Jangan Sia-Siakan Kebaikanmu

adab-15Al-Ustadz Marwan

Perbuatan hasanah (baik) atau amalan saleh yang telah dikerjakan di dunia ini merupakan modal pokok bagi setiap individu, baik muslim maupun muslimah. Perumpamaannya adalah seperti orang yang sedang berniaga. Adalah keberuntungan jika ia menjalani hari-hari perniagaannya dengan senantiasa meraup keuntungan sehingga hari demi hari, bertambahlah modal pokoknya. Tidak hanya itu, segala hal yang mengakibatkan kerugian dia tepis dan hindari.

Balasan dari Allah, Balasan yang Lebih Baik

Karena keluasan rahmat-Nya, amal saleh sekecil apa pun akan dilipatgandakan balasannya. Orang yang mengerjakannya akan diberi pahala yang lebih baik daripada amal tersebut. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman,

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Allah subhanallahu wa ta’ala juga berfirman,

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ١٦٠

“Barang siapa yang membawa amal kebaikan, baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (al-An’am: 160)

Dalam hadits qudsi riwayat al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwa Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman, “Barang siapa yang berniat kuat untuk mengerjakan amal saleh, Allah akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat dan hingga kelipatan yang sangat banyak.”

Semua itu tidak lain karena keutamaan dari Allah subhanallahu wa ta’ala dan keluasan rahmat-Nya.

Kemuliaan yang Harus Dijaga

Antara muslim yang satu dan muslim yang lain terdapat banyak hak yang wajib dijaga dan ditunaikan. Hak-hak tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam banyak hadits. Di antaranya adalah mengucapkan salam kepada saudara sesama muslim ketika bertemu dengannya, tidak mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari tiga malam, kecuali kepada orang yang terus-menerus bermaksiat dan tidak bertobat dari kemaksiatan tersebut; menjenguk saudara yang sakit, memberikan nasihat ketika saudaranya meminta nasihat, dan lain-lain.

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ

“Barang siapa mengagungkan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah, itu lebih baik baginya di sisi Rabbnya.” (al-Hajj: 30)

Makna perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah adalah segala sesuatu yang dijadikan mulia oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baik berupa tempat, waktu, maupun individu. Contoh tempat yang mulia adalah al-Haramain (Makkah dan Madinah) dan masjid-masjid. Contoh waktu yang mulia adalah bulan-bulan suci, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Barang siapa yang mengagungkan perkara-perkara yang dijadikan mulia di sisi Allah, hal itu lebih baik baginya di sisi Rabbnya.

Termasuk mengagungkan perkara-perkara yang dimuliakan oleh Allah adalah memuliakan saudara sesama muslim dan menempatkan mereka pada kedudukan yang semestinya. Tidak halal bagi seorang muslim menghinakan saudaranya sesama muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Cukuplah seseorang disebut jelek/jahat ketika ia menghinakan saudaranya sesama muslim dengan hatinya.” Yang lebih jelek adalah merendahkan saudaranya dengan lisan atau dengan tangan. Jika demikian, cukuplah ia mendapatkan dosa.

Termasuk mengagungkan kemuliaan kaum muslimin adalah menjaga darah mereka dari tindakan pembunuhan, menjaga harta benda mereka dari tindakan perampasan, dan menjaga kehormatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا

Sungguh darah-darah kalian, harta benda kalian, dan kehormatan-kehormatan kalian haram (untuk ditumpahkan, dirampas, dan dilanggar) atas sesama kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di negeri kalian ini, dan di bulan kalian ini.

Nabi n menekankan tiga hal yang wajib dimuliakan, yaitu darah, harta, dan kehormatan. Darah mencakup seluruh jiwa dan hal-hal yang berhubungan dengan jiwa. Harta mencakup harta yang sedikit dan harta yang banyak. Adapun melanggar kehormatan mencakup perbuatan zina, liwath (homoseksual), menuduh tanpa hak, ghibah, mencerca, dan mencela, yang semua ini haram dilakukan kepada sesama muslim.

Menjaga kehormatan sesama muslim termasuk menjaga tiga hal yang wajib dimuliakan. Oleh karena itu, tidak halal bagi seorang muslim mengghibah muslim yang lain. Sebab, ghibah termasuk perbuatan yang merusak kehormatan orang lain. Dengan demikian, termasuk upaya menjaga kemuliaan orang lain adalah menjaga lisan kita dari ucapan yang diharamkan, khususnya yang berkaitan dengan orang lain.

Hati-hati, Jangan Sia-siakan Kebaikan

Saudariku, kaum muslimah, rahimakumullah.

