Keagungan Surat Al-Falaq dan An-Nas (Al- Mu’awwidazatain) Bagian 1

tadabur-alquran-6Al-Ustadz Abdurrahman Dani

Manusia adalah salah satu jenis makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang hidup bermasyarakat di muka bumi ini. Makhluk Allah subhanahu wa ta’ala amatlah banyak dan beragam. Ada yang tampak, ada yang tidak tampak; ada yang besar, ada yang kecil; ada yang bermanfaat, ada yang berbahaya; ada yang menjadi teman, ada yang menjadi musuh. Disukai atau tidak, semua ini diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai hikmah bagi makhluk-Nya.

Manusia memiliki musuh, baik dari dirinya sendiri maupun dari lingkungan sekitarnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya setan mengalir dalam pembuluh darah anak Adam.” (HR. Muslim no. 2173)

Oleh karena itu, setiap hari manusia berada di medan peperangan, melawan musuh dalam dirinya. Hanya ada dua kemungkinan: menang atau kalah.

Ketika dia marah, pembuluh darahnya melebar sehingga setan pun leluasa menguasainya. Tatkala dia lalai dari dzikrullah, setan pun menguasainya, begitu pula sebaliknya.

Musuh manusia dari lingkungan sekitarnya lebih beragam. Musuh ini bisa berupa benda mati, hewan, kegelapan malam, bangsa jin[1], dsb. Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya n telah mengajarkan kepada hamba-Nya cara membentengi diri dan melawan musuh-musuh tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ

Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, mohonlah perlindungan kepada Allah.” (Fushshilat: 36)

Salah satu cara membentengi diri adalah membaca surat al-Falaq dan an-Nas. Kedua surat ini dikenal dengan sebutan al-Mu’awwidzatain (dua pelindung) karena diamalkan untuk berlindung dan membentengi diri.

 

Keutamaan al-Falaq dan an-Nas

Di antara keutamaan-keutamaannya adalah sebagai berikut.

  1. Tidak ada surat yang menyerupainya—yang digunakan untuk beristi’adzah (minta perlindungan)—di dalam Taurat, Injil, bahkan al-Qur’an. Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ هَذِهِ اللَّيْلَةَ، لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ : قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ و قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

“Tidakkah kamu melihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini? Tidak ada yang semisal dengannya sama sekali. Ayat-ayat tersebut adalah surat Qul a’udzu birabbil falaq dan Qul a’udzu birabbin nas.”

  1. Keduanya membentengi diri dari penyakit ain (penyakit akibat pandangan yang berbahaya, baik pandangan bangsa jin maupun manusia).

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan sanad yang hasan, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam beristi’adzah dari penyakit ‘ain, baik dari bangsa jin maupun manusia.

  1. Membacanya dapat menghilangkan rasa sakit. Diriwayatkan oleh al-Imam Malik dengan sanad yang shahih, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, apabila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam merasakan sakit, beliau membaca al-Mu’awwidzatain dan meniupkannya pada kedua telapak tangan kemudian mengusapkannya pada daerah yang sakit.
  2. Surat al-Falaq dan an-Nas menjadi benteng ketika seseorang bermalam (tidur). Caranya disebutkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, yaitu dengan menggabungkan kedua telapak tangan, meniup pada keduanya, kemudian membaca pada keduanya surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas. Setelah itu, kedua telapak tangan diusapkan ke badan, dimulai dari kepala dan wajah, hingga anggota badan yang bisa dijangkau. Hal ini dilakukan tiga kali. (HR. al-Bukhari no. 5017 dan Muslim no. 2192)
  3. Kedua surat ini termasuk surat yang paling sering dibaca, sebagai zikir pagi dan zikir petang, bacaan surat dalam shalat, dan yang telah disebutkan di atas.

 

Surat al-Falaq

Surat ini termasuk surat pendek yang selayaknya dihafal seperti surat al-Ikhlas yang telah kita bahas sebelumnya. Surat al-Falaq terdiri atas lima ayat.

