannya segera mendekat. Dia mengambil bara api dan memasukkannya ke mulutnya. Tentu saja dengan seketika ia menjerit kesakitan dan menangis.

Kemarahan Fir’aun mulai luntur. Sejak saat itu, hilanglah kecurigaannya terhadap bayi tersebut.

Sejak saat itu pula, bayi yang seharusnya dibunuh oleh Fir’aun itu hidup dan tumbuh sehat dengan kasih sayang dan perhatian keluarga istana, termasuk Fir’aun. Semakin bertambah pula kecintaan Asiah kepada anak angkatnya, Musa ‘alaihissalam.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan, selama tiga puluh tahun hidup di istana dan diasuh keluarga kerajaan, Nabi Musa lebih akrab dipanggil dengan Musa putra (bin) Fir’aun.

Tidak ada keterangan pasti tentang bagaimana Nabi Musa mengetahui ihwal dirinya, bahwa beliau bukan anak kandung Fir’aun. Akan tetapi, itu tidak penting. Yang jelas, Allah subhanahu wa ta’ala memaparkan bahwa akhirnya Nabi Musa mengetahui siapa dia sesungguhnya.

Syahdan, suatu ketika, pada siang hari yang terik, di salah satu sudut kota, dua orang laki-laki bertikai. Kedua lelaki itu berbeda status dan sukunya. Yang satu dari Bani Israil, sedangkan lawannya adalah bangsa Qibti. Nabi Musa yang melihat mereka berkelahi segera saja mendekat.

Laki-laki Bani Israil itu, yang ternyata sudah mengetahui pula bahwa Musa adalah saudaranya sebangsa, segera meminta tolong kepada Nabi Musa. Mendengar teriakan saudaranya sebangsa itu, Nabi Musa segera memukul orang Qibti tersebut. Pukulan itu menyebabkan orang Qibti itu terlempar lalu mati.

Nabi Musa terkejut dan cemas sekaligus menyesal, “Sungguh, ini adalah perbuatan setan, dan sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata.”

Setelah itu, beliau berdoa sebagaimana dalam firman Allah l,

ﮋ ﮇ ﮈ ﮉ     ﮊ ﮋ ﮌ     ﮍ ﮎ     ﮏﮐ ﮑ     ﮒ     ﮓ     ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ   ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ     ﮝ ﮞ   ﮟ ﮊ

“Musa berdoa, ‘Duhai Rabbku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku.’ Allah pun mengampuninya. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Musa berkata, ‘Duhai Rabbku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa’.” (al-Qashash: 16—17)

Sejak kejadian itu, mulai timbul rasa khawatir dalam diri Nabi Musa. Selama beberapa waktu beliau bersembunyi, khawatir ditangkap oleh tentara Fir’aun. Namun, suatu ketika beliau melihat kembali saudaranya sebangsa yang kemarin bertikai dengan orang Qibti, kini terlibat lagi dalam perkelahian dengan orang Qibti lainnya.

Begitu melihat Nabi Musa, dia meminta tolong kepada beliau, tetapi Nabi Musa menegurnya, “Sungguh, kamu betul-betul penyeleweng yang nyata.”

Nabi Musa mendekati orang Qibti yang ketakutan itu dan hendak memukulnya. Orang Qibti itu berkata, “Hai Musa, apakah engkau hendak membunuhku seperti yang kaulakukan kemarin? Sungguh, engkau hanya ingin berbuat kerusakan dan tidak ingin berbuat kebaikan.”

Tiba-tiba, dari arah kota, seseorang terlihat berjalan menuju ke arah mereka. Dia berkata, “Hai Musa, para pembesar bersepakat hendak menangkap dan membunuhmu. Pergilah! Sungguh, aku benar-benar memberi nasihat buatmu.”

Akhirnya, Nabi Musa pergi meninggalkan Mesir tanpa membawa bekal sedikit pun. Tidak sempat pula ia pamit kepada ibu angkatnya.

Asiah tentu saja mendengar apa yang menimpa anak angkatnya, tetapi tidak berdaya untuk menentang keputusan Raja. Hatinya sedih berpisah dengan anak angkatnya yang pergi tanpa sempat berpamitan dengannya.

Sepuluh tahun kemudian….

Setelah menerima wahyu pertama di lembah suci Thuwa, Nabi Musa mempercepat perjalanannya menuju tanah kelahirannya, Mesir.

Sebulan lamanya beliau menembus padang pasir, melintasi bukit dan lembah, dari Madyan di Jazirah Arab sampai Mesir di Benua Afrika. Akhirnya, musafir agung ini tiba di tanah kelahirannya bersama keluarganya.

Tidak lama berkumpul dengan sanak kerabat, beliau menyampaikan bahwa beliau menerima perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala agar bersama Harun, saudara kandungnya, menemui Fir’aun dan mengajaknya kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Akhirnya, berangkatlah keduanya menuju istana.

Ringkas cerita, meskipun dakwah beliau ditentang oleh hampir seluruh pembesar dan keluarga istana, ternyata ada juga yang menyambut seruan mulia tersebut. Asiah, ibu angkat beliau, segera menerima dakwah beliau meskipun harus menyembunyikan keimanannya dari suaminya. Begitu pula salah seorang pembesar istana, yang menurut sebagian sejarawan, bernama Hazqil. Akan tetapi, Hazqil juga menyembunyikan keimanannya dari Fir’aun dan tentaranya.

(Insya Allah bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − eighteen =