Ibu Yang Baik Untuk Anak Yang Baik

buah-kasih-5Al-Ustadzah Ummu Umar Asma

Petani yang menginginkan panennya berhasil tentu memilih bibit yang baik untuk sawahnya. Tidak hanya itu, dia juga perlu melakukan cara penyemaian yang tepat dan melindungi calon benih agar kelak tanaman yang dihasilkan subur dan kuat.

Pembaca Qonitah yang dirahmati oleh Allah, bak petani, begitulah keadaan calon orang tua. Dia perlu selektif memilih calon pasangan hidupnya. Sebab, dari benih mereka berdualah Allah menciptakan makhluk yang kelak menjadi anak-anak mereka.

Lantas, barometer apa yang bisa digunakan seorang lelaki untuk menyeleksi calon ibunda bagi anak-anaknya?

Tolok Ukur Utama adalah Agama

Dengan kesempurnaannya, Islam telah mengatur masalah ini. Calon ayah yang menginginkan keturunan yang saleh mesti memilih calon ibu yang salihah pula. Inilah yang diajarkan oleh Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ

“Dan sungguh, budak wanita yang beriman lebih baik daripada seorang wanita yang musyrik walau dia membuat kalian kagum.” (al-Baqarah: 221)

Ketika membawakan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam kitab Tafsir beliau bahwa as-Suddi berkata, “Ayat ini turun berkaitan dengan Abdullah bin Rawahah. Dia memiliki seorang budak wanita berkulit hitam. Suatu saat, dia marah kepada budak tersebut dan menamparnya. Kemudian, dia sadar lalu menemui Rasulullah dan menceritakan peristiwa yang ia alami.

Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Bagaimana keadaannya?’

Abdullah menjawab, ‘Dia berpuasa, shalat, memperbagus wudhu, dan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Anda adalah utusan Allah.’

‘Wahai Abdullah, kalau begitu, dia wanita yang beriman,’ kata Rasulullah.

Abdullah berkata, ‘Demi Dzat Yang mengutus Anda dengan kebenaran, sungguh saya akan membebaskannya lalu menikahinya.’

Setelah itu, Abdullah melaksanakan niat tersebut. Orang-orang pun mencelanya. Kata mereka, ‘Dia menikahi budak’.”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan melalui sabda beliau,

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Carilah wanita yang beragama, niscaya kamu beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Sungguh, ajaran inilah yang benar. Bagaimana tidak? Ibu, dialah yang paling dekat dengan anaknya. Dia pula yang setiap hari bertemu dan bergaul dengan mereka semenjak mereka lahir, bahkan dialah yang mengandung mereka. Dari air susu ibu, seorang bayi mengenyangkan perutnya. Tutur kata dan tingkah laku sang ibulah yang pertama kali dan paling sering dia dengar, saksikan, serta kelak akan mereka tiru. Oleh karena itu, dari seorang wanita salihah, akan lahir anak yang saleh pula, dengan izin Allah.

Ibu yang salihah akan membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Islam. Dia akan mengajari mereka al-Qur’an, sunnah Nabi, dan adab-adab Islam. Kisah-kisah yang ia bawakan untuk mereka adalah kisah para nabi dan para pendahulu yang saleh, bukan kisah tokoh-tokoh kafir, apalagi dongeng yang mengandung kedustaan. Maka dari itu, lelaki yang menginginkan keturunan yang saleh mesti memilih pasangan hidup yang salihah.

Hal ini tidak menafikan keadaan wanita yang rupawan, kaya, dan berasal dari keluarga yang mulia. Ketiga hal ini juga akan bermanfaat bagi anak. Namun, yang lebih penting daripada semua itu adalah agama sang ibu. Empat hal itulah yang biasa dijadikan patokan dalam memilih istri. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal: hartanya, keluarganya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Nah, apabila demikian yang mesti dilakukan oleh seorang lelaki, seperti itu pulalah yang harus dilakukan oleh seorang perempuan. Apabila menginginkan keturunan yang saleh, ia harus memilih lelaki yang beragama sebagai calon ayah bagi anak-anaknya. Sebab, ayah yang saleh akan senantiasa mengarahkan keluarganya kepada kebaikan dunia dan akhirat. Dia pun tidak akan menyia-nyiakan kehidupan anak dan istrinya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَعَبۡدٞ مُّؤۡمِنٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَكُمۡۗ

Sungguh, seorang budak lelaki yang beriman lebih baik daripada seorang lelaki musyrik walaupun dia membuat kalian kagum.” (al-Baqarah: 221)

Oleh karena itu, semestinya setiap orang bersemangat memilih calon pasangan hidup yang saleh dan berakhlak mulia. Agamalah yang hendaknya menjadi patokan utama, bukan sekadar keelokan wajah, kekayaan, atau kemuliaan nasab, seperti yang sering terjadi sekarang ini. Lelaki menikahi perempuan hanya karena kecantikan, tanpa peduli dengan akhlaknya. Tidak mengherankan, kebahagiaan yang ia rasakan hanya sebentar. Selebihnya, ia merasakan penderitaan karena kelakuan istrinya yang menyakitkan hati. Lebih-lebih setelah anak mereka lahir. Ia dapati anaknya tidak mendapatkan pengajaran agama dari sang ibu. Yang didapatkan oleh si anak justru contoh perilaku yang buruk. Allahul musta’an (hanya kepada Allah kita minta pertolongan).

Oleh karena itu, sebagaimana penjelasan di atas—tanpa menafikan perempuan yang dipilih karena kecantikan dan kelebihan lainnya—hendaknya yang menjadi tolok ukur utama adalah agamanya.

Lebih-lebih, lelaki yang saleh lebih pantas mendapatkan perempuan yang salihah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِۚ

“Perempuan yang jelek itu bagi lelaki yang jelek, begitu pula lelaki yang jelek itu bagi perempuan yang jelek. Perempuan yang baik itu bagi lelaki yang baik, begitu pula lelaki yang baik itu bagi perempuan yang baik.” (an-Nur: 26)

Berdoa Saat Menemui Istri

Masih termasuk rangkaian adab Islam dalam upaya mendapatkan keturunan yang saleh dan salihah, seorang lelaki yang baru mempersunting perempuan pilihannya disyariatkan untuk berdoa saat pertama kali mereka bertemu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan agar suami memegang ubun-ubun istrinya dan berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu kebaikannya (istri) dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan padanya. Aku juga berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan dari kejelekan apa yang Engkau ciptakan padanya.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 1876)

Adab selanjutnya adalah ketika hendak berhubungan suami istri. Dalam hal ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan bimbingan yang mulia dengan sabdanya,

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ فَقَالَ: بِاسْمِ اللهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا؛ فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Apabila salah seorang di antara kalian ingin mendatangi istrinya, lalu berdoa اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا (Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami), jika saat itu ditakdirkan adanya anak bagi mereka berdua, setan tidak akan memudaratkan anak tersebut selama-lamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Demikianlah ajaran Islam bagi siapa pun yang menginginkan keturunan yang saleh dan salihah. Sungguh, tidak ada satu kebaikan pun melainkan telah diajarkan oleh Islam, dan tidak ada satu kejelekan pun melainkan telah diperingatkan oleh agama ini.

Semoga Allah melapangkan hati kita untuk menerima dan mengamalkan ajaran Islam seluruhnya. Amin.

Wallahu a’lam bishshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + 9 =