Maharani Saba’, Sang Ratu yang Tunduk kepada al-Haq

kisah-10Al-Ustadzah Lathifah Yusuf

Syahdan, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam gusar karena kehilangan salah satu anggota pasukan beliau. Hudhud, burung ahli pencari air bagi pasukan Sulaiman ‘alaihissalam, terlambat hadir. Namun, ia membawa berita mengagumkan, yang menjadi sebab hidayah bagi ratu sebuah negeri, yang membawahi berjuta prajurit perang.

Keelokan rupa, kemuliaan nasab, kecerdasan, kekuasaan, dan kekayaan sering kali membawa pemiliknya kepada kesombongan dan kezaliman. Namun, segala puji bagi Allah k, bukan kedua hal ini yang ada pada Balqis atau Bilqis, Maharani Saba’, yang dikaruniai kerajaan besar dan sekian kelebihan tersebut. Tatkala cahaya ilmu dan kebenaran menyinarinya, wanita yang kisahnya ditorehkan di dalam Injil dan al-Qur’an ini pun merengkuhnya dengan segera dan menjadi mulia karenanya.

Muslimah, mari kita simak secercah kisah penguasa wanita ini, yang disarikan dari al-Jami’ li Ahkamil Qur’an karya al-Imam al-Qurthubi rahimahullah dan Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim karya al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita bisa mengambil ibrah dan hikmah dari sejarah yang diabadikan di dalam Kalamullah ini.

Hudhud yang Cerdik

Allah subhanahu wa ta’ala memuliakan Sulaiman ‘alaihissalam dengan kerajaan terbesar yang pernah menguasai bumi, dengan bala tentara yang besar dan unik yang terdiri atas jin, manusia, dan burung. Allah juga menjadikan beliau sebagai hamba yang pandai bersyukur atas kenikmatan-Nya.

Di antara pasukan Sulaiman ‘alaihissalam terdapat seekor hudhud, burung yang menyertai Sulaiman ‘alaihissalam di dalam perjalanan panjang beliau dan menaungi beliau dengan sayapnya bersama burung-burung yang lain. Ia bertugas mencarikan air bagi prajurit Sulaiman ‘alaihissalam, karena dapat melihat permukaan dan lapisan bawah bumi. Dalam salah satu riwayat, disebutkan bahwa hudhud ini bernama ‘Anbar, dan ia adalah satu-satunya burung hudhud dalam pasukan Sulaiman ‘alaihissalam.

Suatu ketika, Sulaiman singgah di suatu padang. Beliau membutuhkan si Hudhud untuk menunjukkan seberapa dalam sumber air di bawah tanah. Tatkala si Hudhud ini tidak beliau temukan, padahal pasukan yang sangat besar itu membutuhkan air, Sulaiman ‘alaihissalam pun berang. Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan kejadian ini,

وَتَفَقَّدَ ٱلطَّيۡرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَآ أَرَى ٱلۡهُدۡهُدَ أَمۡ كَانَ مِنَ ٱلۡغَآئِبِينَ ٢٠ لَأُعَذِّبَنَّهُۥ عَذَابٗا شَدِيدًا أَوۡ لَأَاْذۡبَحَنَّهُۥٓ أَوۡ لَيَأۡتِيَنِّي بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ٢١

“Dan ia memeriksa burung-burung itu, maka ia pun berkata, ‘Mengapa aku tidak melihat si Hudhud, ataukah ia termasuk yang tidak hadir? Sungguh, aku akan mengazabnya dengan azab yang keras atau menyembelihnya, kecuali apabila ia benar-benar mendatangiku dengan alasan yang jelas’.” (an-Naml: 20—21)

Ketika Ibnu ‘Abbas tengah membawakan tafsir ayat ini di majelis beliau, datanglah Nafi’ bin al-Azraq, seseorang dengan paham Khawarij—ia sering membantah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, “Berhentilah, wahai Ibnu ‘Abbas. Romawi telah dikalahkan!”

Ibnu ‘Abbas menjawab, “Lalu mengapa?”

“Engkau mengabarkan tentang si Hudhud bahwa ia dapat melihat air di ujung-ujung bumi, padahal sungguh, seorang anak kecil bisa meletakkan sebuah biji di dalam perangkap untuk burung ini. Ia menimbun biji itu dengan tanah, lalu nanti burung ini datang mematuknya dan terjatuh ke dalam perangkap, sehingga anak ini bisa menangkapnya!”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya bukan karena orang ini akan pergi dan berkata, ‘Aku berhasil membantah Ibnu Abbas!’, niscaya aku tidak akan menjawabnya.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nafi’, “Celaka engkau. Sesungguhnya, ketika turun takdir (ketetapan Allah), menjadi butalah penglihatan (Hudhud) dan hilanglah kehati-hatian(nya).”

