Kalimat Thayyibah Bagian-2

wirid-11Al-Ustadz Idral Harits

Kalimat Thayyibah  لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

(Tidak Ada Sembahan yang Haq kecuali Allah) Bagian 2

 

Mengapa Kalimat Ini Sangat Mulia?

Agar kalimat yang agung ini semakin terasa nikmat dan berkesan ketika kita ucapkan, kita perlu mengetahui maknanya. Apalagi, mempelajarinya adalah sebuah kewajiban dan didahulukan daripada perkara lainnya.

Allah berfirman,

فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sembahan yang haq melainkan Allah. (Muhammad: 19)

Al-Imam al-Bukhari membuat sebuah bab dalam kitab Shahihnya, yaitu “Bab Berilmu sebelum Berbicara dan Beramal”. Kemudian, beliau mencantumkan ayat ini sebagai dalil atas bab yang beliau tulis. Sebagaimana diterangkan oleh ulama, fikih dan ijtihad al-Imam al-Bukhari ada pada bab-bab yang beliau susun. Wallahu a’lam.

Adapun tentang ayat ini, asy-Syaikh as-Sa’di, dalam Tafsirnya, menerangkannya sebagai berikut.

“Sebuah pengetahuan (ilmu), harus ada ikrar dan ma’rifat (pengenalan) di dalam hati tentang makna yang dituntut oleh ilmu tersebut. Sebagai pelengkapnya ialah melaksanakan konsekuensi ilmu tersebut.

Ilmu yang diperintahkan oleh Allah untuk dimiliki—yaitu ilmu tentang tauhidullah—ini hukumnya fardhu ‘ain atas setiap manusia, tidak gugur dari seorang pun, siapa pun dia. Bahkan, setiap orang sangat memerlukannya.

Adapun jalan untuk mendapatkan ilmu bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Dia adalah:

Yang pertama, bahkan yang paling utama, ialah menadabburi nama dan sifat-sifat Allah serta perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan kesempurnaan, kebesaran, dan kemuliaan-Nya. Hal ini akan mendorong seseorang untuk mengerahkan segenap kesungguhannya untuk mencintai-Nya dan beribadah kepada Rabb Yang Mahasempurna dalam segala hal.

Yang kedua, mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sendirian dalam mencipta dan mengatur, maka harus diyakini bahwa Dia sendirian pula dalam uluhiyyah (hak untuk diibadahi).

Yang ketiga, mengetahui bahwa Dia sendirian dalam memberikan kenikmatan lahir dan batin, dunia dan agama. Hal ini akan mengharuskannya untuk menggantungkan hati dan mencintai-Nya serta beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Yang keempat, melihat dan mendengar berbagai pahala yang disediakan untuk para wali Allah yang menauhidkan-Nya, seperti kemenangan dan kenikmatan yang disegerakan; dan berbagai hukuman-Nya terhadap musuh-musuh-Nya yang menyekutukan-Nya. Ini semua akan membawa kepada ilmu (dan keyakinan) bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang berhak menerima seluruh peribadahan.

Yang kelima, mengenal keadaan berhala dan tandingan yang diibadahi bersama Allah dan dijadikan sembahan (diagungkan, dipuja, ditaati, dan dicintai serta dibela), bahwa sembahan-sembahan tersebut serba kurang dari sisi mana pun. Zat mereka sangat tergantung pada yang lain (serba fakir).

Mereka tidak kuasa mendatangkan mudarat dan manfaat apa pun, baik untuk diri sendiri maupun untuk para pemuja dan penyembahnya. Para sembahan itu tidak kuasa mematikan, menghidupkan, dan membangkitkan. Mereka tidak mampu menolong orang yang menyembah mereka, dan tidak memberikan manfaat kepada mereka walaupun sebesar biji sawi, apakah dengan mendatangkan kebaikan atau menolak kejelekan dari mereka.

Mengetahui hal-hal ini akan mendorong untuk meyakini bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa uluhiyyah segala sesuatu selain Dia adalah batil.

Yang keenam, kecocokan dan kesesuaian semua Kitab Allah tentang hal ini.

Yang ketujuh, bahwa hamba-Nya yang pilihan, yaitu orang-orang yang paling sempurna akhlak, akal, pemikiran, kelurusan, dan ilmunya—mereka adalah para nabi dan rasul serta ulama rabbani, telah pula mempersaksikan hal ini.

Yang kedelapan, bukti-bukti yang ada di alam semesta dan pada diri manusia, yang disebarkan oleh Allah dan menunjukkan tauhid, merupakan dalil yang paling besar. Kenyataan telah membuktikan betapa halus pekerjaan-Nya, betapa indah hikmah-Nya, dan betapa ajaib ciptaan-Nya.

Itulah beberapa jalan yang sering digunakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengajak manusia agar mereka mengetahui bahwasanya memang tidak ada ilah (yang berhak menerima ibadah) yang haq kecuali Allah, satu-satunya. Allah memulainya dalam Kitab-Nya kemudian mengulanginya. Andaikata seorang manusia mau memerhatikan sebagian saja, tentu tumbuh padanya ilmu dan keyakinan akan hal ini.

Bagaimana pula jika semua itu terkumpul dan bersesuaian, bahkan dalil-dalil tauhid ini tegak dari semua sisi? Pada saat itulah iman dan ilmu (tentang Allah) akan tertanam kuat dalam hati seorang manusia, seperti gunung yang tinggi menjulang, tidak tergoyahkan oleh berbagai syubhat dan khayalan. Berulangnya kebatilan dan syubhat itu justru membuatnya semakin tumbuh dan sempurna.

