Fathimah Bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wassalam

figur-mulia-10Al-Ustadzah Hikmah

Fathimah Bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wassalam, Pemimpin Para Wanita Penghuni Surga (Bagian ke-1)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dikaruniai beberapa putra dan putri. Mereka adalah al-Qasim, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, dan ‘Abdullah, yang lahir dari Ummul Mukminin Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Rasulullah juga dikaruniai seorang putra dari budak wanita beliau yang bernama Mariyah al-Qibthiyyah. Putra beliau tersebut diberi nama Ibrahim.

Mereka semua telah wafat sebelum wafatnya sang ayah, kecuali Fathimah. Namun, Fathimah pun menyusul sang ayahanda hanya enam bulan sepeninggal beliau.

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim, dalam Zadul Maad (1/100), menegaskan bahwa Fathimah adalah putri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang paling banyak memiliki keutamaan.

Di antara keutamaannya adalah menjadi pemimpin para wanita penduduk surga, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. (HR. al-Bukhari “Bab Manaqib Qarabati Rasulillah”, lihat Fathul Bari 8/673)

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan keutamaan Fathimah, “Para istri Rasulullah sedang berkumpul di sisi beliau, tidak ada satu pun yang tertinggal. Tidak lama kemudian, datanglah Fathimah, putri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, berjalan persis seperti cara jalan ayahnya. Sang ayahanda pun menyambutnya sembari menyapa, ‘Marhaban (selamat datang dengan penuh kebahagiaan), wahai Putriku!’

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pun mempersilakan Fathimah untuk duduk di sebelah kanan atau kiri beliau, lantas membisikkan sebuah rahasia ke telinga Fathimah. Seketika itu pula Fathimah menangis dengan tangis yang sangat memilukan. Ketika Rasulullah melihat kesedihan Fathimah, beliau kembali berbisik. Serta-merta Fathimah tertawa penuh kebahagiaan.

Tanpa bisa ditahan lagi, aku langsung bertanya kepada Fathimah, ‘Rasulullah mengkhususkanmu dengan sebuah rahasia (yang tidak diketahui oleh) istri-istri beliau, kemudian kamu menangis. Apa yang menyebabkanmu menangis?’

Fathimah tidak menjawab sepatah kata pun.

Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sudah beranjak dari tempat tersebut, aku kembali mengulangi pertanyaanku kepada Fathimah, ‘Apa yang dikatakan Rasulullah kepadamu?’

‘Aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,’ sahut Fathimah.

Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah wafat, aku tidak menyerah, tetap ingin mengetahui rahasia yang dibisikkan oleh Rasulullah kepada putri beliau ini. Aku pun bertanya kepada Fathimah, ‘Aku benar-benar bertanya kepadamu dan kamu benar-benar harus menceritakannya kepadaku. Apakah yang dahulu dikatakan oleh Rasulullah kepadamu?’

Fathimah mulai bercerita, ‘Adapun sekarang (setelah wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam), ya, tidak mengapa (akan kuceritakan). Pada bisikan pertama, Rasulullah mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasa membacakan (memurajaah) al-Qur’an kepada beliau satu kali setiap tahun; namun, pada tahun ini, Jibril membacakannya dua kali. Oleh karena itu, beliau bersabda, ‘Aku memiliki sangkaan besar bahwa ajalku telah dekat, maka bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya kamu adalah keluargaku yang pertama kali (wafat) menyusulku, dan sebaik-baik orang yang mendahuluimu adalah aku.’ Mendengar hal itu, aku pun menangis. Tatkala melihat kesedihanku, beliau pun berbisik lagi kepadaku, ‘Wahai Fathimah, tidakkah engkau bahagia kalau menjadi pemimpin para wanita kaum mukminin atau pemimpin para wanita umat ini?’Aku pun tertawa karenanya.” (HR. al-Bukhari no. 6313 dan 6314)

Berdasarkan keutamaan yang sangat agung ini, al-Hafizh Ibnu Hajar merajihkan (menguatkan) bahwa Fathimah radhiyallahu ‘anha lebih utama daripada ibunya, yaitu Ummul Mukminin Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Sebab, dalam hadits di atas, Rasulullah menyebut Fathimah sebagai pemimpin para wanita kaum mukminin atau pemimpin kaum wanita umat ini, tanpa mengecualikan seorang wanita pun. (Fathul Bari, pada syarah hadits no. 3820)

