Keagungan Surat Al-Ikhlas

tadabur-alquran-5Al-Ustadz Abdurrahman Dani

Dalam setiap shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, setelah membaca surat al-Fatihah, kita dianjurkan membaca ayat atau surat dalam al-Qur’an, baik yang panjang maupun yang pendek. Akan tetapi, sangat disesalkan, pada zaman kita ini masih ada orang yang tidak hafal dan tidak paham satu surat pendek pun dalam al-Qur’an. Bahkan, ada pula yang tidak bisa membaca al-Qur’an.

Sangat disayangkan, seorang muslim bisa membaca koran, majalah umum, dan semua jenis bacaan, entah dia seorang petani, insinyur, dokter, pejabat, dan sebagainya, tetapi tidak bisa membaca al-Qur’an. Padahal membaca al-Qur’an mendatangkan pahala dalam setiap hurufnya[1], memberikan nutrisi keimanan dalam hatinya, dan mengingatkannya akan sang Pencipta serta hari akhir.

Di antara surat pendek yang seyogianya diketahui dan dihafal oleh kaum muslimin adalah surat al-Ikhlas. Surat ini tersusun atas 47 huruf, dalam 15 kalimat, dalam 4 ayat saja.

Nama-nama al-Ikhlas

Pada zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam surat ini dikenal dengan nama surat Qul huwallahu ahad (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ). Penamaan ini juga diriwayatkan dari para sahabat.

Akan tetapi, kebanyakan mushaf dan kitab tafsir menamakannya surat al-Ikhlas (سُورَةُ الْإِخْلَاصِ). Penamaan ini masyhur karena singkat dan lebih mengumpulkan makna yang terkandung di dalamnya. Di antaranya adalah makna pembelajaran manusia untuk mengikhlaskan ibadah dan menyelamatkan akidah dari perbuatan syirik dalam ibadah.

Dalam kamus disebutkan bahwa خَلَصَ maknanya adalah menjadi suci dan bersih. Dengan demikian, nama al-Ikhlas ini cocok untuk surat tersebut karena maksudnya adalah pembersihan ibadah dari kesyirikan.

Surat al-Ikhlas adalah salah satu surat yang mempunyai nama yang sangat banyak. Mushaf dan kitab lainnya ada yang menyebutkan surat ini dengan hingga dua puluh nama yang berbeda, seperti surat at-Tauhid (pada sebagian mushaf at-Tunisiyyah), surat al-Asas (dalam kitab al-Itqan), surat ash-Shamad (dalam kitab Nadmud Darar), dan selainnya.

Jenis Surat dan Sebab Turunnya

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang jenis surat ini.

  1. Makkiyyah. Ini menurut pendapat Ibnu Mas’ud, al-Hasan, Atha’, ‘Ikrimah, Jabir, dan mayoritas ahli tafsir.
  2. Madaniyyah. Ini menurut pendapat Ibnu ‘Abbas, Qatadah, adh-Dhahhak, Abul ‘Aliyah, as- Suddi, dan al-Qurthubi.

Namun, pendapat yang kuat, surat al-Ikhlas adalah makkiyyah karena mengandung landasan tauhid. Kebanyakan surat al-Qur’an yang mengandung landasan tauhid turun di Makkah, sebelum Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam berhijrah. Selain itu, diriwayatkan bahwa sebab turunnya surat ini adalah kaum musyrikin Quraisy berkata kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, “Sebutkanlah nasab Rabb-mu!”, maka turunlah surat ini dari awal sampai akhir surat.

Mengenai sebab turunnya surat ini, ada tiga pendapat ulama.

1. Kaum musyrikin berkata, “Hai Muhammad, sebutkanlah nasab Rabb-mu!”, maka turunlah surat ini. ( at-Tirmidzi dari Ubai bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi no. 2680)

2. ‘Amir bin Thufail dan Arbad bin Rabi’ah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, “Kepada apa kamu menyeru kami, hai Muhammad?”

Beliau bersabda, “Kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Kedua pria itu berkata, “Sebutkanlah sifat-Nya kepada kami, apakah Dia terbuat dari emas, perak, besi, atau kayu.” Kemudian, turunlah surat ini.

Ini diriwayatkan dari perkataan Ibnu ‘Abbas.

3. Para pendeta Yahudi, di antaranya Huyai bin Akhthab dan Ka’b bin al-Asyraf, berkata, “Sebutkanlah sifat Rabb-mu. Barangkali setelah itu kami beriman denganmu.” Kemudian, turunlah surat ini. Ini menurut pendapat al-Wahidi.

Dalam lafadz lain disebutkan, “Dari jenis apa Dia, kepada siapa Dia mewarisi, dan siapa yang mewarisi-Nya?” Ini adalah pendapat Qatadah dan adh-Dhahhak.