Nafi’ berkata, “Demi Allah, aku tidak akan pernah membantahmu di dalam suatu permasalahan dari al-Qur’an selama-lamanya!”

Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengomentari riwayat ini, “Tidak ada yang bisa memberikan jawaban seperti ini melainkan seseorang yang berilmu tentang al-Qur’an.”

Dalam ayat di atas terdapat dalil yang mendorong seorang pemimpin untuk memeriksa dan memelihara keadaan rakyatnya. Ketika Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tidak mendapati Hudhud di tengah-tengah pasukan burung, beliau mengembalikan keadaan itu kepada diri beliau dengan berkata, “Mengapa aku tidak melihat si Hudhud?”. Maksudnya, “Apakah penglihatanku salah?”

Beliau telah diberi sebuah kerajaan yang sangat besar, dan Allah menundukkan makhluk bagi beliau. Beliau pun sadar bahwa beliau harus menunaikan syukur dengan cara menegakkan ketaatan dan senantiasa bersikap adil. Jadi, ketika beliau kehilangan nikmat berupa keberadaan Hudhud, beliau anggap bahwa hal ini terjadi karena kurangnya syukur sehingga nikmat tersebut diambil. Oleh karena itulah, beliau memeriksa diri sendiri.

Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa maksud ucapan Sulaiman ‘alaihissalam adalah Hudhud tidak ada, tetapi Sulaiman mengambil kelaziman dari ketidakhadirannya dengan berpikir bahwa beliau tidak melihatnya.

Setelah Sulaiman ‘alaihissalam memastikan bahwa Hudhud memang menghilang, beliau mengatakan, “Sungguh, aku akan mengazabnya dengan azab yang pedih”, yaitu dengan mencabuti bulu-bulunya. Ini adalah dalil bahwa jenis hukuman tergantung pada jenis dosa, bukan pada kekuatan jasad orang yang akan dihukum. “… atau menyembelihnya…”, yaitu membunuhnya, dan yang demikian ini dihalalkan bagi beliau. Beliau tidak akan menunaikan ancaman ini apabila Hudhud dapat mendatangkan alasan yang jelas atas ketidakhadirannya di tengah-tengah pasukan.

Sufyan bin ‘Uyainah dan ‘Abdullah bin Syaddad mengatakan bahwa tatkala Hudhud tiba, burung-burung pasukan Sulaiman berkata kepadanya, “Apa yang menjadikanmu tertinggal? Sungguh, Sulaiman telah menazarkan darahmu!”

Hudhud bertanya, “Apakah ia memberikan pengecualian?”

“Ya. Ia berkata, ‘Sungguh, aku akan mengazabnya dengan azab yang keras atau menyembelihnya, kecuali apabila ia benar-benar mendatangiku dengan alasan yang jelas’.”

Hudhud berkata, “Kalau demikian, aku akan selamat.”

Mujahid rahimahullah mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala melindungi Hudhud karena baktinya kepada induknya.

فَمَكَثَ غَيۡرَ بَعِيدٖ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ وَجِئۡتُكَ مِن سَبَإِۢ بِنَبَإٖ يَقِينٍ ٢٢

Maka berdiamlah Hudhud sesaat, kemudian ia (datang kepada Sulaiman dan) berkata, ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang tidak engkau ketahui, dan aku mendatangimu dari negeri Saba’ dengan suatu berita yang diyakini (benar)’.” (an-Naml: 22)

Hudhud datang dan menyampaikan berita yang tidak diketahui oleh Sulaiman ‘alaihissalam dan bala tentara beliau. Di dalam ucapan Hudhud “Aku telah mengetahui sesuatu yang tidak engkau ketahui” terdapat dalil yang membantah orang yang mengatakan bahwa para nabi mengetahui perkara gaib.

Hudhud berkata, “ … dan aku mendatangimu dari negeri Saba’ dengan suatu berita yang diyakini (benar).” Dengan ucapannya ini, ia terlindung dari hukuman dan penyembelihan. Ia mengabarkan berita yang jujur, benar, dan meyakinkan, dari negeri Saba’.

