Guyub Rukun Bertetangga, Sebab Masuk Surga

silsilah-hadits-7Al-Ustadz Abu Bakar Abdurrahman

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ فُلَانَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ، وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ. قَالُوا: وَفُلَانَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ، وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dikatakan kepada Nabi , ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah (seorang wanita) mengerjakan shalat pada waktu malam, berpuasa pada waktu siang, berbuat (kebaikan), dan bersedekah, tetapi suka menyakiti tetangganya dengan lisannya.’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Tidak ada kebaikan bagi wanita tersebut. Dia termasuk penduduk neraka.’

Para sahabat bertanya lagi, Si Fulanah (yang lain hanya) melakukan shalat wajib, bersedekah dengan sepotong keju (sedikit), tetapi tidak pernah menyakiti seorang pun.’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Dia termasuk penduduk surga’. (HR. Ahmad, al-Bazzar, dll, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ashShahihah no. 190)

Hadits ini mengandung banyak faedah, di antaranya:

  1. Larangan menyakiti tetangga dengan lisan.

Tentu saja, menyakiti dengan tangan dan anggota tubuh lain juga dilarang. Dalam hadits yang lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah dia menyakiti/mengganggu tetangganya.” (HR. Ahmad no. 7627 dan al-Bukhari no. 7485)

Manusia dalam bahasa Arab adalah الْإِنْسَانُ, terdiri atas huruf أ ن س, yang artinya senang/tenang. Di antara orang-orang yang bisa mempengaruhi kesenangan dan ketenangan hidupnya adalah tetangga. Tetangga merupakan nikmat dari Allahl. Bahkan, tetangga bisa menyebabkan seseorang meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana dalam hadits di atas, seseorang yang amalannya sederhana ternyata bisa masuk surga karena tidak menyakiti tetangga.

  1. Peringatan terhadap bahaya lisan.

Banyak manusia yang masuk neraka gara-gara kejelekan lisan mereka. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits yang lain,

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ-أَوْ قَالَ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ-إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Tidaklah manusia dijerumuskan ke dalam api neraka pada wajahnya (atau hidungnya) melainkan karena lisannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2616, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Lebih baik diam apabila seseorang tidak bisa mengucapkan ucapan yang baik. Demikianlah wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada kita semua sebagaimana sabda beliau,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)

  1. Mendahulukan amalan wajib daripada amalan sunn

Tidak menyakiti tetangga adalah kewajiban setiap muslim, sedangkan shalat malam, puasa sunnah, dan sedekah hukumnya sunnah. Oleh karena itu, seorang muslim dan muslimah hendaklah menuntut ilmu sehingga bisa membedakan mana hal wajib yang harus didahulukan dan mana yang tidak wajib yang akan dikerjakan setelah yang wajib.

Kesalahan dalam mengaplikasikan amalan sunnah banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat, seperti berdesakan dan saling dorong ketika hendak mencium atau memegang Hajar Aswad. Akibatnya, banyak orang terjatuh, terluka, dan tersakiti hatinya.

Bahkan, ada yang lebih parah. Sebagian orang jahat mencari harta dengan cara yang haram, lalu menginfakkannya untuk membangun masjid, madrasah, atau untuk memberi makan fakir miskin.

Pembaca yang dimuliakan oleh Allah, ternyata masih ada yang lebih parah daripada itu semua. Ada orang yang rajin berziarah ke kuburan para wali, tetapi tidak rajin shalat Jumat, padahal shalat Jumat adalah kewajiban bagi setiap lelaki muslim yang sudah balig dan tidak sedang safar. Adapun ziarah ke kuburan para wali untuk berdoa dan meminta hajat kepadanya adalah kesyirikan yang jelas dilarang.

