Maryam Bintu ‘Imran Bagian Ke-2

kisah-09Al-Ustadzah Lathifah Yusuf

MARYAM BINTU IMRAN – Sebuah Permisalan bagi Orang yang Beriman (Bagian Ke-2)

Telah berlalu kisah Maryam putri Imran ‘alaihassalam yang pergi membawa kehamilannya ke tempat yang jauh. Ia menjauhi kaumnya dan meninggalkan tempat yang terasa akrab baginya, yaitu tempat ibadahnya di Baitul Maqdis, dan orang-orang yang dekat dengannya, yaitu Zakaria q dan istrinya. Lara dan nestapa apakah yang hendak dilaluinya dengan menerima ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala yang sedemikian berat ini?

Maryam meninggalkan semua yang dekat dengannya karena serangkaian kejadian yang memicu kepergiannya. Disebutkan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Muhammad bin Ishaq rahimahullah menceritakan bahwa ketika Maryam mulai mengandung dan membesar perutnya, ia kembali kepada keluarganya. Maryam menjadi kekurangan darah dan mengalami kesulitan-kesulitan yang menimpa wanita hamil. Ia merasakan sakit di rahim. Raut mukanya memucat dan lidahnya pun pecah-pecah. Tidak ada yang menimpa sebuah keluarga seperti apa yang menimpa keluarga Zakaria ‘alaihissalam ketika itu.

Menyebarlah berita kehamilan Maryam di tengah-tengah Bani Israil. Mereka berkata, “Kekasih Maryam adalah Yusuf!” Mereka menuduh demikian karena tidak ada orang lain yang berada bersama Maryam di gereja selain Yusuf an-Najjar. Maryam pun menyembunyikan diri dari khalayak dan membuat hijab sehingga tidak ada seorang pun yang melihatnya, dan ia pun tidak melihat mereka.

Persalinan di Pelarian

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menceritakan kejadian yang menimpa Maryam ‘alaihassalam,

فَأَجَآءَهَا ٱلۡمَخَاضُ إِلَىٰ جِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ قَالَتۡ يَٰلَيۡتَنِي مِتُّ قَبۡلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسۡيٗا مَّنسِيّٗا ٢٣

Rasa sakit (karena akan melahirkan) memaksa Maryam bersandar pada pangkal pohon kurma. Maryam berkata, ‘Aduhai, sekiranya aku mati saja sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan’.” (Maryam: 23)

Rasa sakit hendak bersalin memaksa dan mendorongnya bersandar pada pokok pohon kurma. Pohon itu ada di tempat Maryam menyingkir dari kaumnya. As-Suddi rahimahullah mengatakan bahwa pohon kurma itu terletak di timur mihrab tempat Maryam shalat di Baitul Maqdis.

Wahb bin Munabbih rahimahullah mengatakan bahwa Maryam melarikan diri dari keluarganya, dan ketika sampai di suatu tempat antara Syam dan Mesir, ia mengalami kesakitan karena hendak bersalin. Dalam riwayat lain beliau mengatakan bahwa tempat itu berjarak sekitar delapan mil dari Baitul Maqdis, di sebuah daerah yang disebut Baitu Lahm (Betlehem).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa dalam hadits-hadits tentang peristiwa al-Isra’ (perjalanan Nabi n pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha), dalam riwayat an-Nasa’i rahimahullah dari Anas bin Malik a dan dalam riwayat al-Baihaqi rahimahullah dari Syaddad bin Aus a, disebutkan bahwa tempat persalinan Maryam ‘alaihassalam adalah Betlehem. Wallahu a’lam, ini adalah riwayat masyhur yang diterima dari generasi ke generasi. Kaum Nasrani tidak ragu lagi bahwa tempat tersebut adalah Betlehem, dan manusia pun menerimanya. Lebih-lebih terdapat hadits yang menyebutkan nama tempat ini. Jika memang hadits-hadits tersebut shahih, bisa dijadikan sandaran.

Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan derita Maryam, “Maryam berkata, ‘Aduhai, sekiranya aku mati saja sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan’.” Lafadz ayat ini mengandung dalil dibolehkannya mengangankan kematian ketika seseorang tertimpa cobaan. Banyak hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang melarang kita mengharapkan kematian, kecuali saat ditimpa cobaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (mengisahkan ucapan Yusuf q, -ed.),

تَوَفَّنِي مُسۡلِمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ١٠١

“Matikanlah aku dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu) dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Yusuf: 101)

Maryam mengetahui bahwa ia akan diberi bala dan ujian dengan lahirnya anak, yang dalam hal ini manusia tidak melihat Maryam berada di dalam kelurusan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak akan membenarkan berita Maryam. Meskipun sebelumnya di tengah-tengah mereka Maryam adalah wanita ahli ibadah, kini ia mereka sangka menjadi pelacur dan pezina. Oleh karena itulah, Maryam berkata, “Sekiranya aku mati saja sebelum ini.” Ibnu ‘Abbas h menjelaskan bahwa maksudnya adalah sebelum keadaan yang berkembang tersebut. “(Andai) aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan,” maksudnya, “Aku tidak pernah diciptakan dan tidak menjadi sesuatu pun.”

Maryam berangan-angan seandainya ia mati sebelum tertimpa kesedihan dan kenyataan yang memilukan karena melahirkan anak tanpa suami. Sekiranya ia tidak pernah ada dan tidak ada seorang pun yang akan mengingatnya, layaknya secarik kain pembalut bagi wanita yang haid, yang akan dilemparkan, tidak disebut, dan tidak dicari lagi.

Ini menunjukkan dahsyatnya cobaan dan ujian yang menimpa Maryam ketika itu. Seorang wanita muda ahli ibadah, yang sebelumnya dicintai dan dimuliakan di tengah-tengah kaumnya, harus melarikan diri meninggalkan keluarga yang membesarkannya. Di negeri asing ia mengalami kesakitan yang sangat, kepayahan, dan kelelahan persalinan. Ia hadapi kelahiran anaknya sendirian, tanpa pertolongan seorang manusia pun. Ia gelisah, takut, dan khawatir. Perasaannya bercampur baur antara menahan deraan rasa sakit di tubuhnya dan rasa laparnya, mengingat ucapan manusia tentang dirinya dan anaknya, merasakan kesendiriannya, dan khawatir tidak bisa bersabar dengan ketetapan Allah yang agung ini atasnya.

Pertolongan dan Hiburan bagi Putri ‘Imran ‘alaihassalam

Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Penyayang pun menurunkan pertolongan-Nya dan menghiburnya dengan menghadirkan malaikat-Nya yang paling mulia.

فَنَادَىٰهَا مِن تَحۡتِهَآ أَلَّا تَحۡزَنِي قَدۡ جَعَلَ رَبُّكِ تَحۡتَكِ سَرِيّٗا ٢٤ وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا ٢٥

“Jibril menyeru Maryam dari tempat yang rendah, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Goyangkan pangkal pokok pohon kurma itu ke arahmu, pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu’.” (Maryam: 24—25)

Jibril q menenangkannya dari rasa takutnya, mengokohkan jiwanya, menghapus kegelisahannya, dan menyerunya dari tempat yang lebih rendah agar ia tidak bersedih hati, tidak mengeluh, dan tidak bersikap lemah.

Pohon kurma di tempat kelahiran putra Maryam berbuah. Ibnu ‘Abbas menerangkan bahwa pohon kurma itu sudah kering. Ahli tafsir lain menjelaskan bahwa buah kurma tersebut masih saling melekat satu sama lain, masih terbungkus dalam tandannya. Wahb bin Munabbih rahimahullah mengatakan bahwa yang jelas, pohon kurma tersebut belum tiba saatnya berbuah matang. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan nikmat-Nya kepada Maryam dengan hal ini, yaitu Allah menjadikan makanan dan minuman itu dekat di sisinya.

تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا ٢٥ فَكُلِي وَٱشۡرَبِي وَقَرِّي عَيۡنٗاۖ

“Pohon kurma itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum, dan bersukacitalah engkau.” (Maryam: 25—26)

Jibril menyuruhnya bersenang hati. ‘Amr bin Maimun rahimahullah menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada kurma kering dan kurma segar bagi wanita yang sedang nifas, kemudian beliau membaca ayat yang mulia ini.

Ada pelajaran penting bagi orang-orang beriman dalam ayat ini. Maryam—dalam kondisinya yang payah, dengan segenap kemudahan yang diberikan Allah berupa dialirkannya anak sungai dan dimatangkannya kurma sebelum saatnya—masih harus menggoyangkan pangkal pohon kurma untuk mendapatkan makanan baginya. Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan suatu perkara dengan sebab/faktor yang mengantarkan pada perkara tersebut. Allah ingin hamba-hamba-Nya menempuh sebab/faktor tersebut untuk meraih keinginan mereka. Dalam masalah ini, Allah subhanahu wa ta’ala menentukan rezeki berupa kurma bagi Maryam dengan sebab perbuatan Maryam menggoyangkan pangkal pohon kurma tersebut.