Jenis dan sebab turunnya

Ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang jenisnya.

  1. Madaniyyah, diriwayatkan dari Abu Shalih dari Ibnu ‘Abbas; ini juga pendapat Qatadah.
  2. Makkiyyah, diriwayatkan oleh Kuraib dari Ibnu ‘Abbas; ini juga pendapat ‘Atha, ‘Ikrimah, al-Hasan, dan Jabir.

Pendapat yang paling shahih adalah pendapat yang pertama.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa sebab turunnya surat ini adalah tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam disihir oleh Labid bin al-A’sham. Labid meletakkan ikatan sihir—terdiri atas sebelas ikatan yang tersusun dari gigi sisir dan rambut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam—di bawah sumur Bani Zuraiq. Tatkala ayat demi ayat dari al-Mu’awwidzatain yang seluruhnya berjumlah sebelas ayat dibacakan, terlepaslah sebelas ikatan sihir tersebut.

Al-Muwahhidi berkata, “Tidak didapati dalam kitab keterangan tentang shahihnya peristiwa ini sebagai sebab turunnya surat tersebut.”—walaupun hadits tersebut adalah hadits yang shahih.

Sebagian ahli tafsir juga berpendapat bahwa sebab turunnya surat tersebut adalah kesedihan kaum Quraisy karena tersebarnya berita bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam terkena penyakit ‘ain. Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Mu’awwidzatain untuk melindungi mereka. Akan tetapi, riwayat ini tidak disebutkan dengan sanadnya. Wallahu a’lam.

Tafsir ayat

  • قُلْ (katakanlah)

Surat ini dimulai dengan kata perintah untuk menunjukkan bahwa kalimat yang akan disebutkan setelahnya adalah urusan yang penting (sebagaimana tafsir yang telah lalu tentang surat al-Ikhlas).

  • أَعُوذُ (aku berlindung)

Lafadz عَاذَ menunjukkan makna perlindungan, pembentengan diri, dan keselamatan. Hakikat maknanya adalah lari dari sesuatu yang membuat takut, menuju Dzat yang bisa melindunginya. (Bada’i at-Tafsir 5/376)

Dalam surat al-Falaq terdapat isti’adzah (permohonan perlindungan) dari empat hal:

  1. Dari semua makhluk yang mempunyai kejelekan secara keumuman,
  2. Dari ghasiqin idza waqab (maknanya akan dijelaskan kemudian),
  3. Dari kejelekan tukang sihir yang meniup ikatan sihirnya,
  4. Dari kejelekan tukang hasad ketika dia berbuat hasad.

(Bada’i at-Tafsir 5/382)

  • الْفَلَقِ

Maknanya menurut pendapat ulama tafsir:

  1. Waktu subuh.
  2. Makhluk.
  3. Penjara dalam neraka.
  4. Pepohonan di neraka.
  5. Segala sesuatu yang terbelah, seperti waktu subuh dan biji-bijian. Az-Zajjaj berkata, “Jika kamu renungkan, di antara yang sering terbelah adalah bumi, tanaman, awan dengan hujan (awan terbelah dengan dimulainya hujan).”
  6. Salah satu nama neraka Jahannam.
  7. Rumah di Jahannam; jika terbuka, berteriaklah penghuni neraka karena panasnya yang sangat.
  8. Sumur dalam lembah Jahannam yang tertutup, Jika tutup sumur terbuka, keluarlah api darinya dan berteriaklah penghuni neraka karena panasnya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ibnu Jarir mengatakan, ‘Yang benar adalah pendapat yang pertama, yaitu falaq ash-shubuh. Inilah yang benar dan yang dipilih oleh al-Imam al-Bukhari’.”

  • مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (dari kejelekan makhluk-Nya)

Asy-syarr (kejelekan) adalah lawan kebaikan. (Mukhtar ash-Shihah)

Kejelekan yang menimpa hamba tidak lepas dari dua hal berikut.

  1. Kejelekan akibat dosa yang dia lakukan. Kejelekan ini terjadi karena perbuatan, tujuan, dan usaha si hamba. Ini kejelekan yang paling besar dan terus-menerus menimpa pelakunya.
  2. Kejelekan karena pengaruh dari luar, baik yang mukallaf maupun bukan. Yang mukallaf misalnya manusia seperti dirinya atau jin. Adapun yang bukan mukallaf misalnya hewan berbisa, hewan bersengat, dan sebagainya. (Bada’i at-Tafsir 5/382)

Ada tiga pendapat tentang makna مَا خَلَقَ:

  1. Makna lahiriahnya, yaitu semua makhuk.
  2. Iblis dan keturunannya.
  3. Jahannam. (Zadul Masir 8/345)

 

  • وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (dan dari kejelekan malam apabila telah gelap gulita)

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna al-ghasiq.

  1. Maknanya adalah bulan.

Dari ‘Aisyah , dia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memegang tanganku dan memperlihatkan kepadaku bulan ketika terbit. Beliau bersabda, ‘Berlindunglah kepada Allah dari kejelekan awal masuknya malam’.”(HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi no. 268)

Ibnu Qutaibah berkata, “Al-Ghasiq adalah menghitamnya bulan tatkala gerhana.”

  1. Maknanya adalah bintang.

Makna ini diambil dari hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan oleh ath-Thabari. Akan tetapi, hadits tersebut dha’if (lemah).

  1. Maknanya adalah malam.

Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, al-Hasan, Mujahid, al-Qurthubi, al-Farra’, Abu ‘Ubaid, Ibnu Qutaibah, dan az-Zajjaj.

  1. Maknanya adalah jatuhnya bintang.

Ini adalah pendapat Ibnu Zaid.

  1. Maknanya adalah matahari.

Az-Zuhri berkata, “(مِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ) adalah matahari tatkala terbenam.”

Disebutkan dalam hadits, “Jika matahari terbenam, setan akan menyebar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

  • وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (dan dari kejelekan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul)

Maksudnya, kejelekan tukang sihir yang meniup pada tiap ikatan sihir. An-Nafats adalah keluarnya embusan hawa dari mulut tanpa disertai ludah. Disebutkan dalam hadits,

مَنْ عَقَدَ عُقْدَةً ثُمَّ نَفَثَ فِيهَا فَقَدْ سَحَرَ، وَمَنْ سَحَرَ فَقَدْ أَشْرَكَ، وَمَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barang siapa membuat ikatan dan meniup padanya, berarti dia telah berbuat sihir; barang siapa berbuat sihir, dia telah berbuat syirik. Barang siapa menggantungkan sesuatu, dia diserahkan kepada sesuatu itu (tidak akan ditolong oleh Allah).” (HR. an-Nasa’i dari Abu Hurairah; dinyatakan dha’if oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Dha’iful Jami’ no. 5702)

Kebanyakan tukang sihir adalah wanita disebabkan lemahnya keimanan mayoritas kaum Hawa.

  • وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إذَا حَسَدَ (dan dari kejelekan orang yang hasad/dengki apabila dia berbuat hasad/dengki)

Hasad adalah mengangankan hilangnya nikmat (kebaikan) dari orang yang didengki. Hasad adalah perbuatan tercela, bahkan dosa. Berbeda halnya dengan angan-angan untuk menjadi seperti orang yang dikehendakinya tanpa menginginkan hilangnya nikmat (kebaikan) dari orang tersebut. Yang kedua ini disebut ghibthah, bukan dosa atau perbuatan tercela.

Awal perbuatan maksiat terhadap Allah subhanahu wa ta’ala yang terjadi di langit adalah hasad Iblis kepada Adam, sedangkan yang terjadi di bumi adalah hasad Qabil kepada Habil.

