Keislaman Sang Ratu Saba’

kisah-12Al-Ustadzah Ummu Maryam Lathifah

 

Keislaman Sang Ratu Saba’

Langkah cerdas Bilqis bintu Syarahil mengirimkan hadiah berharga yang diperhitungkannya akan memberikan titik terang bagi kemelut Saba’ ternyata membuahkan hasil yang mencengangkan. Sulaiman ‘alaihissalam berang dan berencana menggempur Saba’. Singgasana sang Ratu pun dipindahkannya sebagai ujian balasan. Akhirnya, Bilqis menjemput cahaya hidayah dengan mendatangi Nabi Allah Sulaiman ‘alaihissalam dan menyatakan keislamannya ….

Di edisi lalu sudah kita baca, Bilqis atau Balqis bintu Syarahil mengirimkan berbagai hadiah berharga kepada Sulaiman ‘alaihissalam dan memberikan berbagai pesan kepada dutanya. Kini kita simak lanjutan kisah yang dipaparkan dalam al-Jami’ li Ahkamil Qur’an dan Tafsir al-Qur’an al-Azhim ini.

Di antara pesan Bilqis kepada utusannya adalah, “Apabila Sulaiman memandangmu dengan tatapan kemarahan, ketahuilah bahwa ia hanyalah seorang raja. Jangan merasa takut dengan tatapannya karena aku lebih kuat daripada ia. Namun, apabila ia melihatmu dengan wajah yang berseri-seri dan penuh kelembutan, ketahuilah bahwa ia adalah seorang nabi, maka pahamilah perkataannya dan berikan jawaban kepadanya.”

 

Penyambutan Duta Bilqis di Istana Sulaiman ‘alaihissalam

Hudhud yang diperintah untuk memata-matai respons Bilqis dan kaumnya terhadap risalah Sulaiman ‘alaihissalam melaporkan langkah Bilqis kepada Sulaiman ‘alaihissalam.

Sulaiman ‘alaihissalam pun mempersiapkan penyambutan utusan Bilqis dengan membuat hamparan bata emas dan perak, yang terbentang dari tempat duduk Sulaiman sepanjang 9 farsakh[1]. Ia menghiasi hamparan dan sisi kanan kiri hamparan dengan berbagai makhluk dari daratan dan lautan, yang paling indah dipandang mata. Ia juga mengumpulkan jin-jin dan keturunannya yang paling elok di sisi kanan dan kiri tempat yang luas tadi. Sulaiman pun duduk di singgasananya dengan mendudukkan para nabi dan ulama di sisi kanan dan kirinya di atas empat ribu kursi emas di setiap sisi. Ia juga memerintah jin, manusia, binatang buas, dan burung untuk membentuk shaf (barisan) yang panjangnya berfarsakh-farsakh.

Tatkala rombongan utusan Saba’ mendekati kerajaan Sulaiman ‘alaihissalam dan menyaksikan kemegahannya, ciutlah nyali mereka. Mereka pun melemparkan hadiah-hadiah yang mereka bawa.

Dalam satu riwayat, Sulaiman memerintahkan agar disisakan sedikit tempat yang tidak tertutup emas di hamparan bata emas yang akan diinjak para utusan itu. Ketika para utusan melihat celah tersebut, mereka takut dituduh mengambilnya sehingga mereka lemparkan emas yang mereka bawa ke celah itu.

Lewatlah rombongan utusan Saba’ di hadapan shaf para setan. Mereka ketakutan dan merasa ngeri melihatnya. Setan-setan itu pun berkata, “Lewatlah kalian, tidak apa-apa.” Akhirnya, rombongan itu melewati shaf-shaf manusia, jin, binatang buas, dan burung, hingga tibalah mereka di hadapan Sulaiman ‘alaihissalam.

