Berhias Kemuliaan Dalam Bingkai Kesabaran

Berhias Kemuliaan Dalam Bingkai Kesabaran

Oleh: Al-Ustadz Marwan

“Bersabarlah, Saudariku.”

Itulah ungkapan singkat penuh nasihat dari seorang sahabat dekat, yang menjadi penyejuk jiwa ketika seseorang tertimpa musibah atau hal-hal yang tidak disukai jiwa. Demikian pula ungkapan-ungkapan semisal yang biasa terucap dari lisan orang-orang di sekitar sebagai hiburan saat musibah menimpa. Dengannya, terasa ringanlah keadaan pahit yang sedang dialami, terlebih jika orang yang mendengar nasihat kesabaran itu benar-benar memahami makna, keutamaan, dan balasan yang dijanjikan oleh Rabb-nya bagi orang-orang yang sabar.

الصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Kesabaran adalah cahaya yang sangat terang.”

Demikian sabda Rasulullah n dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Malik al-Harits bin ‘Ashim al-Asy’ari z.

Rasulullah n menyebut kesabaran sebagai dhiya’; maknanya adalah cahaya yang mengandung panas dan mampu membakar, sebagaimana cahaya matahari. Berbeda halnya dengan cahaya bulan yang tidak mengandung panas dan tidak membakar. Allah l berfirman,

ﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ    ﯛ  ﯜ  ﯝ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar terang dan bulan bercahaya.” (Yunus: 5)

Kesabaran sangat berat dirasakan oleh jiwa. Seseorang harus berupaya keras untuk memerangi, menahan, dan mencegah jiwa dari hawa nafsu. Oleh karena itulah, Rasulullah n mengistilahkan kesabaran sebagai dhiya’, yaitu cahaya yang mengandung panas dan membakar.

Beberapa Keutamaan Sabar

Kesabaran adalah akhlak mulia. Di dalam al-Qur’an, Allah l menyebutkan ayat-ayat yang berkaitan dengan keutamaan orang-orang yang sabar. Di antaranya adalah:

1.     Dengan kesabaran, Allah l menjanjikan keberuntungan bagi seorang hamba.

Allah l berfirman,

ﮋ ﯪ  ﯫ  ﯬ  ﯭ   ﯮ  ﯯ  ﯰ  ﯱ  ﯲ  ﯳ  ﯴ   ﮊ

 “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian), dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Ali ‘Imran: 200)

2.     Allah menyediakan pahala yang berlipat ganda tanpa batas bagi orang-orang yang sabar.

Allah l berfirman,

ﰓ   ﰔ   ﰕ  ﰖ  ﰗ  ﰘ  ﰙ

 “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(az-Zumar: 10)

3.     Allah l bersama orang-orang yang bersabar.

ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺ  ﯻ

 “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 153)

Kemuliaan Memiliki Akhlak Sabar

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t mengatakan, “Kesabaran ada tiga macam: kesabaran di atas ketaatan kepada Allah l sehingga seseorang menunaikan amalan ketaatan tersebut; kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah sehingga seseorang meninggalkan kemaksiatan tersebut; dan kesabaran atas takdir Allah l yang menyakitkan sehingga seseorang tidak murka atas takdir-Nya tersebut.

Kesabaran adalah penolong besar dalam segala urusan. Oleh karena itu, bagi orang yang tidak memiliki kesabaran, tidak ada jalan untuk mencapai kehendaknya, terkhusus pada amalan-amalan ketaatan yang berat dan bersifat terus-menerus. Sebab, amalan-amalan tersebut sangat membutuhkan kesabaran dan kemauan merasakan kepahitan yang dahsyat. Oleh karena itu, apabila pelaku amalan tersebut terus bersabar, ia akan memperoleh kemenangan. Sebaliknya, apabila keadaan yang dia benci dan perasaan berat yang dia rasakan memalingkannya dari kesabaran, dia tidak akan memperoleh sesuatu pun, bahkan terhalangi dari mendapatkan apa yang dia kehendaki (dari amalan ketaatan tersebut).

Demikian juga halnya kemaksiatan. Bisikan-bisikan dan penentang-penentang jiwa sangat kuat menyeru kepada kemaksiatan, sedangkan jiwa itu sendiri berada di bawah kekuasaan hamba. Tidak mungkin jiwa mampu meninggalkan kemaksiatan selain dengan kesabaran yang besar, dengan menekan bisikan dan penentang jiwa tersebut karena Allah l, serta dengan memohon pertolongan kepada Allah agar dipelihara dari berbagai kemaksiatan tersebut.”

Beliau t juga mengatakan, “Anda pun mengetahui bahwa kesabaran itu senantiasa dibutuhkan oleh hamba, bahkan sangat dia butuhkan dalam semua keadaan. Maka dari itu, Allah memberikan perintah untuk bersabar. Allah l juga mengabarkan bahwa Dia bersama orang-orang yang bersabar. Artinya, Allah l bersama orang-orang yang memiliki akhlak dan sifat sabar. Allah memberi mereka pertolongan, taufik, dan petunjuk. Oleh karena itu, menjadi ringanlah berbagai keberatan dan musibah, terasa mudahlah setiap urusan besar, dan hilanglah segala urusan yang sulit. Inilah kebersamaan Allah secara khusus yang mengandung konsekuensi kecintaan, pertolongan, dan bantuan-Nya, serta kedekatan dengan-Nya. Demikianlah keutamaan yang agung bagi orang-orang yang sabar.

Seandainya orang-orang yang sabar itu tidak memperoleh keutamaan selain mendapatkan kebersamaan dari Allah l, cukuplah hal ini sebagai keutamaan dan kemuliaan.”

Kesabaran adalah Urusan yang Diutamakan

Allah l telah menjadikan kesabaran terhadap segala keadaan sebagai salah satu perkara yang diutamakan. Allah l berfirman,

ﮋ ﯹ  ﯺ  ﯻ   ﯼ  ﯽ  ﯾ   ﯿ  ﰀ   ﰁ  ﮊ

 “Akan tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (asy-Syura: 43)

Allah l berfirman mengisahkan wasiat Luqman kepada putranya,

ﮋ ﯤ  ﯥ    ﯦ  ﯧ   ﯨ  ﯩ  ﯪ  ﯫ      ﯬ  ﯭ  ﯮ  ﯯﯰ  ﯱ   ﯲ   ﯳ     ﯴ  ﯵ    ﯶ  ﮊ

 “Hai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Luqman: 17)

Di antara wasiat Luqman kepada putranya adalah yang tersebut dalam ayat di atas.

Dituturkan oleh asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t, “Ia (Luqman) memerintah putranya untuk menegakkan shalat karena shalat termasuk ibadah terbesar yang dilakukan oleh badan. ‘Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar’, hal ini mengandung konsekuensi untuk seseorang mengetahui yang ma’ruf supaya bisa memerintahkannya dan mengetahui yang mungkar supaya bisa mencegahnya.

Memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar akan sempurna apabila disertai kelemahlembutan dan kesabaran. Allah l dengan jelas menyatakan hal ini pada lanjutan ayat tersebut,

ﯬ  ﯭ  ﯮ  ﯯﯰ  ﯱ   ﯲ   ﯳ     ﯴ  ﯵ    ﯶ

 Bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu termasuk perkara-perkara yang diutamakan.(Luqman: 17).”

Wallahu ta’ala a’lam.

Referensi:

– al-Qur’anul Karim

– Taisirul Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t

Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali t

‘Uddatu ash-Shabirin, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah t

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 2 =