Ilmu pengetahuan manusia yang terus berkembang sesuai dengan kehendak dan izin Allah subhanahu wa ta’ala membukakan sebagian rahasia indah di balik ayat ini. Kurma masak adalah nutrisi yang sangat baik bagi ibu yang sedang atau baru saja melahirkan. Menurut penelitian terakhir, gerakan tubuh tertentu yang berulang di saat melahirkan justru membantu memberikan tenaga dan membantu pelepasan hormon beta-endorfin yang memberikan efek analgesik (pereda rasa nyeri/sakit) di saat melahirkan. Sebagian rumah sakit sudah mulai memberikan bola untuk pasien di bangsal bersalin, untuk membantu mereka melakukan squat (gerakan jongkok), yang membantu proses melahirkan. Banyak manfaat lain dari gerakan-gerakan tertentu yang dilakukan seorang ibu saat ia sedang bersalin, yang bukan di sini tempatnya untuk kita ulas.

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan tafsir ayat di atas, “Jibril menyuruh Maryam ‘alaihassalam untuk makan buah kurma, minum dari anak sungai yang dialirkan di bawah kakinya, dan bersukacita dengan kehadiran ‘Isa bin Maryam. Ini menjadi ketenangan bagi Maryam, keselamatan dalam persalinan, adanya makanan dan minuman, serta kebahagiaan dengan kehadiran buah hatinya.”

Allah Membersihkan Maryam ‘alaihassalam dari Tuduhan Zina

Adapun tentang tudingan dan tuduhan zina dari manusia, Allah memerintah Maryam untuk berkata dengan gerakan/isyarat apabila bertemu dengan siapa pun,

فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلۡبَشَرِ أَحَدٗا فَقُولِيٓ إِنِّي نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَٰنِ صَوۡمٗا فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡيَوۡمَ إِنسِيّٗا ٢٦

Jika engkau melihat seorang manusia, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabbku Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’..” (Maryam: 26)

Puasa di sini adalah dengan diam, menahan diri dari berbicara. Perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepada Maryam, “Aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini” maksudnya janganlah engkau mengucapkan satu perkataan pun kepada mereka, sehingga engkau bisa beristirahat dari ucapan dan pembicaraan mereka. Memang, bagi ahli kitab, diam adalah ibadah yang disyariatkan.

Maryam diperintah untuk tidak berbicara kepada manusia dengan tujuan menolak tuduhan zina dari dirinya. Manusia toh sudah tidak mau membenarkan perkataannya sehingga tidak ada faedahnya dia terus berbicara. Dengan diamnya, ucapan ‘Isa ‘alaihissalam tatkala masih di dalam buaian pun menjadi saksi terbesar atas bara’ah (sikap berlepas diri) Maryam dari perbuatan zina yang dituduhkan kepadanya. Sebab, ketika seorang wanita mendatangkan anak tanpa adanya suami, kemudian ia mengaku bahwa anaknya memang tidak memiliki ayah, hal ini termasuk pengakuan paling besar yang seandainya didatangkan sejumlah saksi, tidak akan ada yang membenarkannya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan bukti—bagi perkara ajaib yang menyelisihi kebiasaan ini—dengan perkara serupa yang juga menyelisihi kebiasaan, yaitu berbicaranya ‘Isa bin Maryam tatkala masih bayi di buaian.

Abdurrahman bin Zaid dan Wahb bin Munabbih berpendapat bahwa yang memanggil Maryam dari arah bawah adalah ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam. Ia berkata, “Janganlah engkau bersedih.” Maryam menjawab, “Bagaimana aku tidak akan bersedih hati, sementara engkau bersamaku dan aku tidak memiliki suami, dan bukan pula aku seorang budak? Apa yang akan menjadi alasanku di hadapan manusia? Aduhai, sekiranya aku mati saja sebelum ini dan menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.”

‘Isa ‘alaihissalam menjawab, “Aku yang akan mencukupkanmu dari berbicara. Jika engkau melihat seorang manusia, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabbku Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’.” Ini semua adalah ucapan ‘Isa ‘alaihissalam yang masih bayi, menurut pendapat sebagian ahli tafsir.

Keteguhan Maryam ‘alaihassalam Menghadapi Kaumnya

Di dalam ayat-ayat berikutnya Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan keadaan Maryam bintu ‘Imran ketika diperintah untuk menahan diri dari berbicara, dan bahwa urusannya akan diselesaikan. Maryam menampakkan keimanan dan penyerahan diri yang sempurna kepada perintah dan ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala. Ia pun menggendong putranya dan membawanya berhadapan dengan Bani Israil.