Ternyata Sulaiman ‘alaihissalam memandang mereka dengan pandangan yang menyenangkan dan wajah yang berseri-seri. Tatkala Sulaiman melihat mereka membawa hadiah untuknya, ia berkata,

فَلَمَّا جَآءَ سُلَيۡمَٰنَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٖ فَمَآ ءَاتَىٰنِۦَ ٱللَّهُ خَيۡرٞ مِّمَّآ ءَاتَىٰكُمۚ بَلۡ أَنتُم بِهَدِيَّتِكُمۡ تَفۡرَحُونَ ٣٦

“Apakah pantas kalian menambahkan harta kepadaku? Apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Akan tetapi, kalian merasa bangga dengan hadiah kalian.” (an-Naml: 36)

Dari sisi Bilqis, respons terhadap hadiah tersebut dijadikannya sebagai salah satu penanda kebenaran risalah Sulaiman ‘alaihissalam. Para rasul pada dasarnya menerima hadiah dan tidak menerima sedekah, demikian pula halnya Sulaiman ‘alaihissalam. Namun, hadiah ini datang dari kaum musyrikin yang sedang didakwahi Sulaiman ‘alaihissalam. Dengan demikian, pada hakikatnya di sisi Sulaiman ‘alaihissalam hadiah tersebut adalah risywah (suap) dan upaya membeli kebatilan dengan kebenaran.

Sulaiman berkata di dalam suratnya, “Janganlah kalian semua berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kalian kepadaku sebagai orang-orang yang berislam.” Bilqis memahami hal ini sehingga ia mengirimkan hadiahnya sebagai ujian. Apabila Sulaiman seorang nabi, ia tidak akan menerima hadiah karena ia menyerukan al-haq dan bukan orang yang tamak terhadap dunia. Namun, apabila ia seorang raja, Bilqis berharap hadiah itu akan menahan Sulaiman dari menyerang Saba’.

Ternyata benar, Sulaiman ‘alaihissalam tidak menerima hadiah tersebut dengan ucapannya, “Apakah kalian akan menambahkan harta kepadaku,” bersamaan dengan melimpahnya rezeki Allah yang ada padanya. Apakah mereka hendak mengambil muka di hadapan Sulaiman ‘alaihissalam dengan pengutusan duta bersama hadiah-hadiah tersebut?

Sulaiman ‘alaihissalam menyatakan bahwa apa yang diberikan Allah l kepadanya berupa Islam, kenabian, dan kerajaan, lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepada Saba’. Sulaiman ‘alaihissalam juga menyatakan bahwa ia tidak berbangga dengan harta yang ada di sisinya. Justru orang-orang Saba’-lah yang saling berbangga dan berlomba dalam masalah dunia.

Sulaiman ‘alaihissalam memerintahkan kepada duta pimpinan rombongan Saba’, yang dikatakan bernama al-Mundzir bin ‘Amr, agar ia kembali dengan hadiahnya.

ٱرۡجِعۡ إِلَيۡهِمۡ فَلَنَأۡتِيَنَّهُم بِجُنُودٖ لَّا قِبَلَ لَهُم بِهَا وَلَنُخۡرِجَنَّهُم مِّنۡهَآ أَذِلَّةٗ وَهُمۡ صَٰغِرُونَ ٣٧

“Kembalilah engkau kepada mereka. Sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya dan kami akan mengeluarkan mereka dari negeri itu dengan terhina dalam keadaan mereka terendahkan.” (an-Naml: 37)

Sulaiman melihat hadiah itu sebagai sebuah penolakan terhadap seruan tauhid yang disampaikannya melalui risalah, sehingga agamanya menggariskan jihad sebagai konsekuensi penolakan tersebut. Sulaiman ‘alaihissalam berazam (bertekad), sungguh para penguasa Saba’ akan terhinakan karena terempas dari kerajaan dan kemuliaan mereka dengan serangan pasukan Sulaiman ‘alaihissalam.

Menyerahnya Penguasa Saba’ kepada Sulaiman

Bergegaslah sang utusan kembali ke Saba’ dengan membawa hadiah-hadiah mereka. Ia mengabarkan kejadian di negeri Sulaiman ‘alaihissalam kepada Bilqis. Bilqis pun berkata, “Aku sudah mengetahui bahwa ia bukanlah raja. Kita tidak memiliki kekuatan untuk memerangi seorang nabi Allah.” Bilqis juga berkata, “Tidak ada gunanya kita bersikap bangga dan angkuh di hadapannya.”

