Juwairiyah radhiyallahu ‘anha

figur-mulia-12Al-Ustadzah Hikmah


JUWAIRIYAH radhiyallahu ‘anha

Sunnguh Pernikahanmu Membawa Berkah

 

Bermula dari Perang al-Muraisi’

Pada bulan Sya’ban tahun 5 atau 6 Hijriyah, pecahlah sebuah peperangan yang dinamakan Perang Bani al-Mushthaliq atau Perang al-Muraisi’.

Penyebab terjadinya perang tersebut adalah sampainya berita kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa pemimpin Bani al-Mushthaliq, yaitu al-Harits bin Abi Dhirar, mengajak kaumnya dan sebagian kabilah bangsa Arab untuk memerangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Berangkatlah Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami radhiyallahu ‘anhu guna melacak kebenaran berita tersebut. Buraidah langsung menemui al-Harits bin Abi Dhirar dan menanyakan kabar yang telah sampai kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Setelah diketahui bahwa kabar tersebut memang benar adanya, Rasulullah menyeru para sahabat agar segera keluar melakukan perjalanan pada bulan Sya’ban tahun 5 atau 6 H sebagaimana telah disebutkan. Ada beberapa orang munafik yang ikut dalam peperangan tersebut. Mereka tidak pernah sama sekali terjun dalam peperangan sebelum ini.

Rasulullah menugasi sahabat yang bernama Sa’id bin Haritsah untuk menjaga dan memimpin kota Madinah.[1] Sementara itu, al-Harits bin Abi Dhirar mengirim mata-mata untuk mengintai persiapan perang tentara kaum muslimin.

Ketika kaum muslimin mengetahui datangnya mata-mata tersebut, segera mereka memasang perangkap untuk menjebaknya. Alhamdulillah, kaum muslimin berhasil menangkap lalu membunuhnya.

Tatkala al-Harits mendengar kabar bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mulai berjalan menuju Bani al-Mushthaliq untuk menyerangnya dan kaumnya, sementara itu mata-matanya telah mati terbunuh, timbullah rasa takut yang sangat di hati al-Harits dan kaumnya. Di sisi lain, beberapa suku Arab yang tadinya telah siap membantu al-Harits segera berpencar, lari tunggang-langgang.

Akhirnya, sampailah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam di sebelah sumber air milik Bani al-Mushthaliq yang bernama al-Muraisi’. Sumber air ini terletak sejalur dengan Qudaid ke arah pantai. Para sahabat pun telah bersiap-siap untuk berperang.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengatur shaf (barisan) para sahabat g. Bendera Muhajirin dipegang oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sedangkan bendera Anshar dipegang oleh Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu.[2] Ketika musuh lengah, Rasulullah melakukan penyerangan secara tiba-tiba. Pada saat itu binatang-binatang ternak milik Bani al-Mushthaliq sedang digembalakan di sebelah mata air.

Rasulullah menyerang dan memerangi beberapa orang Bani al-Mushthaliq yang berusaha melakukan perlawanan. Adapun kaum wanita dan anak-anak hanya ditawan, tidak dibunuh. Kaum muslimin juga berhasil merampas harta kekayaan mereka dan memboyong binatang-binatang ternak mereka.

 

Berkah Besar di Balik Pernikahan Juwairiyah radhiyallahu ‘anha

Di antara tawanan Bani al-Mushthaliq ada seorang wanita yang cantik manis layaknya putri raja. Wanita tersebut adalah anak perempuan al-Harits bin Abi Dhirar, yang ikut tertawan akibat kekalahan ayahnya. Ia bernama Juwairiyah. Ya, Juwairiyah bintu al-Harits bin Abi Dhirar bin al-Harits bin Malik bin al-Mushthaliq.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam membagi-bagikan tawanan-tawanan perang tersebut kepada para sahabat beliau. Putri al-Musthaliqiyyah tersebut tercatat sebagai bagian perang milik Tsabit bin Qais bin Syammas radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat yang dijanjikan masuk jannah oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Kini, Juwairiyah berstatus budak milik Tsabit bin Qais bin Syammas radhiyallahu ‘anhu. Putri pemimpin Bani al-Mushthaliq ini pun berniat memerdekakan dirinya.