Asal nama negeri Saba’ ini diperselisihkan. Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan bahwa Saba’ adalah nama sebuah kota yang diketahui ada di daerah Ma’rib, berjarak sekitar perjalanan tiga hari dari Shan’a, Yaman.

Di dalam ayat ini terdapat dalil bolehnya orang yang lebih muda atau yang sedang belajar, untuk berkata kepada yang lebih tua atau yang lebih berilmu, “Saya mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui”, jika memang demikian keadaannya dan ia meyakini hal tersebut. Hal ini juga terjadi di kalangan sahabat. Tentu saja penyampaian tersebut semestinya dilakukan dengan penuh adab dan sopan santun.

 

Berita tentang Sang Ratu

Hudhud mengisahkan apa yang dijumpainya di perjalanan, yang menjadikannya terlambat bergabung dengan pasukan burung Sulaiman ‘alaihissalam.

إِنِّي وَجَدتُّ ٱمۡرَأَةٗ تَمۡلِكُهُمۡ وَأُوتِيَتۡ مِن كُلِّ شَيۡءٖ وَلَهَا عَرۡشٌ عَظِيمٞ ٢٣

“Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang memerintah mereka. Ia dianugerahi segala sesuatu dan memiliki singgasana yang besar.” (an-Naml: 23)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan bahwa wanita tersebut bernama Balqis—atau Bilqis—bintu Syarahil, Ratu Saba’. Zuhair bin Muhammad menyebutkan bahwa namanya Bilqis bintu Syarahil bin Malik bin ar-Rayyan, sedangkan ibunya adalah keturunan jin, yang diriwayatkan bernama Bal’amah bintu Syaishan.

Di dalam tafsir ayat ke-64 Surat al-Isra’, “Dan berserikatlah (engkau, wahai Iblis) dengan mereka (manusia) di dalam harta dan anak-anak mereka”, al-Qurthubi menyebutkan salah satu penafsiran para ulama tentang perserikatan Iblis dengan manusia di dalam anak-anak mereka. Beliau membawakan ucapan Mujahid, “Apabila seseorang berjima’ tanpa menyebut nama Allah, para jin pun berkerumun di saluran kemaluannya dan berjima’ bersamanya. Oleh karena itu, di dalam ar-Rahman: 56 dan 74, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Mereka (bidadari-bidadari itu) tidak pernah disentuh oleh manusia dan jin sebelum (suami-suami) mereka.’ Dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi rahimahullah dan al-Hakim dalam Nawadir al-Ushul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِيْكُمْ مُغَرِّبِيْنَ. قُلتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا الْمُغَرِّبُونَ؟ قَالَ: الَّذِينَ يَشْتَرِكُ فِيهِمُ الْجِنُّ

Sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang asing.’ Aku (‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) bertanya, ‘Wahai Utusan Allah, siapa orang-orang yang asing itu?’ Beliau menjawab, ‘Orang-orang yang jin berserikat dengan mereka.’

Al-Harawi rahimahullah berkata, ‘Mereka dikatakan sebagai orang-orang asing karena tubuh mereka dimasuki pembuluh darah yang aneh atau asing.’

At-Tirmidzi dan al-Hakim mengatakan bahwa bangsa jin saling berbangga dalam berbagai hal dan dalam percampuran yang menghubungkan mereka dengan manusia’.”

Apabila ada yang bertanya bagaimana mungkin keberadaan Bilqis dan kerajaannya tidak diketahui oleh Sulaiman ‘alaihissalam, padahal jarak antara tempat Sulaiman ‘alaihissalam di Syam dan negeri Balqis tidaklah jauh, jawabannya adalah Allah subhanahu wa ta’ala menyembunyikan pengetahuan ini dari Sulaiman ‘alaihissalam untuk suatu maslahat, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menyembunyikan tempat keberadaan Yusuf ‘alaihissalam dari Ya’kub ‘alaihissalam.

Bilqis bintu Syarahil, apabila shahih bahwa ini namanya, dikaruniai pasukan besar dan harta dunia berlimpah yang menopang tampuk kekuasaan dan jumlah tentaranya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa istri Sulaiman (Bilqis) membawahi seribu panglima, yang masing-masing membawahi 100 ribu prajurit. Ada beberapa riwayat lain yang menggambarkan besarnya kekuatan pasukan Bilqis bintu Syarahil.