Bilqis, dengan kekuatan pikirannya, sudah memperkirakan kejadian ini matang-matang, sehingga ketika hadiahnya ditolak, ia tahu dengan pasti siapa yang sedang dihadapinya. Sementara itu, ia adalah pemimpin yang ditaati kaumnya. Bilqis bintu Syarahil pun tunduk seketika itu juga beserta kaumnya. Ia mengirim utusan kepada Sulaiman untuk menyampaikan bahwa Bilqis akan mendatanginya bersama para raja dari kaumnya, untuk melihat dan mempelajari agama yang diserukan Sulaiman ‘alaihissalam kepada mereka.

Bilqis memerintahkan agar singgasananya yang megah disimpan di tujuh bangunan dan dijaga dengan ketat. Ia juga memerintahkan agar pintu-pintu istana Saba’ dikunci.

Bilqis bergegas mempersiapkan pasukannya dan mendatangi Sulaiman ‘alaihissalam dalam keadaan tunduk, merendah, mengagungkan Sulaiman ‘alaihissalam, dan berniat mengikuti Sulaiman di dalam keislamannya. Ia datang bersama 12.000 qailnya, yang setiap qail membawahi 1.000 orang.

Kedatangan Sang Ratu di Syam

Mengetahui berita kedatangan Bilqis dan kaumnya, Sulaiman pun berbahagia.

Sulaiman ‘alaihissalam adalah nabi dan raja yang sangat berwibawa dan disegani. Apabila ia tidak memulai suatu pembicaraan, kaumnya tidak akan mengganggunya. Pada suatu hari ia melihat kepulan debu di kejauhan. Ia bertanya, “Siapa ini (yang datang)?” Mereka pun menjawab, “Bilqis, wahai Nabi Allah!”

Sulaiman bertutur,

قَالَ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ أَيُّكُمۡ يَأۡتِينِي بِعَرۡشِهَا قَبۡلَ أَن يَأۡتُونِي مُسۡلِمِينَ ٣٨ قَالَ عِفۡرِيتٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَۖ وَإِنِّي عَلَيۡهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٞ ٣٩ قَالَ ٱلَّذِي عِندَهُۥ عِلۡمٞ مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن يَرۡتَدَّ إِلَيۡكَ طَرۡفُكَۚ فَلَمَّا رَءَاهُ مُسۡتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هَٰذَا مِن فَضۡلِ رَبِّي لِيَبۡلُوَنِيٓ ءَأَشۡكُرُ أَمۡ أَكۡفُرُۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيّٞ كَرِيمٞ ٤٠

“Wahai para pembesar(ku), siapa di antara kalian yang bisa mendatangkan singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?” Berkata Ifrit dari kalangan jin, Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya dan dapat dipercaya.” Berkatalah seseorang yang memiliki ilmu terhadap al-Kitab, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk keutamaan dari Rabbku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau ingkar terhadap nikmat-Nya. Barang siapa bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.(an-Naml: 38—40)

Para ulama tafsir menyebutkan beberapa alasan yang mungkin mendasari langkah Sulaiman mengambil singgasana Bilqis dari istananya. Ibnu Zaid rahimahullah menjelaskan, Sulaiman ‘alaihissalam meminta pembesarnya mendatangkan singgasana Bilqis untuk memperlihatkan kekuasaan dan kemampuan Sulaiman ‘alaihissalam kepada sang Penguasa Saba’, yang kemampuan ini hanya datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala sehingga Sulaiman bisa mengambil singgasana itu dari istana-istananya tanpa pengiriman pasukan dan tanpa peperangan.

Orang yang memiliki ilmu terhadap al-Kitab itu berasal dari Bani Israil. Ia sekretaris Sulaiman yang bernama Ashif bin Barkhiya. Ia seorang shiddiq (sosok yang sangat jujur) yang menghafalkan nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala yang paling agung, yang apabila Allah dimintai dengan menyebut nama itu, niscaya Ia memenuhi permintaan tersebut, dan apabila diseru dengan nama itu, niscaya Ia menjawabnya.