Demikianlah. Apabila Anda memerhatikan dalil dan perkara paling besar ini, yaitu menadabburi al-Qur’anul ‘Azhim dan memerhatikan ayat-ayatnya, sungguh, ini adalah pintu masuk paling utama menuju ilmu tentang tauhid. Dengan itu pula akan diperoleh perincian dan globalnya, yang tidak mungkin didapatkan dari yang lainnya.”[1]

Keutamaannya

Dari uraian di atas, sangatlah pantas kita mengulang-ulang kalimat ini dalam setiap kesempatan. Sebab, kalimat ini adalah zikir yang paling utama, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam,

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Seutama-utama zikir adalah ucapan la ilaha illallah (tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah).”[2]

Kalimat ini menjadi pemisah antara kekafiran dan keimanan, bahkan menjadi cabang tertinggi keimanan. Kalimat ini adalah rukun pertama Islam, yang tidak akan diterima rukun-rukun lainnya, sebanyak dan sebaik apa pun, jika rukun yang pertama ini tidak ada atau gugur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat bahwa tidak ada sembahan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, naik haji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”[3]

Kalimat ini lebih menyatukan hati kepada Allah, sangat kuat menafikan sesuatu selain Dia, sangat tajam dalam menyucikan jiwa dan batin, dan lebih keras dalam mengusir setan.

Kalimat ini adalah kalimat tauhid, sedangkan tauhid tidak bisa diimbangi oleh sesuatu pun. Kalimat inilah yang diucapkan oleh para nabi shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim, bahkan merupakan seutama-utama perkataan mereka. Karena kalimat inilah langit dan bumi tegak, manusia dan jin diciptakan, para nabi dan rasul diutus, kitab-kitab diturunkan, dan berbagai syariat ditetapkan.

Kalimat ini adalah hak Allah yang asasi dan paling utama.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (adz-Dzariyat: 56)

Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia, serta mengutus para rasul untuk mengajak mereka kepada tujuan ini: beribadah hanya kepada Allah, yang menyiratkan adanya ma’rifat kepada Allah, mencintai-Nya, kembali dan menghadap kepada-Nya, serta meninggalkan segala sesuatu selain Dia. Sebab, kesempurnaan ibadah itu tergantung pada ma’rifatullah. Semakin besar ma’rifat seorang manusia kepada Rabbnya, niscaya ibadahnya pun semakin sempurna.

Kalimat la ilaha illallah adalah harga untuk membeli surga, sebagaimana dalam riwayat,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang akhir perkataannya adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ (tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah) tentu masuk surga.”

Kalimat ini adalah ‘penyelamat’ dari neraka, bagi orang yang mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجهَ اللهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang-orang yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ demi mengharap Wajah Allah semata.”[4]

Mereka yang mengucapkan kalimat ini dengan jujur dari dasar hatinya adalah orang-orang yang paling beruntung memperoleh syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagaimana sabda beliau:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang paling berbahagia menerima syafaatku pada hari kiamat ialah mereka yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ dengan ikhlas dari hati atau jiwanya.”

Inilah amalan yang lebih berat dalam timbangan, apabila diucapkan dengan ikhlas dan jujur dari dalam hati. Disebutkan dalam hadits,

 

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلاَئِقِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ، كُلُّ سِجِلٍّ مَدُّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هذَا شَيْئًا؟ فَيَقُولُ: لاَ، يَا رَبِّ. فَيَقُولُ: أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لاَ، يَا رَبِّ. ثُمَّ يَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَلَكَ حَسَنَةٌ؟ فَيَهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ: لاَ. فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَارَبِّ، مَا هَذِهِ البِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ؟ فَيَقُولُ: إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ في كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ في كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

 

“Akan dipanggil salah seorang umatku di hadapan seluruh khalayak manusia, lalu dibentangkan untuknya 99 catatan amalan, yang tiap-tiap catatan itu (terbentang) sejauh mata memandang.

Kemudian, Allah berfirman,Apakah kamu mengingkari sebagian dari catatan ini?

Dia berkata,Tidak, wahai Rabbku.’

Apakah para penulis-Ku telah menzalimimu?

Dia berkata lagi,Tidak, wahai Rabbku.

Apakah engkau mempunyai uzur (untuk mengelak) atau kebaikan?

Laki-laki itu ketakutan dan berkata,Tidak.

Akan tetapi, Allah berkata, ‘Sebaliknya, sesungguhnya kamu mempunyai kebaikan di sisi Kami, dan sesungguhnya tidak ada kezaliman terhadapmu pada hari ini.’

Lalu dikeluarkanlah untuknya sehelai kartu yang tertulis padanya أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ (Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya).

Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, apa gunanya kartu ini dibandingkan (99) catatan amalan ini?’

Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu tidak akan dizalimi.’ Lalu diletakkanlah 99 catatan amalan itu di satu anak timbangan, dan kartu di anak timbangan yang lain, maka terangkatlah catatan amalan itu dan beratlah kartu tersebut.”[5]

Tentang kalimat ini berikut hak-hak dan konsekuensinyalah terjadi tanya jawab di dalam kubur dan di akhirat, serta hisab.

Artinya, kita semua akan ditanya apa yang dahulu kita sembah dan kita ibadahi, serta bagaimana kita menyambut seruan para rasul.

Wallahu a’lam.

 

[1] Lihat Tafsir asSa’di tentang ayat ini.

[2] HR. at-Tirmidzi no. 3383 dan Ibnu Majah no. 3800 dari Jabir, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani v.

[3] HR. al-Bukhari dan Muslim.

[4] HR. al-Bukhari dan Muslim.

[5] HR. at-Tirmidzi no. 2639. Kata beliau, “Hasan gharib.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + 2 =