Hudhud mengabarkan pula bahwa Bilqis memiliki singgasana yang besar. Singgasana Bilqis sangat megah dan dihiasi dengan emas, berbagai batu permata, dan mutiara. Zuhair bin Muhammad rahimahullah menyebutkan bahwa kedua sisi singgasana Bilqis terbuat dari emas, dan ditaburi dengan batu permata yaqut dan zabrajad. Singgasana tersebut berukuran panjang 80 hasta dan lebar 40 hasta. Yang serupa dengan ini juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas. Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa Bilqis dilayani oleh enam ratus wanita pelayan.

Ulama tarikh menyebutkan bahwa singgasana Bilqis berada di dalam istana yang besar, tinggi, lagi kokoh. Istana ini memiliki 360 lengkung bangunan di sisi timur, dan yang semisalnya di sisi barat. Arsitektur istana Bilqis dirancang sedemikian uniknya, hingga matahari akan terbit setiap hari dari satu lengkung, dan tenggelam di arah lengkung yang berlawanan dengannya. Kaum Bilqis pun sujud menyembah matahari setiap pagi dan petang. Oleh karena itu, di dalam ayat berikutnya disebutkan,

وَجَدتُّهَا وَقَوۡمَهَا يَسۡجُدُونَ لِلشَّمۡسِ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ فَصَدَّهُمۡ عَنِ ٱلسَّبِيلِ فَهُمۡ لَا يَهۡتَدُونَ ٢٤ أَلَّاۤ يَسۡجُدُواْۤ لِلَّهِ ٱلَّذِي يُخۡرِجُ ٱلۡخَبۡءَ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَيَعۡلَمُ مَا تُخۡفُونَ وَمَا تُعۡلِنُونَ ٢٥

“Aku mendapati ratu ini dan kaumnya sujud kepada matahari, selain Allah; dan setan menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka. Lalu setan menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapatkan petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah, yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi, dan yang mengetahui apa yang engkau sembunyikan dan yang engkau tampakkan.” (an-Naml: 24—25)

Setan menjadikan perbuatan kekufuran mereka itu tampak indah dalam pandangan mereka, sehingga mereka pun terhalang dari jalan kebenaran, jalan Allah subhanahu wa ta’ala, jalan tauhid, jalan pengesaan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam ibadah. Dengan kalimat tersebut, Hudhud yang cerdik ini menjelaskan bahwa siapa pun yang tidak berada di atas jalan tauhid berarti tidak berada di atas jalan yang memberinya manfaat dan kebenaran hakiki.

Karena makar setan, Bilqis dan kaumnya pada saat itu tidak berada di atas petunjuk yang membawa mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tauhid. Setan menghalangi mereka dari peribadahan hanya kepada Allah, yang oleh Hudhud disifatkan bahwa Dia klah satu-satunya Zat yang mampu mengeluarkan apa yang terpendam di langit, seperti hujan, dan yang terpendam di bumi, seperti berbagai perbendaharaan bumi dan tumbuhannya.

Qatadah rahimahullah menafsirkan “apa yang terpendam” dengan rahasia, sebagaimana Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu yang menjelaskan bahwa Allah klah yang mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Zat yang Maha Mengetahui inilah satu-satunya zat yang berhak diibadahi.

Hudhud menegaskan uluhiyyah Allah subhanahu wa ta’ala dengan ucapannya yang diabadikan di dalam al-Qur’an,

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ۩ ٢٦

“Allah, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (an-Naml: 26)

Allah, Dialah yang diseru, yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, Rabb ‘Arsy yang agung, yang tidak ada makhluk yang lebih besar daripada ‘Arsy-Nya.

Karena Hudhud menyeru kepada kebaikan, yaitu beribadah dan bersujud kepada Allah semata, dia tidak boleh disembelih. Diriwayatkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ وَالضِّفْدَعِ وَالنَّمْلَةِ وَالْهُدْهُدِ

Rasulullah radhiyallahu ‘anhu melarang membunuh burung tengkek (burung berbulu biru, pemakan udang atau ikan-ikan kecil, -ed.), katak, semut, dan burung hudhud.” (HR. al-Imam Ahmad 1/332, Abu Dawud no. 5267, dan Ibnu Majah no. 3224)

Apakah Nabi Sulaiman langsung membenarkan berita yang dibawa Hudhud? Apa yang akan beliau lakukan terhadap penguasa Saba’, apabila berita Hudhud benar? Nantikan detail kisahnya, insya Allah, di edisi mendatang. Wallahu ta’ala a’lam bish shawab, wa barakallahu fikunna.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + ten =