Pembaca Qonitah, ada beberapa cara yang bisa ditempuh oleh seorang budak apabila ia ingin merdeka dari tuannya. Di antaranya adalah melakukan mukatabah. Mukatabah adalah seorang budak menebus dirinya dengan sejumlah harta sehingga ia menjadi orang merdeka. Juwairiyah bermaksud mengajukan mukatabah kepada tuannya, yaitu Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu, maka datanglah Juwairiyah kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Dia menemui Rasulullah dengan tujuan meminta bantuan sejumlah harta guna mewujudkan keinginannya melakukan mukatabah.

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Juwairiyah, timbul di hati beliau keinginan untuk menikahinya. Beliau pun menyampaikan maksud hati beliau kepada putri Bani al-Mushthaliq tersebut. Maksudnya, Rasulullah akan memenuhi keinginan Juwairiyah dengan membantunya untuk menebus dirinya dari Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu, lalu menikahinya.

Juwairiyah pun setuju. Akhirnya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam membayar mukatabah Juwairiyah kemudian menikahinya. Pernikahan ini membawa berkah yang luar biasa bagi Ummul Mukminin. Dengan sebab pernikahan tersebut, para sahabat g mengikuti jejak Rasulullah dengan memerdekakan seratus keluarga dari Bani al-Mushthaliq yang telah masuk Islam.

Apa yang mendorong mereka melakukan perbuatan tersebut? Para sahabat radhiyallahu ‘anhum beralasan bahwa seratus keluarga yang dimerdekakan itu adalah kerabat istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sehingga tidak pantas menjadi budak.[3]

 

Tekun Beribadah

Juwairiyah bintu al-Harits adalah sosok wanita yang tekun beribadah. Beliau kuat duduk dari selesai menunaikan shalat subuh hingga waktu dhuha untuk berzikir. Pada suatu pagi, sesudah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menunaikan shalat subuh, beliau keluar dari sisi Juwairiyah yang sedang berada di mushalla (tempat shalat) di rumah. Kemudian, Rasulullah kembali ke tempat tersebut pada waktu dhuha. Ternyata, Juwairiyah masih duduk berzikir di tempatnya semula. Melihat hal itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Engkau terus duduk berzikir di sini sejak tadi pagi ketika aku meninggalkanmu?”

“Ya,” jawab Juwairiyah.

Nabi bersabda, “Sungguh, aku telah membaca empat kalimat sebanyak tiga kali, yang seandainya bacaan tersebut ditimbang bersama zikir yang kamu baca sejak pagi hari ini, pasti akan seimbang. (Zikir tersebut adalah),

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

“Mahasuci Allah lagi Maha Terpuji, (dengan tasbih dan tahmid) sejumlah makhluk-Nya, sepenuh ridha Diri-Nya, seberat ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim no. 2426)

Ummul Mukminin Juwairiyah radhiyallahu ‘anha juga merupakan sosok wanita yang rajin menunaikan puasa sunnah. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah hadits darinya bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam masuk menemuinya pada hari Jumat. Ketika itu ia sedang berpuasa. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Apakah kamu kemarin berpuasa?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah kamu ingin puasa besok?” Juwairiyah kembali menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, Kalau begitu, berbukalah!” Juwairiyah pun berbuka puasa. (HR. al-Bukhari no. 1986)

Demikian sekelumit kisah tentang figur mulia, Ummul Mukminin Juwairiyah bintu al-Harits bin Abi Dhirar al-Musthaliqiyyah, yang dapat kami persembahkan. Semoga bermanfaat.

Sumber bacaan:

  1. Ar-Rahiq al-Makhtum.
  2. Fathul Bari, Ibnu Hajar.
  3. Shahih al-Bukhari.
  4. Shahih Muslim.

[1] Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa yang ditugasi menjaga dan memimpin Madinah adalah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Ada pula yang mengatakan bahwa yang ditugasi adalah Numailah bin ‘Abdillah al-Laitsi.

[2] Ar-Rahiq al-Makhtum, al-Mubarakfuri, bab “Ghazwah Bani al-Mushthaliq au Ghazwah al-Muraisi’”.

[3] Lihat Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, hadits no. 2542.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen + fifteen =