Keutamaan Surat al-Ikhlas

Di antara keutamaan surat al-Ikhlas adalah:

  • Allah subhanahu wa ta’ala mencintai orang yang membaca surat al-Ikhlas, dan kecintaan terhadap surat al-Ikhlas termasuk sebab masuk ke surga.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam mengirim seorang sahabat dalam sebuah pasukan. Sahabat ini mengimami mereka dalam shalat dan mengakhiri bacaan dengan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (setelah membaca surat lainnya). Setelah kembali, mereka menyampaikan hal ini kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, maka beliau bersabda, “Bertanyalah kepadanya mengapa dia berbuat demikian.”

Sahabat itu menjawab, “Karena dia (surat al-Ikhlas) adalah sifat ar-Rahman (sifat Rabb) dan aku lebih suka untuk membacanya.”

Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pun bersabda, “Kabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya.”

Disebutkan dalam riwayat lain, dalam Shahih al-Bukhari, “Kitab ash-Shalat”, dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang sahabat mengimami shalat dan mengawali bacaan dengan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (yaitu sebelum membaca surat lain). Pada akhir hadits, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Kecintaanmu terhadapnya (surat al-Ikhlas) menjadikanmu masuk surga.”

  • Surat al-Ikhlash setara dengan sepertiga al-Qur’an.

Banyak sekali hadits yang meriwayatkan keutamaan ini. Di antaranya hadits Abu Sa’id al-Khudri yang diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada para sahabat, “Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu membaca sepertiga al-Qur’an dalam waktu semalam saja?”

Hal itu terasa berat bagi mereka. Mereka pun bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang mampu berbuat demikian?”

Beliau pun bersabda, “ اللهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُsepertiga al-Qur’an.”[2]

Sebagian ulama mengatakan, makna setara dengan sepertiga al-Qur’an adalah bahwa al-Qur’an turun dalam tiga bagian: sepertiga tentang hukum fikih ibadah, sepertiga tentang janji (balasan kebaikan) dan ancaman (balasan kejelekan), dan sepertiga lagi tentang nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Dan dalam surat ini terkumpul nama dan sifat-Nya. (Tafsir al-Qurthubi 20/247)

Terdapat hadits yang menunjukkan bahwa al-Qur’an terbagi tiga. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Allah subhanahu wa ta’ala telah membagi al-Qur’an menjadi tiga dan menjadikan Qul huwallahu ahad sebagai salah satu dari bagian al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 118)

  • Surat al-Ikhlas bermanfaat untuk pengobatan, pencegahan penyakit, dan pembentengan diri.

Disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam hendak pergi ke tempat tidur setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangan beliau, kemudian meniup pada keduanya dan membaca Qul huwallahu ahad, Qul a’udzu birabbil falaq, dan Qul a’udzu birabbin nas. Setelahnya, beliau usapkan kedua tangan beliau ke badan semampunya, dimulai dari kepala, wajah, dan anggota badan yang bisa dijangkau. Beliau melakukannya tiga kali.

  • Sifat dan nama Allah subhanahu wa ta’ala. yaitu al-Ahad dan ash-Shamad, hanya disebutkan satu kali dalam al-Qur’an, yaitu dalam surat al-Ikhlas.

Sifat dan nama ini menunjukkan keesaan Rabb subhanahu wa ta’ala yang tidak boleh disekutukan dengan selain-Nya, baik syirik dalam bentuk perbuatan, ucapan, maupun keyakinan. Selain itu, sifat dan nama ini menunjukkan sifat kesempurnaan Allah subhanahu wa ta’ala.

 Tafsir Surat al-Ikhlas

  • Qul (قُلْ)

“Katakanlah.

Maksud dimulainya surat ini dengan kata perintah adalah bahwa kalimat yang disebutkan setelahnya adalah urusan yang penting. Hal ini juga sebagai jawaban bagi orang-orang musyrik tatkala bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam , “Sebutkanlah sifat Rabb-mu.”

Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa kalimat Qul (قُلْ) ini hanya dibaca pada masa hidup Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan tidak perlu dibaca pada zaman ini. Ini adalah pendapat batil yang menyesatkan manusia dan berusaha mendustakan wahyu Allah subhanahu wa ta’ala.

  • Huwa (هُوَ)

Dia.”

Huwa adalah dhamir (kata ganti).

  • Allah (اللهُ)

Lafadz “Allah” diambil dari kata al-ilah (الْإِلَهُ), kemudian huruf hamzah setelah lam dihapus untuk meringankan pengucapan. Terjadilah pertemuan antara dua sukun, lalu kedua lam dijadikan satu (di-idgham-kan) dan ditebalkan dengan tasydid untuk mengagungkan-Nya.