  1. Perintah untuk berbuat baik kepada tetangga.

Pergaulan baik seorang muslim dengan tetangganya menunjukkan besarnya keimanannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah menerangkan hal itu sebagaimana dalam hadits,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya.” (HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)

Saudariku muslimah, ketahuilah, Islam sangat memerhatikan hak tetangga. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ

“Bukanlah orang yang beriman (dengan keimanan yang sempurna), seseorang yang merasakan kenyang padahal tetangganya lapar.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 112, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam ashShahihah no. 149)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada Abu Dzar,

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَ الْمَرَقَةِ وَتَعَاهَدْ جِيْرَانَكَ أَوِ اقْسِمْ فِي جِيْرَانِكَ

“Wahai Abu Dzar, apabila kamu masak daging yang berkuah, perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu atau bagikanlah kepada tetanggamu.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 114 dan Muslim)

Karena besarnya hak tetangga, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengira akan disyariatkan warisan untuk tetangga, sebagaimana sabda beliau,

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Senantiasa Jibril berwasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira bahwa tetangga akan mendapatkan harta warisan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Adapun seseorang yang keberadaannya membuat cemas tetangganya, hal ini menunjukkan tipisnya iman orang tersebut. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersumpah tiga kali untuk menegaskan sangat lemahnya iman seseorang yang menyebabkan tetangganya cemas dan tidak merasa aman. Beliau bersabda,

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيْلَ: وَمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Demi Allah, dia tidak beriman; demi Allah, dia tidak beriman; demi Allah, dia tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejelekannya. (HR. al-Bukhari no. 6016)

Sabda beliau وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ (Demi Allah, dia tidak beriman) maknanya adalah “tidak sempurna atau sangat lemah keimanannya”. Bukanlah maksudnya “dia telah kafir dan keluar dari Islam serta halal harta dan darahnya”.

Orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengamalkan konsekuensinya tetap dihukumi muslim walaupun melakukan pelanggaran berupa dosa besar.

Demikian pula hadits هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ (wanita itu termasuk penghuni neraka [karena menyakiti tetangga]), maksudnya bukan “dia telah kafir dan kekal di neraka”. Akan tetapi, maksudnya, menyakiti tetangga adalah dosa besar yang dapat menyebabkan seseorang disiksa di neraka jika tidak diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Namun, pelaku dosa besar yang masih memiliki keimanan dalam hatinya, walaupun disiksa di neraka, suatu saat akan keluar dan dimasukkan ke surga.

Tetangga yang Baik, Sebuah Kenikmatan

Betapa senang hati seorang muslim yang mendapatkan tetangga yang baik, murah senyum, ramah, suka membantu, bahkan suka memberi hadiah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menyebutkan dalam sebuah hadits,

مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: المَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

Di antara tanda kebahagiaan seorang muslim adalah dia mempunyai rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 166, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Sebagaimana halnya kita ingin mendapatkan tetangga yang baik, kita pun harus berusaha menjadi tetangga yang baik di tengah-tengah masyarakat kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kita suka apabila tetangga kita berbuat baik kepada kita, dan tetangga kita pun suka jika kita bersikap baik kepadanya. Kita tidak suka dizalimi oleh tetangga kita, maka kita pun tidak boleh menzalimi tetangga kita.

Demikianlah, seyogianya seorang muslim peka terhadap perasaan orang lain dan memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri.

Jika Anda ingin menjadi orang yang terbaik di sisi Allah dan ingin menjadi tetangga Allah yang terbaik, jadilah sahabat yang terbaik di tengah-tengah saudara Anda dan tetangga yang paling baik di tengah-tengah masyarakat Anda. Diterangkan dalam hadits,

خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik kepada tetangganya. (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 115, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Seseorang disebut saleh apabila telah menunaikan hak-hak Allah dan menunaikan hak-hak manusia.”

Siapakah Tetangga Kita?

Al-Hasan al-Bashri ditanya tentang hal itu, lalu beliau menjawab, “Tetangga adalah (orang-orang yang tinggal di) 40 rumah dari arah depan (rumah kita), 40 rumah dari arah belakang, 40 rumah dari arah kanan, dan 40 rumah dari arah kiri.” (Lihat al-Adabul Mufrad no. 109)

Semakin dekat tetangga kepada kita, semakin besar pula haknya. Ketika ingin memberikan sesuatu, kita mulai dengan tetangga yang paling dekat pintu rumahnya dengan rumah kita.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai dua tetangga (dekat). Kepada siapa saya akan memberi hadiah?” Rasulullah menjawab, “Kepada yang paling dekat pintunya dengan (tempat tinggal)mu. (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya)

Mengapa kita dahulukan tetangga yang paling dekat pintunya dengan rumah kita? Sebab, dialah yang paling tahu barang belanjaan yang kita bawa masuk ke rumah kita sehingga bisa jadi dia ingin merasakan apa yang kita rasakan.