Ukhti fillah, semoga Allah senantiasa menjaga Anda. Hadits ‘Aisyah di atas juga diriwayatkan dengan redaksi yang sedikit berbeda. Pada bisikan pertama, Rasulullah mengabarkan kematian beliau, sedangkan pada bisikan kedua, beliau mengabarkan bahwa Fathimah adalah orang pertama di antara keluarga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang (wafat) menyusul beliau. (HR. al-Bukhari no. 6312)

Keutamaan lain Fathimah disebutkan dalam hadits dari al-Miswar bin Makhramah a. Dia bercerita, “Saya mendengar Rasulullah bersabda di atas mimbar, berkhotbah di hadapan manusia. Pada saat itu saya sudah balig. Rasulullah berkhotbah, ‘Sesungguhnya Bani Hisyam bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan salah seorang putri mereka dengan ‘Ali bin Abi Thalib, maka aku tidak memberi izin kepada mereka, kemudian aku tidak memberi izin kepada mereka, kemudian aku tidak memberi izin kepada mereka, kecuali jika ‘Ali bin Abi Thalib mau menceraikan putriku (Fathimah). Ketika itulah ia boleh menikahi putri mereka. Sesungguhnya putriku adalah darah dagingku, membuatku khawatir segala sesuatu yang membuatnya khawatir, dan menyakitkan hatiku segala sesuatu yang menyakitkan hatinya’.”

Dalam riwayat lain terdapat tambahan, “Sesungguhnya aku khawatir ia akan mendapat fitnah (ujian) dalam agamanya.”

Al-Miswar bin al-Makhramah berkata lagi, “Kemudian, Rasulullah menyebut salah seorang menantu beliau dari Bani ‘Abdi Syams (yaitu Abul ‘Ash bin ar-Rabi’, suami Zainab bintu Rasulillah `). Beliau memujinya dalam hal hubungan kekerabatannya dengan beliau, karena pernikahannya dengan Zainab. Selanjutnya, beliau bersabda, ‘Aku tidak mengharamkan perkara halal dan tidak menghalalkan perkara haram. Namun, demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah dengan putri musuh Allah pada satu pria (suami) selama-lamanya.’ Akhirnya, ‘Ali tidak jadi meminang (anak perempuan Abu Jahl).” (HR. Muslim no. 2449, lihat syarah an-Nawawi rahimahullah)

Ketika menjelaskan maksud hadits di atas, al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama telah berkata bahwa hadits ini menunjukkan haramnya menyakiti Rasulullah dalam keadaan apa pun dan dengan cara bagaimanapun, meski perbuatan yang dapat menyakiti hati Rasulullah itu hukumnya mubah (boleh) ketika beliau masih hidup.

Para ulama juga mengatakan, Rasulullah sudah menjelaskan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib boleh menikahi putri Abu Jahl, yaitu dengan sabda beliau `, ‘Aku tidak mengharamkan perkara halal.’ Namun, beliau melarang dikumpulkannya dua wanita tersebut dengan dua alasan:

  1. Hal itu dapat menyakiti hati Fathimah sehingga Rasulullah juga akan merasa tersakiti. Sementara itu, setiap orang yang menyakiti Rasulullah akan binasa. Oleh karena itu, Rasulullah melarang ‘Ali bin Abi Thalib menikahi anak perempuan Abu Jahl karena sempurnanya kasih sayang beliau kepada ‘Ali dan Fathimah.
  2. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam khawatir akan terjadi fitnah atas Fathimah disebabkan rasa cemburu.”[1]

                        Pembaca Qonitah, semoga Allah memuliakan Anda. Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai ahli bait (keluarga/kerabat Rasulullah), tidak menyakiti, dan tidak mencela mereka. Diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang berkata,

اُرْقُبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ

Perhatikanlah dan jagalah (kepentingan) Rasulullah yang berkaitan dengan ahli bait beliau.” (HR. al-Bukhari no. 3713)

Makna hadits di atas, jagalah (kehormatan) ahli bait, jangan menyakiti dan mencela mereka.

Siapakah ahli bait Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam?

Al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari “Bab Manaqib Qarabati Rasulillah” (Keistimewaan Kerabat Rasulullah), mengatakan, “Yang dimaksud dengan ahli bait Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam adalah orang-orang yang dinasabkan kepada kakek Nabi yang terdekat, yaitu ‘Abdul Muththalib, baik laki-laki maupun perempuan, dari kalangan sahabat g atau orang yang pernah melihat Nabi . Mereka adalah:

– ‘Ali bin Abi Thalib dan putra-putri beliau (termasuk yang dari selain Fathimah).