Al-ilah (الْإِلَهُ) artinya al-ma’luh (الْمَأْلُوهُ) atau al-ma’bud (الْمَعْبُودُ), yaitu Yang diibadahi. Al-ilah (الْإِلَهُ) disusun di atas wazan al-fi’al (الفِعَالُ) yang bermakna al-maf’ul (الْمَفْعُولُ), yaitu objek perbuatan.

  • Ahad (أَحَدٌ)

Artinya, Yang Maha Esa.

Asal kata ahad adalah wahada (وَحَدَ), yaitu wahidun (وَاحِدٌ). Kemudian, huruf wawu diganti dengan hamzah karena wawu tersebut berfathah.

Sejak zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, ucapan Ahad menjadi salah satu syiar umat Islam. Ada kisah yang telah terkenal, yaitu kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu tatkala disiksa. Dia diseret, lalu diletakkan di atas batu panas oleh orang-orang musyrik. Namun, dia hanya mengucapkan, “Ahad, Ahad, Ahad….”

Syiar kaum muslimin pada Perang Badr juga berupa ucapan “Ahad, Ahad”.

Mengapa lafadz Ahad disebutkan dalam bentuk nakirah (umum, tidak menggunakan alif lam seperti الْأَحَدُ)? Ibnu Katsir menjelaskan, lafadz ini tidaklah digunakan untuk menetapkan sesuatu pun selain Allah subhanahu wa ta’ala semata, karena Dia Mahasempurna dalam semua sifat, perbuatan, dan Dzat-Nya.[3]

Makna kata ahad lebih sempurna daripada makna kata wahid. Al-ahad disebutkan hanya satu kali dalam al-Qur’an, yaitu dalam surat ini, sedangkan al-wahid disebutkan di banyak tempat dalam al-Qur’an.

  • Ash-Shamad (الصَّمَدُ)

Tafsir ash-Shamad banyak sekali, tetapi tidak saling bertentangan. Ibnul ‘Anbari berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ahli bahasa bahwa ash-Shamad adalah pemimpin yang tidak ada satu pun di atas-Nya, yang dijadikan tujuan oleh manusia dalam meminta kebutuhan mereka.”

  • Lam yalid wa lam yulad (لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ)

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir-nya, “Allah tidak mempunyai anak, bapak, ibu, ataupun istri.”

Tidaklah Dia beranak sehingga mewariskan warisan kepada anak-Nya. Tidak pula Dia diperanakkan sehingga ada sekutu atau saudara bagi-Nya. Kaum musyrikin Arab mengatakan bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Kaum Yahudi mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah, sedangkan kaum Nasrani mengatakan bahwa ‘Isa adalah anak Allah. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala berlepas diri dari apa yang mereka tuduhkan.

Ayat ini adalah salah satu dari sekian banyak tafsir tentang ash-Shamad.

  • Wa lam yakun lahu kufuwan ahad (وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ)

“Tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.”

Apa hubungan antara kata Ahad, ash-Shamad, Lam yalid wa lam yulad, dan wa lam yakun lahu kufuwan ahad?

Perlu diketahui, rukun kalimat tauhid laa ilaha illallah adalah an-nafi (peniadaan) dan al-itsbat (penetapan). Begitu pula ayat-ayat ini, mengandung makna peniadaan dan penetapan.

Kata Ahad menetapkan sifat al-ahadiyah (keesaan) sehingga meniadakan semua sekutu. Kata ash-Shamad menetapkan kesempurnaan semua sifat-Nya sehingga meniadakan segala kekurangan dan cacat. Adapun peniadaan anak dan bapak bagi-Nya melazimkan makna sifat kecukupan bagi-Nya. Dia tidak membutuhkan siapa pun, menunjukkan bahwa Dialah ash-Shamad dan Ahad. Adapun peniadaan al-kufu (yang setara) mengandung makna peniadaan keserupaan dan kesamaan bagi-Nya dengan makhluk-Nya.

[1] Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi.

[2] Makna “setara dengan sepertiga al-Qur’an adalah dari sisi pahala, bukan dari sisi pembagian al-Qur’an semata. (Ta’liq Yasin terhadap al-‘Aqidah al-Wasithiyyah dengan syarah asy-Syaikh Khalil Harras, dinukil dari al-Fatawa 17/206—207, dan al-Iqtidha 2/851)

[3] Akan tetapi, yang benar kalimat ahad tidak bisa dianggap mutlak demikian. Sebab, kalimat ahad juga bisa digunakan untuk selain Allah l, sebagaimana firman-Nya,

أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ

“Atau salah satu dari kalian telah kembali dari tempat buang air” (an-Nisa’:43).

Demikian pula tatkala dikatakan, “Ini adalah hari ahad.” (Ta’liq Yasin terhadap al-Aqidah al-Wasithiyyah dengan syarah asy-Syaikh Khalil Harras, dinukil dari Adhwa’ul Bayan [9/612—613])

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − four =