Jangan Katakan Cinta Jika Kenistaan yang Kauinginkan

Jangan Katakan Cinta Jika Kenistaan yang Kauinginkan

Oleh: Al-Ustadz Abdullah al-Jakarty

 

“Eee…, sebenarnya, aku sudah lama jatuh hati padamu. Mau tidak kamu jadi pacarku?” kata seorang pria kepada wanita yang dia cintai.

Bisa jadi, itulah kalimat yang biasa diungkapkan oleh seorang pria yang sedang jatuh cinta kepada wanita yang diharapkan bisa menjalin hubungan khusus dengannya, lebih dari sekadar teman. Yang diinginkan oleh banyak pria, setelah mengungkapkan cinta kepada sang wanita, mereka bisa melakukan banyak hal yang menurut mereka, itulah cinta. Oleh karena itulah, mereka sering berduaan, berpegangan tangan, berciuman, bahkan berhubungan seks di luar nikah. Yang sangat mengherankan, tidak sedikit wanita muslimah yang menerima perlakuan tersebut dari sang pria, padahal status mereka bukanlah suami istri.

Seharusnya, wanita muslimah mengatakan, “Jangan katakan cinta, hai pria, jika keharaman yang kauinginkan. Jangan katakan cinta jika yang kauinginkan adalah berkhalwat (berduaan) dengan diriku tanpa ada ikatan pernikahan.”

Sebab, perbuatan tersebut haram hukumnya dan menjadi sarana menuju perbuatan zina. Allah l berfirman,

ﭽ ﮊ  ﮋ  ﮌﮍ  ﮎ     ﮏ      ﮐ  ﮑ   ﮒ  ﮓ  ﭼ

“Janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “Larangan mendekati zina lebih mengena daripada sekadar larangan untuk tidak melakukannya. Sebab, larangan mendekati zina mencakup larangan dari semua hal yang mengantarkan dan mendorong pada perbuatan zina.” (Taisirul Karimir Rahman pada ayat ini)

Rasulullah ` bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang pria berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahram.” (HR. al-Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 3336 dari Ibnu Abbas)

Dalam hadits yang lain Rasulullah ` bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

“Janganlah seorang pria berduaan dengan seorang wanita, karena setan akan menjadi pihak ketiga.” (HR. al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya [no. 114], dari ‘Umar bin al-Khaththab a)

“Apalagi jika yang kauinginkan adalah berpegangan tangan, berciuman, bahkan berpelukan….”

Sebab, semua itu adalah perbuatan haram.

Rasulullah ` bersabda,

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

“Kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. ar-Ruyani [no. 1300] dan ath-Thabarani [no. 16880], dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah 1/395)

Di dalam hadits lain disebutkan haramnya berciuman dengan wanita yang bukan mahram. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud a, ia berkata, “Seorang pria mencium seorang wanita, lalu datang kepada Nabi ` dan mengabari beliau tentang apa yang telah dilakukannya. Turunlah firman Allah l,

ﭽ ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ     ﮭ  ﮮ       ﮯﮰ  ﮱ   ﯓ  ﯔ  ﯕﯖ  ﯗ  ﯘ  ﯙ        ﯚ  ﭼ

“Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)

Pria itu bertanya, ‘Apakah ini hanya untuk saya, wahai Rasullullah?’ Beliau menjawab, “Untuk semua umatku’.” (HR. al-Bukhari no. 562 dan Muslim no. 2763)

“Yang lebih ngeri, jika yang kauinginkan adalah kenistaan hubungan seks di luar nikah. Sungguh, jangan pernah katakan cinta jika itu yang kauinginkan. Tidak tahukah engkau bahwa zina adalah perbuatan dosa yang sangat besar?”

Allah l berfirman,

ﭽ ﭑ  ﭒ   ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ   ﭗ  ﭘ      ﭙ  ﭚ     ﭛ    ﭜ  ﭝ  ﭞ     ﭟ  ﭠ   ﭡﭢ  ﭣ  ﭤ    ﭥ  ﭦ    ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ    ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ      ﭰ  ﭱ  ﭼ

“… dan orang-orang yang tidak menyembah ilah (sesembahan) yang lain beserta Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah (untuk membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.” (al-Furqan: 68—69)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t berkata, “Allah l secara jelas menyebutkan ketiga perbuatan ini (berbuat syirik, membunuh, dan berzina, ed.) karena ketiganya adalah dosa besar yang paling besar. Kesyirikan merusak agama, pembunuhan merusak badan, sedangkan zina merusak kehormatan.” (Taisirul Karimir Rahman pada ayat ini)

Abdullah bin Mas’ud a berkata,

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ. قُلْتُ: إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ

“Saya bertanya kepada Nabi `, ‘Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?’ Beliau menjawab, ‘Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dia telah menciptakanmu.’ Saya berkata, ‘Sesungguhnya itu dosa yang sangat besar.’ Saya bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Engkau membunuh anakmu karena khawatir dia makan bersamamu.’ Saya bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Ahmad t pernah berkata tentang dosa zina, “Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih besar dosanya—setelah dosa membunuh seseorang—daripada zina.” (ad-Da’ wad Dawa’ hlm. 230)

Dalam sebuah hadits digambarkan betapa mengerikan azab bagi orang yang berzina. Rasulullah ` bercerita tentang mimpi beliau, “…kemudian kami pergi. Sampailah kami di sebuah bangunan yang menyerupai tungku api. Dari sana terdengar suara hiruk pikuk. Kami menengok ke dalamnya, ternyata di dalamnya ada pria dan wanita yang telanjang. Dari bawah mereka datang kobaran api yang apabila mengenai mereka, mereka pun memekik. Aku bertanya, ‘Siapa mereka itu?’ … Mereka berdua menjawab, ‘Adapun sejumlah pria dan wanita telanjang yang berada di dalam bangunan mirip tungku api, mereka adalah para pezina’.” (HR. al-Bukhari no. 7047)

“Jadi, jangan pernah katakan cinta jika keharaman dan kenistaan yang kauinginkan. Yang kuinginkan adalah ungkapan cinta dalam bingkai akad nikah yang syar’i, yang kaujemput melalui orang tua atau waliku; bukan ungkapan cinta yang kaujadikan legalitas untuk berbuat haram dan nista.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − 6 =