Di dalam Tafsir al-Qurthubi, di satu riwayat hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan,

إِنَّ اسْمَ اللهِ الْأَعْظَمَ الَّذِي دَعَا بِهِ آصِفُ بْنُ بَرْخِيَا: يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ

Sesungguhnya nama Allah yang paling agung yang dipakai Ashif bin Barkhiya untuk berdoa adalah Ya Hayyu Ya Qayyum (Wahai Zat Yang Mahahidup, Wahai Zat Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya).”

Sulaiman juga ingin menguji balik Penguasa Saba’, seberapa kuat pemikiran dan kecerdasannya, dengan memerintahkan pengubahan singgasana Bilqis bintu Syarahil.

قَالَ نَكِّرُواْ لَهَا عَرۡشَهَا نَنظُرۡ أَتَهۡتَدِيٓ أَمۡ تَكُونُ مِنَ ٱلَّذِينَ لَا يَهۡتَدُونَ ٤١ فَلَمَّا جَآءَتۡ قِيلَ أَهَٰكَذَا عَرۡشُكِۖ قَالَتۡ كَأَنَّهُۥ هُوَۚ وَأُوتِينَا ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهَا وَكُنَّا مُسۡلِمِينَ ٤٢

Sulaiman berkata, ‘Ubahlah baginya singgasananya, nanti kita akan melihat apakah ia mendapatkan petunjuk ataukah ia termasuk orang yang tidak mendapatkan petunjuk.’ Tatkala penguasa Saba’ itu tiba, ditanyakanlah kepadanya, ‘Serupa inikah singgasanamu?’ Ia menjawab, ‘Sepertinya iya. Dan kami telah diberi pengetahuan (terhadap kenabian Sulaiman) sebelumnya (sebelum kedatangannya) dan kami adalah orang-orang yang berserah diri’.” (an-Naml: 41—42)

Ini dilatarbelakangi oleh ketakutan para setan bahwa apabila Sulaiman menikahi Bilqis sehingga memiliki keturunan darinya, niscaya mereka selamanya berada di bawah kekuasaan keluarga Sulaiman dan keturunannya. Oleh karena itu, para jin mengatakan kepada Sulaiman ‘alaihissalam bahwa Bilqis itu lemah akal, dan kakinya seperti kaki keledai. Sulaiman pun tergerak untuk menguji kecerdasan Bilqis.

Ternyata, Bilqis menampakkan bagusnya pemahamannya dengan jawabannya yang tidak memberikan kepastian “ya” atau “tidak”. Namun, ia menjawab, “Sepertinya iya, seakan-akan singgasana ini adalah singgasanaku.” Ia melihat keserupaan singgasana itu dengan singgasananya. Akan tetapi, bukankah ia tinggalkan singgasananya di tujuh bangunan dalam keadaan terkunci dengan banyak penjaga? Oleh karena itulah, ia tidak memastikan dan tidak pula mengingkarinya dengan pasti.

Muqatil rahimahullah dan yang selainnya menjelaskan, sebenarnya Bilqis mengenalinya, tetapi karena singgasana itu sudah disamarkan dan diubah, Bilqis pun menyamarkan jawabannya. Seandainya ditanyakan kepadanya, “Apakah ini singgasanamu?”, bukan, “Serupa inikah singgasanamu?”, niscaya ia mengiyakannya. Ini menunjukkan puncak kecerdasan dan kepandaian Bilqis.

Sebagian ulama menafsirkan bahwa وَأُوتِينَا ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهَا وَكُنَّا مُسۡلِمِينَ adalah ucapan Sulaiman, sehingga artinya, “Kami telah diberi pengetahuan terhadap penyerahan diri dan kedatangan Penguasa Saba’ dan kaumnya dalam keadaan taat, dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

Keislaman Penguasa Saba’

Peribadahan Bilqis dan kaumnya kepada selain Allah k telah menghalangi mereka untuk menampakkan keislaman mereka. Allah berfirman,

وَصَدَّهَا مَا كَانَت تَّعۡبُدُ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ إِنَّهَا كَانَتۡ مِن قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ٤٣

“Apa yang disembahnya selama ini selain Allah mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya ia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.” (an-Naml: 43)

Setelah memperlihatkan satu lagi dari berbagai tanda kenabiannya sekaligus menguji kepandaian sang Penguasa Saba’, Sulaiman ‘alaihissalammelanjutkan misinya yang serupa, dengan memerintah Bilqis memasuki istananya.

