Kalimat Thayyibah Bagian-3

wirid-12Al-Ustadz Idral Harits

Kalimat Thayyibah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

(Tidak Ada Sembahan yang Haq kecuali Allah) – Bagian 3

 

Konsekuensi Yang Tidak Bisa Ditawar

Setelah memahami sebagian dari pengertian dan hakikat makna kalimat yang agung ini, kita perlu mengenal hal-hal yang dituntut dari orang-orang yang mengucapkannya, bukan sekadar melafadzkan atau membacanya ribuan kali setiap hari tanpa mengerti hakikatnya, atau tanpa ada kenyataannya dalam keseharian kita.

Tahukah Anda bahwa ketika menyebarkan dan mendakwahkan kalimat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam harus menghadapi tekanan dan permusuhan masyarakat beliau, mulai dari bangsawan sampai rakyat biasa? Bahkan, orang-orang yang tinggal di dusun dan datang ke kota ikut memusuhi, mengejek, dan menentang beliau?

Simaklah kembali perjalanan hidup junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Jangan sekadar tahu dan latah mengadakan natal (baca: muludan) Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam, tetapi tidak peduli akan penderitaan dan kesulitan yang beliau hadapi dalam menyebarkan kalimat tauhid ini.

Renungkan pula, andaikata yang dituntut sekadar melafadzkan, tanpa memahami hakikatnya, atau mengucapkannya tanpa meyakini kebenaran dan menjalankan konsekuensinya, tentu tidak akan ada jihad dan tidak ada tahdzir terhadap kaum munafik yang juga mengucapkan kalimat ini. Bahkan, tidak akan ada dalam buku-buku para ulama bahasan tentang hukum orang-orang yang murtad (keluar dari Islam).

Alhasil, apa yang akan dipaparkan ini bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat berat. Memang demikianlah kenyataannya, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan perkataan yang sangat berat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ٥

 

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (alMuzzammil: 5)

Perkataan berat ini tidak ada yang merasakannya selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Karena agungnya urusan ini, Jibril datang menemui ketika beliau sedang beribadah di Hira`.

Begitu beratnya perkataan ini, bercucuran keringat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau menerimanya, padahal saat itu musim dingin yang berat.

Begitu beratnya perkataan ini, paha sebagian sahabat yang ditumpu oleh paha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam serasa patah.

Pernahkah mereka, yang melantunkan Barzanji atau sejenisnya, membayangkan hal ini? Adakah mereka memahami—sedikit saja—bahwa kalimat ini bukan sekadar ucapan dan hiasan bibir, yang dibaca ribuan kali setiap hari, lalu tercapailah apa yang dijanjikan?

Ataukah kalimat ini—ketika diucapkan dengan jujur, diiringi dengan pemahaman yang dalam tentang hakikatnya—menuntut sekian konsekuensi yang tidak bisa ditawar?

Ya, yang kedua inilah yang lebih dekat. Inilah yang terjadi pada generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat, bahkan di kalangan mereka yang belakangan masuk Islam, yaitu sesudah Fathu Makkah atau Hudaibiyah.

Artinya, setelah mereka yang belakangan masuk Islam ini memahami hakikat dan konsekuensinya, sebagian mereka mengatakan, “Di dunia kita didahului oleh mereka (yang mula-mula beriman), tetapi di akhirat kita akan mendesak mereka (berjejal dengan mereka) memasuki surga.”

Salah satu kisah yang sering kita ulang dan kita kenang dari orang-orang yang terlambat masuk Islam, tetapi akhirnya gugur sebagai kembang syuhada, adalah peristiwa heroik di bumi Yarmuk. Mereka tokoh Quraisy yang sebelum masuk Islam menjadi gembong-gembong kesesatan, terdepan dalam menindas kaum muslimin, dan pelopor dalam menghalangi dakwah Islam.

Tanyakan… tanyakanlah bumi kepada Yarmuk, apa yang terjadi pada ‘Ikrimah bin Abi Jahl, yang dahulu bersama ayahnya yang dijuluki Fir’aun umat ini, sangat keras memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, menentang Islam, dan menindas kaum muslimin.

Tanyakan… tanyakanlah kepada bumi Yarmuk, bagaimana gugurnya al-Harits bin Hisyam, yang dahulu adalah orang pertama yang dicari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam untuk dihukum mati meskipun bergelantung pada tirai Ka’bah.

Tanyakan bagaimana istri ‘Ikrimah, yang baru sesaat masuk Islam, ketika dia menjemput suaminya, ‘Ikrimah, lalu ‘Ikrimah menginginkan dirinya, dia berkata, “Saya sudah masuk Islam, sedangkan kamu masih musyrik”.

Dia segera memahami arti kesucian Islam.

Subhanallahi, adakah ini tergambar dalam benak mereka yang selalu melafadzkan kalimat tauhid ini?