فَأَتَتۡ بِهِۦ قَوۡمَهَا تَحۡمِلُهُۥۖ قَالُواْ يَٰمَرۡيَمُ لَقَدۡ جِئۡتِ شَيۡ‍ٔٗا فَرِيّٗا ٢٧ يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا ٢٨ فَأَشَارَتۡ إِلَيۡهِۖ قَالُواْ كَيۡفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي ٱلۡمَهۡدِ صَبِيّٗا ٢٩ قَالَ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا ٣٠ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا ٣١ وَبَرَّۢا بِوَٰلِدَتِي وَلَمۡ يَجۡعَلۡنِي جَبَّارٗا شَقِيّٗا ٣٢ وَٱلسَّلَٰمُ عَلَيَّ يَوۡمَ وُلِدتُّ وَيَوۡمَ أَمُوتُ وَيَوۡمَ أُبۡعَثُ حَيّٗا ٣٣

“Maryam pun membawa anaknya kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata, Wahai Maryam, sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat, dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.’ Maryam memberikan isyarat kepada bayinya. Mereka berkata lagi, Bagaimana kami akan berbicara dengan bayi yang masih berada di dalam buaian?! ‘Isa berkata, Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab dan Dia telah menjadikanku sebagai nabi. Dia menjadikanku sebagai seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia mewasiatiku untuk menegakkan shalat dan menunaikan zakat selama hidupku. Dia menjadikanku berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku orang yang sombong lagi celaka. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku mati, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali’.” (Maryam: 27—33)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Setelah Maryam sembuh dari nifasnya, ia membawa putranya, ‘Isa, menemui Bani Israil dengan penuh kemantapan dan tanpa memedulikan apa pun. Ia yakin akan kesucian diri dan bara’ahnya dari tuduhan keji manusia.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, “Maryam berasal dari rumah kenabian dan kemuliaan, sehingga menghilangnya Maryam menjadikan kaumnya keluar mencarinya. Mereka tidak bisa menemukan jejak Maryam sedikit pun. Mereka berjumpa dengan seorang penggembala sapi. Mereka bertanya, ‘Apakah engkau melihat seorang pemudi yang ciri-cirinya demikian dan demikian?’

Si penggembala menjawab, ‘Tidak, tetapi semalam aku melihat sapi-sapiku melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.’

‘Apa yang kaulihat?’

‘Aku melihat semua sapiku sujud ke arah lembah ini.’

Dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Abi Ziyad, disebutkan bahwa penggembala sapi itu mengatakan, ‘Aku melihat sebuah cahaya yang jatuh.’

Mereka bergegas pergi ke arah yang ditunjukkan si penggembala tadi. Maryam pun bertemu dengan mereka. Ketika melihat mereka, ia duduk dan menggendong putranya di pangkuannya. Mereka datang hingga berdiri di hadapan Maryam. Mereka berkata, ‘Wahai Maryam, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar’, yaitu sesuatu yang sangat besar urusannya.

Mereka memanggil Maryam sebagai saudara Harun. Maksudnya, wahai wanita yang serupa dengan Harun ‘alaihissalam dalam hal ibadahnya.”

Ada penafsiran lain bahwa Maryam adalah keturunan Nabi Harun. Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menyatakan bahwa secara zhahir, Maryam memang memiliki saudara yang bernama Harun sehingga Maryam dinisbatkan kepadanya. Ini sesuatu yang mungkin karena Bani Israil menamai anak-anak mereka dengan nama nabi-nabi mereka. Harun ini bukan saudara Musa ‘alaihissalam karena antara Maryam dan Musa terdapat selisih masa yang sangat panjang.

Kata Ibnu Abi Hatim selanjutnya, “Bani Israil dengan keras menghujat Maryam, ‘Engkau berasal dari keluarga yang penuh kebaikan dan kesucian, yang terkenal dengan kesalehan, ibadah, dan kezuhudan. Bagaimana engkau bisa melakukan kekejian ini!?’.”

Maryam tidak gentar dengan kecaman dan tuduhan mereka. Bani Israil meragukan dan mengingkari kisah Maryam yang diceritakannya kepada keluarganya, bahkan melemparkan tuduhan keji kepadanya, sedangkan Maryam pada hari itu berpuasa, tidak berbicara. Maryam pun memberi isyarat kepada kaumnya untuk berbicara kepada putranya. Mereka mengejek Maryam dan menyangka bahwa ia telah meremehkan dan mempermainkan mereka. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan bayi yang masih berada di dalam buaian?!”