قِيلَ لَهَا ٱدۡخُلِي ٱلصَّرۡحَۖ فَلَمَّا رَأَتۡهُ حَسِبَتۡهُ لُجَّةٗ وَكَشَفَتۡ عَن سَاقَيۡهَاۚ قَالَ إِنَّهُۥ صَرۡحٞ مُّمَرَّدٞ مِّن قَوَارِيرَۗ قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي ظَلَمۡتُ نَفۡسِي وَأَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَيۡمَٰنَ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٤٤

Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam istana.’ Tatkala ia (penguasa Saba’ itu) melihat (lantai istana) itu, ia mengira istana itu adalah kolam yang luas dan dalam sehingga ia pun menyingkapkan kedua betisnya. Sulaiman berkata, ‘Sesungguhnya istana ini adalah istana yang terbuat dari kaca.’ Berkatalah Bilqis, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku sendiri, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam’.(an-Naml: 44)

Sulaiman memerintah para jin untuk membangun istana dengan lantai dari kaca, yang di bawahnya terdapat air dengan berbagai ikan di dalamnya. Tujuan Sulaiman adalah menunjukkan kepada Bilqis kerajaan yang lebih agung daripada kerajaannya. Sebagian ulama menyebutkan alasan lain, yaitu Sulaiman berazam menikahi Bilqis dan memilih Bilqis untuk dirinya karena ia mendengar keelokan dan kecantikannya. Hanya saja, ia juga mendengar berita dari para jin bahwa ibu Bilqis berasal dari kalangan jin, dan kaki Bilqis berambut lebat dengan bagian bawah layaknya kaki binatang. Sulaiman ‘alaihissalam merasa terganggu dengan berita ini dan berusaha membuktikannya tanpa meminta Bilqis menyingkapkan pakaiannya.

Ia memerintah para jin dan setan untuk membangun istana kaca tersebut. Ketika Bilqis melihat lantai istana itu, ia mengiranya sebagai kolam air yang luas dan dalam. Ia pun terkejut dan mengira bahwa Sulaiman ‘alaihissalam ingin menenggelamkannya. Namun, Bilqis juga terkesima melihat singgasana Sulaiman ‘alaihissalam yang dikiranya berada di atas air, dan ia pun menyingkapkan pakaiannya untuk melangkahkan kakinya. Ternyata Bilqis adalah wanita yang paling indah kakinya, dan terbuktilah kedustaan para jin tadi.

Sulaiman menjelaskan bahwa istananya terbuat dari kaca yang dihaluskan. Bilqis pun takjub melihat agungnya kekuasaan dan kerajaan Sulaiman. Ia melangkahkan kakinya menghadap Sulaiman ‘alaihissalam. Setelah Bilqis berada di hadapannya, Sulaiman menyerunya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja dan menunjukkan kekurangan sembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala yang selama ini diibadahi penduduk Saba’.

Setelah menyaksikan untuk kesekian kalinya kebesaran kekuasaan Sulaiman ‘alaihissalam, yang hal ini menunjukkan keagungan dan kekuasaan Allah, Rabb Sulaiman dan semesta alam, seketika itu pula Bilqis bintu Syarahil beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ia mengakui kezaliman dirinya, berupa kekufuran dan kesyirikan yang dilakukannya bersama kaumnya dengan mengibadahi matahari. Ia berserah diri kepada-Nya bersama Sulaiman ‘alaihissalam, mengikuti agama Sulaiman ‘alaihissalam dengan memurnikan ibadah bagi Allah subhanahu wa ta’ala saja, dan menjadi baguslah keislamannya.

Sebagian riwayat menyatakan bahwa Sulaiman ‘alaihissalam menikahi Bilqis dan menempatkannya di Saba’, Yaman. Sulaiman sangat mencintainya dan mengunjunginya sebulan sekali dengan mengendarai angin, dan tinggal di sisi Bilqis selama tiga hari. Diriwayatkan pula bahwa Bilqis melahirkan putra untuknya yang dinamai dengan nama ayah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, hanya saja sang putra meninggal semasa hidup Sulaiman ‘alaihissalam.