Hendaklah Anda senantiasa waspada. Jangan sampai Anda diperdaya oleh setan yang senantiasa berupaya keras mencari pengikut sebanyak-banyaknya untuk bersama-sama memenuhi neraka. Wal ‘iyadzu billah. Sementara itu, ash-Shadiqul Mashduq (Yang Benar dan Dibenarkan), yaitu Rasulullah n, menyatakan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah kaum wanita. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam menghadapi tipu daya setan. Tutuplah jalan-jalan setan agar Anda tidak terjerat dalam perangkapnya.

Di antara jalan setan adalah menghiasi lisan-lisan Anda, kaum Hawa, dengan kegemaran berbicara. Karena sifat banyak bicara ini, setan menjadikan indah bagi Anda pembicaraan yang menyangkut kehormatan sesama muslim. Akhirnya, tercapailah tujuan setan menjatuhkan kaum Hawa dalam perbuatan ghibah yang membinasakan.

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman tentang ghibah yang terlarang,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan persangkaan (kecurigaan), karena sebagian dari persangkaan itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.(al-Hujurat: 12)

Jalan-jalan setan yang lain pun wajib ditutup. Di antaranya adalah melaknat, mengucapkan sesuatu yang menunjukkan tidak adanya rasa syukur atas kebaikan suami, dan sebagainya. Di antaranya pula adalah namimah, yaitu menukil pembicaraan seseorang dan menyampaikannya kepada orang lain untuk merusak hubungan mereka. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ ١٠ هَمَّازٖ مَّشَّآءِۢ بِنَمِيمٖ ١١ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ ١٢

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.” (al-Qalam: 10—12)

Perbuatan-perbuatan tersebut dan yang semisalnya termasuk dosa besar. Karena perbuatan tersebut mengandung kezaliman kepada orang lain, sangat dikhawatirkan bahwa pelakunya termasuk orang yang menyia-nyiakan kebaikan yang telah diperbuatnya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah z, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barang siapa yang berbuat zalim kepada saudaranya, baik yang menyangkut kehormatan maupun hal lainnya, hendaklah ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut pada hari ini (di dunia), sebelum uang dinar dan dirham tidak berguna lagi. Pada saat tersebut, jika ia memiliki amal saleh, amalnya itu akan diambil sesuai dengan kadar kezaliman yang ia lakukan. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh, dosa orang yang dia zalimi itu akan diambil lalu dibebankan kepadanya.

Demikian peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ambillah peringatan berharga ini, Saudariku, kaum muslimah. Gunakan akal yang jernih agar Anda tidak terbawa perasaan yang bisa menyeret Anda kepada hawa nafsu.

Hindari Kepailitan di Akhirat dalam Perniagaan di Dunia

Saudariku, kaum muslimah, rahimakumullah.

Dunia adalah tempat bercocok tanam, tempat perniagaan, dan negeri yang fana. Adapun negeri akhirat adalah negeri pembalasan amal dan negeri yang kekal. Maka dari itu, Saudariku, jadilah hamba yang cerdas, yaitu hamba yang senantiasa berintrospeksi dan beramal saleh, mempersiapkan bekal untuk hari kemudian.

Orang yang cerdas tidak akan menjatuhkan diri dalam kepailitan. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, kepailitan yang sesungguhnya adalah kepailitan di akhirat sebagai akibat perbuatan zalim di dunia. Perbuatan zalim ini menyangkut hak-hak saudara sesama muslim di dunia, baik berupa kehormatan, darah, maupun harta benda. Maka dari itu, hindarilah berbagai bentuk kezaliman, baik yang dilakukan dengan lisan maupun dengan perbuatan. Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat kelak, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga telah menjelaskan hakikat kebangkrutan seseorang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tahukah kalian siapakah orang yang pailit itu?”

Para sahabat menjawab, “Orang yang pailit adalah yang tidak memiliki dirham, tidak pula memiliki harta benda.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang pailit dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat dan zakat. Namun, dahulu (ketika di dunia) ia telah mencaci si Fulan, menuduh si Fulan berbuat keji, memakan harta si Fulan, menumpahkan darah si Fulan, dan memukul si Fulan. Sebagai balasannya, kebaikannya diambil dan diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya ini. Ketika kebaikannya telah habis sedangkan kesalahan-kesalahannya belum terbayar lunas, dibebankanlah kepadanya dosa-dosa orang yang dizaliminya itu, kemudian ia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)

Adalah kerugian ketika seorang hamba bersusah payah menggunakan umur dan segala sesuatu yang dimilikinya untuk beramal saleh, tetapi kelak, pada hari perhitungan amal, amal tersebut harus dia serahkan kepada orang lain. Maka dari itu, ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mau berpikir.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 − one =