Fenomena Wanita Durhaka

alam-wanita-12Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia untuk hikmah yang agung dan tujuan yang mulia. Allah tidak menghendaki rezeki, makanan, ataupun kebutuhan lainnya dari mereka. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ٥٧

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56—57)

Allah subhanahu wa ta’ala memberikan surga yang luasnya seluas langit dan bumi kepada siapa saja yang melaksanakan perintah-Nya, yaitu ibadah, dan menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman,

وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةٖ رِّزۡقٗا قَالُواْ هَٰذَا ٱلَّذِي رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَهُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٥

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, ‘Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka telah diberi buah-buahan yang serupa. Dan di sana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 25)

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ لَّهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَنُدۡخِلُهُمۡ ظِلّٗا ظَلِيلًا ٥٧

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (an-Nisa’: 57)

لِّيُدۡخِلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنۡهُمۡ سَيِّ‍َٔاتِهِمۡۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عِندَ ٱللَّهِ فَوۡزًا عَظِيمٗا ٥

“Agar Dia masukkan orang-orang mukmin pria dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu menurut Allah suatu keuntungan yang besar.” (al-Fath: 5)

Sebaliknya, siapa saja yang durhaka, menyelisihi perintah-Nya, dan berpaling dari beribadah kepada-Nya, Allah telah menyiapkan neraka sebagai hukumannya. Allah berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ١١٦

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu, baik harta maupun anak-anak mereka sedikit pun tidak dapat menolak azab Allah. Mereka itu penghuni neraka, (dan) mereka kekal di dalamnya.” (Ali ‘Imran: 116)

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيهِمۡ نَارٗا كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم بَدَّلۡنَٰهُمۡ جُلُودًا غَيۡرَهَا لِيَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمٗا ٥٦

“Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa’: 56)

Saudariku muslimah, tempat kita hanya ada dua, tidak ada yang ketiga: surga yang akan dihuni oleh orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan, yaitu orang-orang yang beriman; atau neraka yang akan dihuni oleh orang-orang yang celaka, yang berpaling dari beribadah kepada Rabbnya, dan orang-orang kafir yang jahat. Lalu, tempat mana kira-kira yang akan menjadi pilihan Anda, wahai hamba Allah?!

Sungguh Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengabarkan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita, sebagaimana dalam sabda beliau,

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ. فَقُلْنَ: وَبِمَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah. Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.” Mereka bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?” Beliau n menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan bermaksiat/durhaka kepada suami.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda,

رَأَيْتُ النَّارَ، فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ. قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Aku melihat neraka dan ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita. Mereka itu mengingkari.” Beliau ditanya, “Apakah mereka mengingkari Allah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari suami dan mengingkari kebaikan-kebaikan (yang telah diperbuat suaminya). Andaikata engkau (suami) berbuat kebaikan kepada salah seorang dari mereka (istri) sepanjang masa, kemudian dia melihat sesuatu yang tidak disenanginya darimu, dia pun mengatakan, ‘Aku tidak melihat kebaikan darimu sedikit pun’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Saudariku muslimah, hendaklah Anda bertakwa kepada Allah dan menjaga lisan dari bergosip, mengadu domba, banyak mencela, mencaci maki suami, dan melanggar kehormatan orang lain. Sungguh sangat disayangkan, perbuatan ini justru sering dilakukan kaum wanita, maka jagalah diri Anda, jangan sampai menjadi wanita yang durhaka.

Wanita Durhaka

Belakangan ini kita sering menyaksikan sesuatu yang membuat dahi berkerut dan hati merasa perih, yaitu fenomena wanita durhaka. Banyak di antara mereka yang menyia-nyiakan waktu, melakukan apa saja yang dikehendakinya dan sesuai dengan hawa nafsunya, dan menampakkan akhlak yang tercela dan sifat yang tidak terpuji. Tidak ada lagi rasa malu; tidak ada lagi rasa takut kepada Allah.

Berbicara tentang kedurhakaan yang dilakukan oleh kaum wanita, sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam telah menyebutkan di antaranya dalam hadits di atas, yaitu banyak mencela dan mengufuri/mengingkari kebaikan suami. Kebanyakan wanita begitu mudah melontarkan kata- kata yang jelek kepada suaminya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan kepada tetangganya sekalipun. Inilah yang menjadi penyebab mereka banyak menghuni neraka.

Banyak wanita yang kini tidak lagi mengenal kedudukan suami, pendamping hidupnya. Apabila melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dari suaminya, ia melupakan segala kebaikan yang pernah dilakukan si suami untuknya. Inilah salah satu bentuk kedurhakaan dan kezaliman yang nyata.

Suami mempunyai kedudukan yang tinggi di hadapan wanita (istrinya) meskipun kaum wanita pada umumnya sudah tidak lagi memedulikannya, bahkan cenderung merasa tinggi di hadapan suami. Sementara itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda,

لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku dibolehkan untuk memerintah seseorang sujud kepada orang lain, akan kuperintah seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih Ibni Majah)

Bukan hanya itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga melarang istri berpuasa sunnah apabila suaminya ada (tidak sedang bepergian), kecuali atas persetujuannya. Semua ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan suami di hadapan istri. Intinya, pintu menuju keselamatan dan surga bagi istri adalah suaminya. Rasulullah menegaskan, “Dia (suamimu) adalah surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib)
Berikut beberapa bentuk kedurhakaan yang dilakukan wanita (istri) kepada suaminya.