Kebanyakan berita yang ada di kitab-kitab tafsir tentang Bilqis bintu Syarahil (jika shahih penamaan ini) bersifat israiliyyat (berasal dari Bani Israil) yang kita disyariatkan untuk tawaqquf menyikapinya. Namun, ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari ayat-ayat an-Naml tentangnya.

Di antara Pelajaran dan Faedah dari Kisah Ratu Saba’

  1. Kisah Bilqis sering dijadikan dalil—oleh orang-orang yang mengagungkan hawa nafsu—tentang bolehnya wanita menjadi pemimpin. Mereka lupa akan sabda Nabi n dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari no. 4425, an-Nasai 8/227, dll., dari Abu Bakrah a, ia berkata,

لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى، قَالَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً

“Ketika sampai berita kepada Rasulullah n bahwa penduduk Persia mengangkat putri Kisra sebagai raja mereka, beliau bersabda, ‘Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita’.”

Sabda Nabi n di atas umum, karena kata yang digunakan adalah nakirah dalam konteks negatif. Selain itu, bukankah kekaisaran Bilqis—dengan sedalam apa pun keilmuan, kehati-hatian, dan kecerdasannya—berakhir dengan dakwah dan kemenangan Sulaiman, sedangkan kekaisaran putri Kisra berakhir dengan bala tentara Islam? Pun apabila dianggap Bilqis berhasil memimpin kaumnya, bukankah syariat Muhammad menghapus syariat-syariat para nabi sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam?

  1. Bilqis bintu Syarahil, dengan kepandaian akalnya dan hikmahnya, menerima syariat Allah dan membawa kaumnya tunduk pada kenabian Sulaiman ‘alaihissalam. Meskipun memiliki kekuasaan yang mutlak di kerajaannya dan kekuatan pasukan yang besar, ia tidak menyombongkan dirinya ketika mengetahui kebenaran kenabian Sulaiman.
  2. Penjelasan bahwa peribadahan yang benar adalah peribadahan kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja yang menciptakan segala sesuatu dan menunjukinya.
  3. Disyariatkannya menguji dan meneliti kasus orang yang tertuduh melakukan kesalahan atau penyimpangan.
  4. Disyariatkannya pemerintah muslimin mengirimkan mata-mata untuk mengetahui keadaan musuh dan apa yang sedang terjadi di antara mereka.
  5. Disyariatkannya penulisan basmalah di dalam risalah, sebagaimana hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  6. Disyariatkannya musyawarah oleh orang-orang yang berhak melakukan musyawarah (yang berilmu), sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat beliau. Hal ini sangat berbeda dengan demokrasi yang menyertakan seluruh rakyat, padahal mereka jauh dari ilmu agama dan pengetahuan tentang urusan pemerintahan. Jadilah suara rakyat dituhankan, sampai-sampai mereka membuat jargon “suara rakyat suara tuhan”. Sementara itu, opini rakyat yang jahil ini mudah dibentuk dan digiring oleh media-media massa yang fasik dan tidak bertanggung jawab. Allahul musta’an.
  7. Orang-orang yang mementingkan akhirat bersyukur dengan dunia yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala.Sebaliknya, orang yang mementingkan dunia tidak bergembira dengan urusan akhirat.
  8. Dibolehkannya menakut-nakuti musuh dan menunjukkan kebesaran kaum muslimin di hadapan mereka untuk menundukkan mereka.
  9. Wajibnya bersyukur dan mengembalikan keutamaan dan karunia kepada ahlinya, sebagaimana syukur Sulaiman ‘alaihissalam kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
  10. Bolehnya menguji kemampuan dan kecerdasan seseorang untuk sebuah maslahat.
  11. Dilarangnya menyingkapkan betis bagi wanita, terlebih lagi apabila ia muslimah.
  12. Keutamaan mendekat dan meneladani orang yang saleh, sebagaimana Bilqis menyatakan, “… aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.”

Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.

[1] 1 farsakh = sekitar 8 km.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten + eighteen =