Berikanlah Maaf, Harapkanlah Ampunan

adab-09Al-Ustadz Marwan

Kelapangan dada untuk memberikan maaf kepada orang yang berbuat salah hanya dimiliki oleh seseorang yang berakhlak luhur. Memberikan maaf lebih dari sekadar menahan kemarahan. Sebab, memberikan maaf berarti memberikan toleransi atas tindakan jelek orang lain dan tidak memberikan hukuman untuk membalas kejelekan orang tersebut, bahkan tidak merasa marah.

Memberikan maaf adalah sifat yang dimiliki oleh golongan orang yang banyak berbuat kebajikan (muhsinin), sebagaimana termaktub dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

“…orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 134)

 

Termasuk Kebajikan yang Luhur

Telah disebutkan bahwa kelapangan dada untuk memberikan maaf kepada orang lain adalah salah satu sifat orang-orang yang banyak berbuat kebajikan. Saat Anda dizalimi oleh seseorang yang menurut Anda layak dimaafkan, lalu Anda berlapang dada dengan memberikan maaf kepadanya, pemberian maaf tersebut adalah kebajikan yang sangat luhur dan terpuji.

Akan tetapi, apabila orang yang menzalimi Anda itu tidak selayaknya dimaafkan, pemberian maaf untuknya justru tidak terpuji. Sebagai misal, seseorang berbuat zalim kepada Anda, dengan memukul, mengambil harta, atau menghina Anda. Ketika Anda memaafkannya, ia justru semakin berbuat zalim dan semakin berani memusuhi Anda. Pada saat seperti ini, tidak selayaknya ia diberi maaf, bahkan yang lebih utama adalah Anda menuntut hak-hak Anda. Sebab, pemaafan pada keadaan tersebut tidak menimbulkan perbaikan dan bukan sikap yang bijak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَجَزَٰٓؤُاْ سَيِّئَةٖ سَيِّئَةٞ مِّثۡلُهَاۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ٤٠

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Maka dari itu, barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (asy-Syura: 40)

 

Lebih Baik Memaafkan

Suka memberikan maaf termasuk akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dari jalan Abu ‘Abdillah al-Jadali, dia berkata, “Saya bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang perangai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ‘Aisyah menjawab, ‘Beliau bukanlah orang yang berkata dan berbuat tidak senonoh, bukan orang yang sengaja berkata dan berbuat tidak senonoh, bukan orang yang berteriak-teriak di pasar, bukan pula orang yang ketika diperlakukan jelek oleh orang lain, ia membalasnya. Akan tetapi, beliau memberikan maaf dan toleransi.”

Dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang wanita Yahudi mendatangi Nabi n dan menghidangkan daging kambing yang telah dibubuhi racun, lalu Nabi memakan sebagiannya. Setelah para sahabat mengetahui hal ini, ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidakkah kita bunuh saja wanita ini?” Nabi pun menjawab, “Jangan!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam al-Bukhari, di dalam al-Adabul Mufrad, meletakkan hadits ini dalam “Bab Memberikan Maaf dan Toleransi kepada Manusia”.

Di dalam hadits di atas nyata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memaafkan si wanita Yahudi yang jelas-jelas telah berbuat zalim dengan berupaya membunuh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sifat luhur yang tecermin pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh, pada diri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat suri teladan yang baik.

Akan tetapi, ketika seseorang yang dizalimi mengambil haknya, yaitu menuntut balasan yang setimpal bagi orang yang telah menzaliminya, hal ini tidak bisa dikatakan sebagai kezaliman. Sebaliknya, hal itu adalah hak yang boleh ditunaikan selama tidak melampaui batas. Hanya saja, ketika ia berlapang dada dengan memaafkan orang yang menzaliminya, hal ini lebih utama.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

۞ذَٰلِكَۖ وَمَنۡ عَاقَبَ بِمِثۡلِ مَا عُوقِبَ بِهِۦ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيۡهِ لَيَنصُرَنَّهُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٞ ٦٠

“Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (al-Hajj: 60)