Di sisi lain, tetangga yang paling dekat pintunya dengan rumah kita adalah orang yang paling tahu tentang kejadian yang menimpa kita. Apabila kita tertimpa musibah, dialah orang yang pertama kali menolong kita. Oleh karena itu, dalam hal memberi hadiah, tetangga yang terdekat lebih utama untuk mendapatkannya daripada yang lainnya.

Kejahatan terhadap tetangga dilipatgandakan dosanya daripada kejahatan terhadap selain tetangga. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam al-Adabul mufrad no. 103.

Rasulullah bertanya kepada para sahabat tentang zina, maka mereka menjawab, “Zina itu haram, telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.” Beliau pun bersabda, “Seandainya seseorang berzina dengan sepuluh wanita, itu lebih ringan dosanya daripada dia berzina dengan istri tetangganya. Beliau bertanya lagi kepada para sahabat tentang mencuri, maka mereka menjawab, “Haram, telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.” Beliau pun bersabda, “Seandainya seseorang mencuri dari sepuluh rumah (yang bukan rumah tetangganya), itu lebih ringan dosanya daripada dia mencuri dari rumah tetangganya.

Mengapa demikian? Karena seseorang mendapatkan amanat dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap tetangganya dalam segala hal. Oleh karena itu, apabila dia berzina dengan istri tetangganya atau mencuri sesuatu dari tetangganya, berarti dia telah berkhianat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kepada tetangganya, padahal berkhianat adalah dosa besar.

Wajib Menundukkan Pandangan dari Aurat Tetangga

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ

“Katakanlah kepada para lelaki yang beriman agar mereka menundukkan pandangan (dari yang haram) dan menjaga kemaluan mereka.” (an-Nur: 30)

Termasuk menunaikan amanat adalah tidak memandang aurat tetangga dan tidak memandang segala sesuatu yang tidak disukai oleh tetangga untuk dipandang.

Sabar Menghadapi Tetangga yang Jahat

Tetangga yang jahat adalah ujian bagi seorang muslim. Sebagaimana halnya ujian lain yang menimpa seorang muslim, semuanya akan menjadi pahala baginya jika dia bersabar dan mengharap keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala .

Tidak ada jalan lain kecuali bersabar dan tenang serta bersikap hikmah dan lemah lembut dalam menghadapi tetangga yang jahat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥

Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat: 3435)

Jika kelemahlembutan diterapkan dalam seluruh urusan, akan menjadi baiklah segala urusan. Sebaliknya, jika sikap lemah lembut itu dihilangkan dari suatu urusan, akan menjadi buruklah hal tersebut.

Sejahat-jahatnya tetangga di dunia ini, pasti suatu saat akan hilang atau pindah. Seorang muslim atau muslimah yang diberi ujian berupa tetangga yang jahat di dunia hendaklah berpikir, bagaimana jika dia mempunyai tetangga yang jahat di negeri akhirat.

Orang yang jelek amalannya lalu mati, amalan jeleknya akan berbentuk seorang yang bermuka buruk, berpakaian jelek, dan berbau busuk. Orang jelek ini mendatanginya di kuburannya, lalu memberitahunya tentang kabar jelek yang akan menimpanya. Setelah itu, orang ini mengatakan, “Aku adalah amalan burukmu (ketika di dunia).”[1] Kelak, di neraka, dia akan dikumpulkan dengan orang-orang yang jahat dan celaka.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah dari tetangga yang jelek di negeri akhirat. Beliau bersabda,

اَللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوْءِ فِي دَارِ الْمَقَامِ، فَإِنَّ دَارَ الدُّنْيَا يَتَحَوَّلُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari tetangga yang jelek di negeri akhirat karena tetangga (jelek) di dunia akan berpindah. (Hadits hasan)

Saudariku muslimah, berusahalah agar tetangga Anda di akhirat adalah tetangga yang baik, dengan cara banyak beramal saleh.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

[1] HR. Abu Dawud, Ahmad, dll, dinyatakan shahih oleh al-Albani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty + 17 =