Lantas, apa saja konsekuensi yang tidak bisa ditawar oleh mereka yang mengucapkan kalimat ini, mengangkat kesaksian (bersyahadat) dengan mengucapkan kalimat ini?

Banyak sekaligus berat, kecuali bagi mereka yang diberi taufik oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara konsekuensi kalimat ini ialah sebagai berikut.

Orang yang mengucapkannya berarti meyakini bahwa tidak ada yang mencipta, memberi rezeki, dan mengatur alam semesta, selain Allah. Oleh karena itu, dia tidak akan menyerahkan ibadah, dalam bentuk apa pun, kepada segala sesuatu yang tidak bisa mencipta, memberi rezeki, ataupun mengatur.

Dia tidak akan berdoa, meminta atau mengharapkan pertolongan, rezeki, kesehatan, kebahagiaan, dan kesenangan apa pun kepada sesuatu selain Allah subhanahu wa ta’ala. Dia tidak akan datang ke kuburan demi mengharapkan karunia dari penghuni kubur itu, sebaik apa pun orang yang dikubur di situ.

Dia tidak akan menyandarkan keberhasilannya meraih sesuatu yang diharapkan atau selamat dari sesuatu yang tidak diinginkannya, kepada sesuatu selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Dia tidak akan merendahkan dirinya kepada sesuatu selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Dia menjadikan cinta, rasa takut, dan harapnya hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kalaupun dia mencintai sesuatu, semua itu karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika menjalani sebab, dia tetap berkeyakinan bahwa Allah-lah yang memudahkan semua itu. Allah subhanahu wa ta’ala-lah yang menjadikannya sebagai sebab, dan Dia pula yang menetapkan akibatnya serta menakdirkan adanya hubungan antara sebab dan akibat tersebut.

Orang yang mengucapkannya tidak akan menyerahkan ketundukan dan ketaatannya kecuali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dia tidak akan mendahulukan siapa pun daripada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apabila berbenturan antara kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dan keinginan dirinya, dia akan mendahulukan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala daripada dorongan nafsunya.

Semua berita dari Allah subhanahu wa ta’ala pasti dibenarkan dan diterimanya, meskipun dia belum memahaminya. Semua perintah Allah subhanahu wa ta’ala pasti dikerjakannya semampunya, dan semua larangan-Nya pasti ditinggalkannya.

Dia tidak akan beribadah kecuali dengan syariat yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ringkasnya, mereka yang benar-benar mengamalkan apa yang dituntut oleh kalimat tauhid ini sangat kecil kemungkinannya jatuh ke dalam syirik, besar ataupun kecil; sangat jauh untuk terjatuh ke dalam kebid’ahan, hizbiyah, dan kemaksiatan.

Mereka yang betul-betul melaksanakannya, tentu—dengan izin Allah—akan merasakan manisnya iman.

Mungkinkah kita meraihnya?

Mengapa tidak mungkin?

Berapa abad rentang waktu antara masa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, al-Mizzi, Ibnu Katsir, dan adz-Dzahabi, dan masa Ibnu Sirin dan al-Hasan al-Bashri, atau masa Sa’id bin al-Musayyab, az-Zuhri, dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz?

Berapa pula rentang waktu antara zaman ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Ibnu ‘Utsaimin, al-Albani, at-Tuwaijiri, al-Jami, dan Muqbil bin Hadi, dan zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah?

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka semuanya.

Coba renungkan, coba bayangkan. Jauhnya rentang waktu tersebut tidak membuat mereka jauh tertinggal dari generasi pendahulu.

Sekarang kita tanyakan kepada diri sendiri, berapa jarak antara kita dan asy-Syaikh Bin Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Muqbil bin Hadi, dan al-Albani rahimahumullahu?

Bagaimana langkah kita dengan mereka? Seakan-akan kita di dalam kubangan tanah, sedangkan mereka di bintang kejora.

Mereka adalah orang-orang yang memahami kalimat ini, terbukti dengan uraian yang mereka sampaikan kepada kita. Tidak hanya itu, mereka juga menunjukkan kepada kita bagaimana mengamalkannya.

Adakah kita akan mengucapkan, “Saya tidak mampu”?

Itulah sebagian kecil dari konskuensi atau hal-hal yang dituntut oleh kalimat yang agung ini, yang bukan sekadar kata, bukan sekadar lafadz.

Bagaimana kalau terjadi cacat, dia terjerumus dalam pelanggaran atau dalam hal-hal yang menyalahi konsekuensi tersebut?

Kalau itu terjadi setelah dia berusaha menjalani dan menjaganya, itulah kenyataan bahwa dia manusia. Oleh karena itu, hendaklah dia kembali pada saat itu juga kepada Penciptanya, mengakui kekurangan, kesalahan, dan kelemahannya, serta bertobat dan memohon ampun.

Tentang ini, insya Allah, akan dijelaskan pada edisi berikut, yaitu Sayyidul Istighfar.

Wallahul Muwaffiq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + 6 =