Allah juga berfirman,

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ هُمۡ يَنتَصِرُونَ ٣٩ وَجَزَٰٓؤُاْ سَيِّئَةٖ سَيِّئَةٞ مِّثۡلُهَاۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ٤٠

“… dan (bagi) orang-orang yang apabila diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri. Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (asy-Syura: 39—40)

Maaf tidak mutlak diberikan pada setiap keadaan. Apabila maaf itu diberikan, misalnya, kepada para pemberontak pemerintah, mereka justru akan menganggap pemaafan itu sebagai kelemahan pemerintah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُواْ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ فَإِن فَآءَتۡ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَا بِٱلۡعَدۡلِ وَأَقۡسِطُوٓاْۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ٩

“Jika dua golongan dari orang-orang yang beriman itu berperang, damaikan antara keduanya. Kalau salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (al-Hujurat: 9)

Betapa banyak orang zalim yang jika dibiarkan, ia semakin berbuat zalim.

Rasulullah pernah mendoakan kejelekan untuk suatu kaum, dan pada keadaan yang lain, beliau mendoakan kebaikan bagi kaum yang lain.

 

Lihatlah, Siapa yang Anda Beri Maaf

Ketika memaafkan orang lain, hendaklah Anda memerhatikan apakah pemaafan tersebut akan memperbaiki keadaan orang yang telah berbuat zalim, atau justru akan membuatnya semakin berbuat kerusakan dan kezaliman. Jika pemaafan itu menimbulkan kebaikan dan memadamkan fitnah/kejelekan, tempuhlah jalan pemaafan tersebut. Namun, apabila pemaafan itu justru menjadikannya semakin berbuat zalim kepada hamba yang lain, ambillah jalan qishash atau lakukanlah pembelaan diri dengan memberikan balasan atas kezaliman tersebut. Akan tetapi, balasan tersebut tidak boleh melampaui batas kezaliman yang diperbuat terhadapnya. Jadi, lihatlah, siapa yang Anda maafkan.

 

Hiasi Muamalah Anda dengan Perangai Suka Memaafkan dan Sabar atas Segala Gangguan

Allah  berfirman,

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ ١٩٩

“Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (al-A’raf: 199)

Pada ayat ini terkumpul akhlak mulia dan hal-hal yang seyogianya dilakukan di dalam bermuamalah dengan sesama. Salah satunya adalah senantiasa menjadi pemaaf.

Di dalam riwayat yang panjang, yang dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim, ‘Aisyah  berkisah bahwa dia bertanya kepada Nabi n, “Pernahkah Anda mengalami penderitaan yang lebih berat daripada peristiwa Perang Uhud?” Beliau n menjawab, “Sungguh, aku telah mengalami penderitaan yang dahsyat karena perbuatan kaummu, dan yang paling berat adalah pada Hari ‘Aqabah. Pada saat itu, aku meminta bantuan (untuk menegakkan Islam) kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdi Kulal, tetapi ia tidak menyambut permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah yang penuh kesedihan.”

“Tanpa kusadari, aku sudah berada di Qarnu ats-Tsa’alib. Kuangkat kepalaku, ternyata kudapati awan menaungiku. Setelah kuperhatikan, ternyata di awan tersebut ada Malaikat Jibril. Ia memanggilku dan mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah mendengar celaan dan tanggapan buruk kaummu kepadamu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung kepadamu. Ia akan melaksanakan apa saja yang engkau perintahkan kepadanya untuk membinasakan mereka’.”

“Malaikat penjaga gunung itu pun memanggilku, mengucapkan salam kepadaku, lalu berucap, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu. Aku adalah malaikat penjaga gunung. Allah telah mengutusku untuk menemuimu dan melaksanakan apa saja yang engkau perintahkan. Apa yang engkau kehendaki? Jika engkau menghendaki, akan kutimpakan kepada mereka kedua gunung ini (Abu Qubais dan al-Ahmar)’.”

Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku justru berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka ini orang-orang yang akan beribadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Sisi pendalilan dari kisah tersebut adalah bahwa Nabi n adalah manusia yang mengalami gangguan paling berat dari kaumnya. Akan tetapi, dalam keadaan seperti itu, beliau n tetap memaafkan mereka dan memiliki harapan yang besar terhadap mereka. Beliau berharap, semoga dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikianlah, seyogianya seseorang bersabar atas segala gangguan, terutama ketika dia memperjuangkan agama Allah subhanahu wa ta’ala. Hendaklah ia bersabar, berharap, dan menunggu pertolongan dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Sungguh, Nabi n menyabdakan, “Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran; bersama kesusahan ada kelapangan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.”

Saudariku, rahimakumullah…. Berbagai cobaan pasti akan dihadapi ketika seseorang menegakkan sunnah-sunnah Rasulullah, karena hal itu adalah sunnatullah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabut: 1—3)

Seseorang diuji agar diketahui kejujurannya dalam hal menjalankan agama Allah subhanahu wa ta’ala. Manusia ditimpa berbagai ujian dan cobaan, kesusahan dan kemudahan, kekayaan dan kemiskinan, dan sebagainya. Kalau mereka tetap kokoh di atas keimanan dan tetap istiqamah di atas syariat Allah subhanahu wa ta’ala, hal ini menunjukkan kejujuran iman mereka. Akan tetapi, ketika berbagai keadaan tersebut menyebabkan mereka tidak kokoh di atas keimanan, dan justru menyebabkan mereka melakukan berbagai kemaksiatan dan dosa atau berpaling dari kewajiban-kewajiban syariat Allah, hal ini menunjukkan kedustaan iman mereka. Keadaan manusia berbeda-beda derajatnya dalam masalah ini. Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semoga Dia mengokohkan kita semua dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat, dan mengokohkan hati kita di atas agama-Nya.

Saudariku, rahimakumullah…. Sejak mengenal pemahaman agama yang benar, kemudian mengenal berbagai kewajiban yang harus ditegakkan, yaitu kewajiban meyakini akidah yang benar dan kewajiban lain yang ditetapkan oleh syariat (seperti memakai hijab yang syar’i, tidak melakukan safar kecuali bersama mahram, menjauhi ikhtilath, menjaga akhlak-akhlak mulia, dan selainnya), Anda pasti mendapat ujian padanya.

Hanya dengan senantiasa memohon kekuatan dan bimbingan dari Allah subhanahu wa ta’ala-lah seseorang akan mampu menghadapi gangguan seberat apa pun. Kalau seorang wanita muslimah mampu menghadapi berbagai ujian yang menimpanya, sungguh, derajat yang tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala akan diraihnya. Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa bersama orang-orang yang bersabar, dan Dia tidak menyia-nyiakan orang-orang yang berbuat kebaikan.

 

Berikan Maaf, Harapkan Ampunan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ٢٢

“… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nur: 22)

Terkait dengan ayat ini, asy-syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di v mengatakan, “Termasuk orang-orang yang ikut berbicara pada Haditsul Ifk (tuduhan dusta bahwa ‘Aisyah terjatuh dalam perbuatan yang tidak senonoh, pen.) adalah Misthah bin Utsatsah , kerabat Abu Bakr ash-Shiddiq. Misthah adalah orang fakir dari kalangan Muhajirin di jalan Allah.

Ketika mendengar ucapan Misthah, Abu Bakr ash-Shiddiq bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepadanya. Kemudian, turunlah ayat ini. Allah melarang bersumpah dengan sumpah tersebut, yaitu sumpah yang mengandung pemutusan pemberian nafkah. Selain itu, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk memberikan maaf dan berlapang dada. Dia juga menjanjikan ampunan bagi orang yang memberikan maaf. Maksudnya, jika engkau bermuamalah dengan senantiasa memberikan maaf dan berlapang dada, Allah akan membalasmu dengan ampunan.

Ketika Abu Bakr mendengar ayat tersebut, beliau berkata, ‘Bahkan, demi Allah, sungguh, aku suka jika Allah subhanahu wa ta’ala mengampuniku.’ Akhirnya, Abu Bakr kembali memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah.”

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − ten =