Jalan Menuju Persatuan Umat

titian-sunnah-16Jalan Menuju Persatuan Umat

Al-Ustadz Abu Hafs Umar

Persatuan umat merupakan kata manis yang senantiasa diserukan oleh para dai dan aktivis dakwah Islam. Masing-masing menyampaikan konsep persatuan Islam menurut pandangannya. Di antara yang mereka ungkapkan, “Hendaknya kita bersatu dan jangan menyalah-nyalahkan kelompok lain karena hal ini akan menyebabkan perpecahan.”
Yang lain mengatakan, “Hendaknya kita tolong-menolong dalam hal yang kita sepakati dan bertoleransi dalam hal yang kita berbeda padanya.” Ada juga yang mengatakan, “Jangan membahas permasalahan khilafiyyah karena akan menyebabkan umat terpecah.” Masih ada ungkapan-ungkapan lain yang mereka jajakan kepada umat sebagai konsep persatuan.

Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah, pernyataan-pernyataan di atas sepintas terlihat mengungkapkan kebaikan: demi persatuan umat. Hanya saja, sejauh manakah kebenaran konsep mereka dalam timbangan syariat?

Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah ….

Memang di dalam banyak ayat, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kita semua untuk bersatu. Allah berfirman,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Dan berpegangteguhlah kalian pada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)

Allah juga berfirman,

وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٣١ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۢ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ ٣٢

“Janganlah kalian termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada padanya.” (ar-Rum: 31—32)

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kita semua untuk bersatu. Dalam hadits Abu radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَ يَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَ لاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا، وَأَنْ تَنَاصَحُوْا مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ؛ وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah meridhai bagi kalian tiga perkara dan membenci bagi kalian tiga perkara pula. Allah ridha kalian beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya, berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai, dan menasihati penguasa kalian. Allah benci kalian mengucapkan setiap ucapan yang dikatakan kepada kalian, banyak bertanya, dan menghambur-hamburkan harta.” (HR. Muslim)

Tidak ada keraguan lagi bahwa persatuan merupakan ibadah agung yang wajib direalisasikan seorang hamba. Namun, konsep persatuan yang bagaimanakah yang dimaukan oleh syariat? Berikut akan dijelaskan beberapa konsep yang bisa mengantarkan umat kepada persatuan menurut tinjauan syariat.

  1. Memperbaiki akidah umat adalah prioritas utama.

Akidah merupakan fondasi agama seseorang. Maka dari itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam selalu berdakwah memperbaiki akidah umat. Segala kebaikan akan diraih manakala akidah seseorang itu benar. Demikian pula persatuan umat hanya akan tercapai dengan perbaikan akidah terlebih dahulu.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Memperbaiki akidah adalah dengan cara membersihkannya dari kesyirikan. Akidah yang benar akan bisa melembutkan hati para hamba dan menghilangkan kedengkian. Lain halnya kalau akidah mereka berbeda-beda dan yang disembah pun bermacam-macam, tentu setiap pemilik akidah akan berkelompok berdasarkan akidah dan sembahan mereka. Mereka berpendapat batilnya pendapat orang selain mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman,

ءَأَرۡبَابٞ مُّتَفَرِّقُونَ خَيۡرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّارُ ٣٩

“Apakah tuhan yang bermacam-macam itu lebih baik, ataukah Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?” (Yusuf: 39)

Oleh karena itu, dahulu orang Arab jahiliah berpecah belah dan tertindas di muka bumi. Ketika mereka masuk Islam, jadilah akidah mereka bagus, mereka bersatu, dan negara mereka pun bersatu.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 130)

Beliau juga mengatakan, “Jika kalian menginginkan persatuan kaum muslimin, satukanlah akidah mereka. Hendaknya kalian semua di atas akidah tauhid yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Jangan kalian membiarkan manusia, (dalam keadaan) yang ini penyembah kubur, yang ini sufi, yang ini Syi’ah. Satukan akidah terlebih dahulu, berpegang teguh pada la ilaha illallah, kemudian satukan mereka dengan berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah.” (Syarh al-Masa’il al-Jahiliyyah hlm. 123)

Untuk meraih persatuan, tidaklah cukup mengajarkan akidah yang benar saja, tetapi mesti dengan menjelaskan dan membantah akidah-akidah yang batil. Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah, dari sini kita tahu bahwa pada hakikatnya, para dai yang mengkritik penyimpangan seorang tokoh atau kelompok, mereka bukan sedang memecah belah persatuan. Justru mereka sedang mengajak kepada persatuan. Mereka juga tidak menyalah-nyalahkan orang lain atau merasa paling benar, seperti yang dituduhkan kepada mereka. Akan tetapi, mereka dengan tulus menginginkan agar umat kembali kepada akidah yang benar dan terselamatkan dari perpecahan. Sebab, mustahil tercapai persatuan manakala di tengah umat masih ada yang memiliki akidah batil, seperti menyembah kubur orang saleh, bergantung pada jimat-jimat, mencaci sahabat Rasulullah, mengingkari azab kubur, mengingkari takdir, dan keyakinan batil lainnya. Oleh karena itu, umat mesti diperingatkan dari akidah yang batil agar mereka kembali kepada akidah yang benar dan bersatu di atasnya. Inilah hakikat persatuan yang dimaukan oleh syariat, seperti yang diperintahkan oleh Allah,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

Dan berpegangteguhlah kalian semua pada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)

  1. Mengembalikan segala perselisihan kepada al-Kitab dan as-Sunnah.

Demi menjaga persatuan, sebagian dai selalu menoleransi segala perbedaan dalam beragama, sekalipun perkara tersebut menyelisihi Sunnah Rasulullullah. Sebagai contoh, mereka mengungkapkan, “Kita saling bertoleransi dalam perkara yang kita perselisihkan.” Dengan dalih menjaga persatuan, berbagai bid’ah dan penyimpangan dari Sunnah Rasulullah pun mereka diamkan.