– Al-Hasan, al-Husain, Muhsin, dan Ummu Kultsum (putra-putri ‘Ali bin Abi Thalib dari Fathimah radhiyallahu ‘anha).

– Ja’far bin Abi Thalib dan putra-putra beliau, yaitu ‘Abdullah, ‘Aun, dan Muhammad. Ada yang mengatakan bahwa Ja’far bin Abi Thalib juga mempunyai putra yang bernama Ahmad.

– ‘Aqil bin Abi Thalib dan putra beliau yang bernama Muslim bin ‘Aqil.

– Hamzah bin ‘Abdil Muththalib dan putra-putra beliau yang bernama Ya’la, ‘Umarah, dan Umamah.

– Al-‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib dan putra-putra beliau yang berjumlah sepuluh orang, yaitu al-Fadhl, ‘Abdullah, Qutsam, ‘Ubaidullah, al-Harits, Ma’bad, ‘Abdurrahman, Katsir, ‘Aun, dan Tammam.

Al-‘Abbas juga memiliki beberapa putri, yaitu Ummu Habib, Aminah, dan Shafiyyah. Kebanyakan putra-putri al-‘Abbas adalah dari istri beliau yang bernama Lubabah Ummul Fadhl.

  • Mu’attib bin Abi Lahab.
  • Al-‘Abbas bin ‘Utbah bin Abi Lahab, suami Aminah bintu al-‘Abbas bin ‘Abdil Muththa
  • ‘Abdullah bin az-Zubair bin ‘Abdil Muththalib dan saudara perempuannya yang bernama Dhuba’ah, istri al-Miqdad bin al-
  • Abu Sufyan bin al-Harits bin ‘Abdil Muththalib dan putra beliau yang bernama Ja’far.
  • Naufal bin al-Harits bin ‘Abdil Muththalib dan kedua putranya, yaitu al-Mughirah dan al-
  • Umaimah, Arwa, ‘Atikah, dan Shafiyyah—mereka putri ‘Abdul Muththalib.” (Lihat Fathul Bari 8/674, pada syarah hadits no. 3716)

Faedah

Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap ahli bait Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam adalah berdiri di atas prinsip al-inshaf dan al-i’tidal (pertengahan, tidak berat sebelah). Maksudnya, Ahlus Sunnah wal Jama’ah memberikan wala’ (cinta dan kesetiaan) kepada ahli bait yang istiqamah dalam menjalankan agama Islam, dan berlepas diri dari siapa saja yang menyelisihi as-Sunnah dan menyimpang dari agama Islam meskipun ia termasuk ahli bait. Sebab, statusnya sebagai ahli bait dan hubungan kekerabatannya dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak bermanfaat sedikit pun, kecuali jika ia istiqamah di atas jalan Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Setelah Allah menurunkan Surat asy-Syu’ara ayat ke-214,

وَأَنذِرۡ عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ ٢١٤

‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.’

Rasulullah berdiri dan berseru, Wahai sekalian Quraisy (atau kalimat yang semisal itu)! Belilah (selamatkan) jiwa-jiwa kalian! Aku tidak dapat melindungi kalian dari (azab) Allah sedikit pun! Wahai Bani ‘Abdi Manaf, aku tidak dapat melindungi kalian dari (azab) Allah sedikit pun! Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah, aku tidak dapat melindungimu dari (azab) Allah sedikit pun! Wahai Fathimah bintu Muhammad, mintalah dari hartaku yang kamu ingini! Aku tidak dapat melindungimu dari (azab) Allah sedikit pun!’.” (HR. al-Bukhari no. 4771 dan Muslim no. 204)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berlepas diri dari orang-orang yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap sebagian ahlul bait dan menganggap mereka terbebas dari dosa. Mereka juga berlepas diri dari orang-orang yang menancapkan permusuhan kepada ahli bait yang berkomitmen terhadap Islam. Mereka juga berlepas diri dari jalan ahli bid’ah dan khurafat, yang bertawassul[2] dengan (jasad) ahli bait dan menjadikan mereka sebagai rabb-rabb selain Allah. (Dinukil dari Ushul al-Iman fi Dhau’i al-Kitab wa as-Sunnah 1/329)

Wallahu ta’ala a’lam.

[1] Lihat syarah an-Nawawi terhadap Shahih Muslim no. 2449.

[2] Menjadikan mereka sebagai wasilah (perantara) antara mereka dan Allah k dalam berdoa kepada-Nya, sehingga—menurut mereka—akan lebih mendekatkan diri mereka dengan-Nya dan doa mereka lebih terkabul. Perbuatan ini adalah syirik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 + six =