Nabi Yusuf q dijerumuskan oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur karena hasad (kedengkian) mereka. Begitu pula orang-orang Yahudi, mereka melakukan sihir karena hasad terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Yang lebih jelek adalah apabila seorang muslim tega berbuat hasad terhadap saudaranya seislam dan seiman. Na’udzubillahi min dzalik.

Berikut ini sepuluh di antara sekian banyak cara menangkal kejelekan orang yang hasad (dengki).

  1. Bertaawwudz kepada Allah dari kejelekannya.

Inilah maksud pembahasan surat ini.

  1. Bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara makna takwa adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman,

وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡ‍ًٔاۗ

 “Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan bagi kalian.” (Ali ‘Imran: 120)

  1. Bersabar atas musuh.
  2. Bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Disebutkan oleh para ulama bahwa syarat tawakal ada tiga: berikhtiar (menjalani sebab), bersandar (bertawakal) kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan beriman dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Orang yang tidak mau berikhtiar tidak bisa disebut orang yang bertawakal. Barang siapa bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya. Tawakal adalah sebab terkuat untuk menangkal gangguan makhluk dan kezaliman musuh yang tidak mampu dilawan oleh hamba-Nya.

  1. Tidak memedulikan kedengkiannya dan tidak menyibukkan pikiran dengannya.
  2. Menyerahkan urusannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan ikhlas kepada-Nya.
  3. Bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari dosa-dosa yang menyebabkan dirinya dikalahkan oleh musuh-musuhnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ

 

“Apa saja musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.” (asy-Syura: 30)

  1. Bersedekah dan beramal baik sebisanya.

Perbuatan ini bisa menangkal musibah, penyakit ‘ain, dan hasad (kedengkian). Hal ini dibuktikan oleh kenyataan yang terjadi pada umat yang terdahulu dan yang setelahnya.

  1. Mematikan api hasad (kedengkian) dengan berbuat baik kepada orang yang hasad tersebut, meskipun hal ini mungkin agak sulit dilakukan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤

 “Tidaklah sama kebaikan dan kejelekan. Tolaklah (kejelekan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fushshilat: 34)

10 .Ini adalah sebab inti yang semua sebab kembali padanya, yaitu pemurnian tauhid.

Dengan pemurnian tauhid, akan keluar dari hatinya rasa takut kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.

(Bada’i at-Tafsir 5/425—433)

 

Pelajaran dari ayat-ayat dalam surat al-Falaq

  1. Wajibnya beristi’adzah dari segala sesuatu yang membuat seseorang takut, sementara itu dia tidak mampu melawannya.
  2. Haramnya peniupan ikatan sihir.
  3. Haramnya hasad (dengki).
  4. Ghibthah bukanlah hasad (dengki), sebagaimana telah dijelaskan.

(Aisarut Tafasir 5/631)

Faedah

Akidah manusia mengenai jin dan setan berbeda-beda.

  1. Meyakini bahwa jin dan setan itu ada, tetapi mereka tidak punya pengaruh terhadap badan kita. Begitu pula sihir, penyakit ain, dan pendengki, tidak mempunyai pengaruh terhadap badan kita.
  2. Mengingkari keberadaan jin dan pengaruhnya terhadap kita, dan menganggap semua itu sebagai khayalan manusia belaka.

Dua pendapat di atas adalah pendapat yang menyimpang.

  1. Adapun ahlul haq menetapkan adanya jin dan setan sekaligus pengaruhnya, sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah menyebutkan sifat dan kejelekannya.

[1] Perbedan jin dan setan adalah dari sisi keumuman dan kekhususan. Jin adalah umum; ada yang saleh dan ada yang thalih (lawan kata saleh). Adapun setan lebih khusus; dia jin yang thalih. Iblis la’natullah ‘alaih (laknat Allah atasnya) adalah bapak para setan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 2 =