1. Tidak menaati suami dalam perkara yang baik dan malah bermaksiat kepadanya.

Ini adalah bentuk kedurhakaan kepada suami karena istri tidak memenuhi hak suami yang telah diwajibkan oleh Allah kepadanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا ٣٤

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh sebab itu, wanita yang salihah ialah yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala agi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sungguh Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (an-Nisa’: 34)

Termasuk kedurhakaan kepada suami adalah istri menolak ketika diajak ke tempat tidur. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidur (untuk berhubungan badan) lalu si istri menolak sehingga suami tidur dalam keadaan marah kepadanya, malaikat pun melaknat si istri hingga waktu subuh.” (HR. al-Bukhari)
Tidak berkhidmah kepada suami, membiarkannya sibuk sendirian, dan merasa tinggi di hadapannya juga merupakan kedurhakaan.

2. Keluar dari rumah tanpa izin dari suami.

Istri yang melakukan perbuatan ini berarti telah menyepelekan hak suami dalam hal ketaatan. Sebab, konsekuensi ketaatan kepada suami adalah istri tidak keluar dari rumah tanpa izinnya, kecuali jika diketahui bahwa suami telah mengizinkannya sebelumnya untuk pergi ke tempat-tempat tertentu.

Termasuk kedurhakaan kepada suami ialah istri mengizinkan seseorang masuk ke rumah suaminya, padahal si istri tahu bahwa suaminya tidak menyukainya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

فَحَقُّكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ

“Hak kalian atas mereka (para istri) adalah mereka tidak boleh mengizinkan seorang pun—yang tidak kalian sukai—untuk menginjak permadani kalian, dan mereka tidak boleh mengizinkan seorang pun—yang tidak kalian sukai—untuk berada di rumah kalian.” (HR. at-Tirmidzi)

3. Tidak bergaul dengan cara yang baik kepada suami, menampakkan adab yang buruk di hadapannya, baik melalui perkataan maupun perbuatan, dan tidak memberikan ketenangan hati kepadanya.

4. Menghalangi suami untuk dapat bersenang-senang dengannya tanpa alasan yang syar’i.
Ini adalah kedurhakaan yang besar karena dapat menyebabkan suami melirik wanita lain yang tidak halal baginya, bahkan dapat menyebabkan suami berselingkuh dan berbuat tidak senonoh. Jika demikian, berarti si istri berserikat dengan suami dalam hal dosa karena tidak membantunya untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya.

5. Tidak memiliki sifat malu, yaitu merasa bebas memandang pria lain yang tidak halal baginya, bahkan tidak merasa risi sama sekali untuk bertabarruj (memamerkan keindahannya, -ed.) di depannya dan melembutkan suara kepadanya.

6. Membebani suami dengan nafkah yang lebih di luar kebutuhannya sehingga suami menanggung banyak utang.

7. Mengghibah suami atau menceritakan kejelekan suami kepada keluarga suami, kepada keluarganya sendiri, atau kepada kerabatnya.

8. Mengadu domba suami dengan anak-anaknya, dengan saudara laki-laki dan saudara perempuannya, atau dengan kerabat suami yang lain.

Sungguh ini merupakan kesalahan yang besar karena akan merusak tali silaturahmi antara suami dan orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengannya.

9. Mendiamkan kemungkaran yang dilakukan suami, baik kemungkaran yang terkait dengan diri suami sendiri maupun kemungkaran yang terkait dengan rumahnya. Yang lebih jelek ialah si istri mendorong dan membantu suaminya untuk melakukan kemungkaran. Wal ‘iyadzu billah (hanya Allah-lah yang kita mintai perlindungan).

10. Meminta agar diceraikan tanpa ada alasan yang dibenarkan menurut syariat, tetapi karena sekadar ingin mencelakakan suami, merasa bosan hidup bersamanya, dan merasa lebih tinggi kedudukan dan keadaannya dibandingkan dengan suami.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengancam perbuatan ini sebagaimana dalam sabda beliau,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

“Wanita mana pun yang meminta kepada suaminya agar menceraikannya tanpa ada alasan yang jelas, haram atasnya mencium wangi surga.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, “Dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.”)

Wanita yang Taat

Saudariku, hendaknya Anda menjadi muslimah yang cerdas dan taat, yaitu yang bersegera melaksanakan perintah Allah, melakukan hal-hal yang disukai dan diridhai oleh suami, menampakkan ketaatan kepadanya dan tidak menentangnya, serta tidak meninggikan diri di hadapannya.

Sungguh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda, “Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, niscaya dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga dari pintu mana pun yang engkau mau’.” (HR. Ahmad, dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam al-Jami’ ash-Shaghir)
Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + 10 =