“Yang penting kita bersatu. Janganlah kalian menyalah-nyalahkan kelompok lain!” kata mereka. Akhirnya, mereka berkumpul dalam berbagai bid’ah dan penyimpangan. Inilah “persatuan semu”, sekadar berkumpul dalam banyak perbedaan. Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ

“Kalian menyangka mereka itu bersatu, padahal hati mereka itu berpecah.” (al-Hasyr: 14)

Apakah demikian konsep persatuan menurut syariat? Jawabnya, tentu tidak. Justru Allah memerintah kita mengembalikan perselisihan kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Pendapat yang tidak sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah harus kita tinggalkan, sedangkan pendapat yang selaras dengan keduanya harus kita pegang. Inilah hakikat persatuan.
Allah berfirman,

فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

“Maka jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah hal itu kepada Allah (al-Kitab) dan Rasul (Sunnahnya) jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 56)

Oleh karena itu, tidak benar bahwa mengkritik suatu kelompok atau tokoh yang menyimpang merupakan sebab perpecahan. Justru mengingkari kebid’ahan dan penyimpangan itu merupakan upaya menuju persatuan. Dengannya manusia akan bisa kembali kepada kebenaran. Sebaliknya, membiarkan kebid’ahan dan penyimpangan akan menjadikan umat semakin berpecah belah.

Demi menjaga persatuan, sejak dahulu para ulama selalu mengingkari berbagai kebid’ahan dan penyimpangan. Mereka membantah kebid’ahan dengan penuh hikmah dan ketulusan demi menjaga kemurnian agama ini. Al-Imam Ahmad v pernah ditanya, “Apakah orang yang mengerjakan puasa, shalat, dan i’tikaf yang lebih Anda sukai ataukah orang yang mengkritik ahli bid’ah?” Beliau menjawab, “Jika dia mengerjakan shalat, puasa, dan i’tikaf, semua itu untuk dirinya. Adapun jika dia mengkritik ahli bi’dah, itu untuk kaum muslimin, maka ini lebih utama.” (Majmu’ al-Fatawa 28/231, dinukil dari al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 12)

Adapun dalam masalah ijtihadiah, kita diperintah untuk berlapang-lapang. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Selama itu adalah masalah ijtihadiah yang masih samar dalilnya, yang wajib adalah tidak boleh sebagian kita mengingkari sebagian yang lain. Adapun perkara yang menyelisihi dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah, (kita) wajib mengingkari orang-orang yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah dengan cara yang hikmah dan nasihat yang bagus dan membantahnya dengan cara yang baik. Hal ini sebagai pengamalan firman Allah,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan tolong menolonglah kalian dalam perkara kebajikan dan ketakwaan.” (al-Maidah: 2)

  1. Mendengar dan taat kepada penguasa muslimin.

Persatuan umat juga akan tercapai dengan menaati penguasa. Nabi ` memerintahkan, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sebab, barang siapa yang hidup panjang di antara kalian, dia akan melihat perselisihan yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kita untuk taat kepada penguasa muslimin. Hal ini karena menaati penguasa kaum muslimin (dalam hal yang makruf) merupakan sebab persatuan umat. Sebaliknya, menentang dan memberontak kepada pemerintah muslimin merupakan sebab perpecahan. Oleh karena itu, Rasulullah memerintah kita untuk memerangi para pemberontak. Dalam hadits Arfajah bin Syuraih radhiyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang datang kepada kalian, sementara kalian dalam keadaan bersatu, lalu dia ingin memecah persatuan kalian (memberontak, -pent.), bunuhlah dia.” (HR. Muslim)

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Adapun mendengar dan taat kepada penguasa muslimin, padanya terdapat kebahagiaan dunia dan dengannya tertata kemaslahatan para hamba dalam kehidupan mereka. Dengan itu pula mereka menampakkan agama mereka dan menaati Rabb mereka.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam hlm. 352)

  1. Mendamaikan dua orang yang bertikai.

Setelah berakidah dengan benar dan beramal sesuai dengan Sunnah Rasul, terkadang masih juga terjadi pertikaian pribadi antara sesama hamba Allah. Selaku insan biasa yang punya kekurangan, seseorang tidak akan lepas dari perselisihan pribadi dengan sesamanya. Maka dari itu, Allah memerintah kita untuk mendamaikan dua saudara yang bertikai. Allah berfirman,

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَصۡلِحُواْ ذَاتَ بَيۡنِكُمۡۖ

“Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan damaikanlah orang yang berselisih di antara kalian.” (al-Anfal: 1)

Demikian pula Rasulullah memerintah kita semua untuk beradab yang mulia, sekalipun tatkala terjadi perselisihan pribadi di antara kita. Beliau memerintah kita untuk bersabar, memaafkan, berlapang dada, bersikap santun, bersikap tanazul (mengalah), dan menerapkan adab-adab lainnya. Semua adab tersebut akan menyempurnakan persatuan umat.

Sungguh, betapa indahnya tatkala kita belajar adab islami. Kita akan mendapatkan siraman penyejuk hati tatkala menghadapi problem dengan saudara kita.

Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah, demikianlah penjelasan singkat tentang konsep persatuan umat. Semoga yang sedikit ini bisa menjadi pencerahan bagi kita semua. Amin. Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 14 =