As-Suddi rahimahullah menyebutkan, “Ketika Maryam mengisyaratkan kepada mereka untuk berbicara dengan bayi di pangkuannya, mereka marah dan berkata, ‘Sungguh, olok-olokannya kepada kita dengan memerintah kita untuk berbicara dengan bayi ini lebih berat kesalahannya di hadapan kita daripada perbuatan zinanya!’.”

Ayat Allah subhanahu wa ta’ala pada Diri Putra Maryam bintu Imran ‘alaihassalam

Namun, Allah subhanahu wa ta’ala hendak menjadikan mereka terkejut dan mulut-mulut mereka ternganga tatkala bayi yang berada di buaian ibunya itu berbicara dengan mukjizat-Nya. Allah hendak membebaskan hamba-Nya dari tuduhan keji yang dilontarkan dengan zalim kepadanya. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan, “Tatkala Bani Israil meletupkan kemarahan mereka dengan mencaci-maki Maryam secara membabi buta, bayi yang sedang menyusu itu pun melepaskan susu ibunya dan bersandar pada rusuk kirinya. Ia memandang mereka dan mengangkat jari telunjuknya lebih tinggi daripada pundaknya, sembari berkata, ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah.’ Inilah awal pembicaraannya. ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam menyucikan Rabbnya, membersihkan Allah dari sifat memiliki anak. ‘Isa ‘alaihissalam menyebutkan sifat penghambaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga ia tidak pantas menjadi sembahan yang mendapatkan peribadahan.”

‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam berkata lagi, “Dia memberiku al-Kitab dan telah menjadikanku sebagai nabi. Ucapan ini membersihkan tuduhan keji Bani Israil kepada ibundanya.

‘Isa ‘alaihissalam berkata, “Dia menjadikanku sebagai seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.” Mujahid rahimahullah, Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, dan yang selainnya menafsirkan, “Allah menjadikanku sebagai orang yang mengajarkan kebaikan di mana pun aku berada.”

Ibnu Jarir rahimahullah meriwayatkan, dengan sanadnya, sebuah kisah tentang seorang alim yang bertemu dengan seseorang yang lebih berilmu daripada dirinya. Ia bertanya, “Semoga Allah merahmatimu. Apa yang harus kuperlihatkan dari amalanku (kepada manusia)?” Orang tersebut menjawab, “Memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, karena hal ini adalah agama Allah yang dengannya Allah mengutus para nabi-Nya kepada hamba-hamba-Nya.”

Tentang firman Allah, “Dia menjadikanku sebagai seorang yang diberkahi di mana saja aku berada”, ahli fikih bersepakat bahwa ketika ditanyakan, “Apa berkah ‘Isa tersebut?”, dijawab, “Ia memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, di mana pun ia berada.”

‘Isa berkata lagi, “Dia mewasiatiku untuk menegakkan shalat dan menunaikan zakat selama hidupku.” ‘Isa ‘alaihissalam memberitahukan perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya yang harus dijalankannya seumur hidupnya.

Setelah menyebutkan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ‘Isa menyebutkan kewajibannya yang pertama kepada makhluk Allah, yaitu berbakti kepada orang tua, “Dia menjadikanku berbakti kepada ibuku.” Allah memerintah ‘Isa untuk berbakti kepada ibundanya, Maryam bintu ‘Imran. Banyak ayat di dalam al-Qur’an yang menggandengkan perintah untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan perintah berbakti kepada orang tua.

Maryam, dengan segenap ketaatannya kepada Rabbnya, telah dikaruniai anugerah mukjizat yang besar berupa putra yang terlahir dari tiupan ruh ciptaan Allah, yang ditakdirkan sebagai nabi yang menyerukan agama Allah subhanahu wa ta’ala, berbakti kepada ibunya, dan rendah hati, tidak sombong, dan tidak membanggakan diri.

‘Isa ‘alaihissalam berkata lagi, “Dia tidak menjadikanku orang yang sombong lagi celaka.” Maksudnya, “Allah tidak menjadikanku angkuh, sombong dari beribadah dan taat kepada Allah, dan dari berbakti kepada ibuku. Apabila aku melakukan kesombongan tersebut, niscaya celakalah aku.”

Sebagian salaf menyebutkan, “Engkau tidak akan menjumpai seseorang yang mendurhakai orangtuanya melainkan pasti engkau menjumpainya sebagai orang yang sombong lagi celaka.”

Kemuliaan dan Keutamaan Bintu ‘Imran ‘alaihassalam

Hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan Maryam dan Isa ‘alaihimassalam sebagai tanda kebesaran dan keesaan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam uluhiyyah-Nya. Keduanya menjadi ujian bagi manusia. Ada yang berlebihan menyikapi mereka, sebagaimana kaum Nasrani yang memosisikan mereka sebagai sembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala, dan ada yang meremehkan kedudukan mereka, sebagaimana Yahudi yang mengingkari kenabian ‘Isa dan menuduh Maryam sebagai pezina dan ‘Isa sebagai anak haramnya. Umat Islam berdiri di antara dua sikap ekstrem ini. Kita memuliakan dan menghormati mereka berdua beserta segenap keutamaan mereka, tetapi tidak memosisikan mereka sebagai sembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Cukuplah firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang keduanya,

مَّا ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُ وَأُمُّهُۥ صِدِّيقَةٞۖ كَانَا يَأۡكُلَانِ ٱلطَّعَامَۗ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ ثُمَّ ٱنظُرۡ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٧٥

“Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Ibunya adalah seorang shiddiqah (yang sangat jujur). Keduanya biasa makan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada mereka (ahli kitab), kemudian perhatikan bagaimana mereka berpaling.” (alMaidah: 75)

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Maryam mendapatkan keutamaan tertinggi yang dapat diraih oleh seorang wanita, yaitu gelar shiddiqah, yang artinya Maryam adalah wanita yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan membenarkan-Nya.

Di dalam banyak hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menyebutkan keutamaan Maryam bintu ‘Imran ‘alaihassalam. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya no. 3432, Rasulullah bersabda,

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ

Sebaik-baik wanita (zamannya) adalah Maryam bintu ‘Imran, dan sebaik-baik wanita )zamannya) adalah Khadijah bintu Khuwailid.

At-Tirmidzi rahimahullah, di dalam Sunan-nya no. 3888, meriwayatkan dari Nabi n, beliau bersabda, (derajat hadits???)

حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ الْعَالمَيِنَ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ، وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

“Cukuplah bagimudari wanita seluruh alam iniMaryam bintu ‘Imran, Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad, dan Asiah istri Fir’aun.”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjuluki Maryam ‘alaihassalam dengan sifat kesempurnaan. Ibnu Jarir rahimahullah, di dalam Tafsir beliau (6/397—398), meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

Yang sempurna dari kalangan laki-laki itu banyak, tetapi tidak sempurna dari kalangan wanita selain Maryam bintu ‘Imran dan Asiah istri Fir’aun.”

Yang serupa dengan hadits tadi juga diriwayatkan di dalam ash-Shahihain.

Di dalam al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, “Disebutkan dalam sebagian riwayat hadits bahwa Maryam putri ‘Imran dan Asiah istri Fir’aun adalah dua wanita yang dimaksudkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai sebagian dari istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang perawan dan yang janda di surga-Nya kelak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَٰتٖ مُّؤۡمِنَٰتٖ قَٰنِتَٰتٖ تَٰٓئِبَٰتٍ عَٰبِدَٰتٖ سَٰٓئِحَٰتٖ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ٥

“Boleh jadi, Rabbnya akan memberinya pengganti dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, yang patuh, beriman, taat, bertobat, banyak beribadah, berpuasa, yang janda, dan yang perawan.” (at-Tahrim: 5)

Selain itu, Asiah bintu Muzahim, istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran ‘alaihassalam dijadikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai permisalan bagi orang-orang yang beriman,

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتٗا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ١١ وَمَرۡيَمَ ٱبۡنَتَ عِمۡرَٰنَ ٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا فَنَفَخۡنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتۡ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ وَكَانَتۡ مِنَ ٱلۡقَٰنِتِينَ ١٢

Allah membuat permisalan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, tatkala ia berkata, “Wahai Rabbku bangunkan untukku sebuah rumah di surga, selamatkan aku dari (kejelekan) Fir’aun dan amalannyua, dan selamatkan aku dari orang-orang yang zhalim. Dan Maryam putri ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya dari ruh ciptaan Kami, dan Maryam membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah Maryam itu termasuk orang-orang yang taat.” (at-Tahrim: 12)

Maryam putri ‘Imran dipuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena ketinggiannya menjaga kemaluannya dari kekejian zina, pembenarannya terhadap kalimat Rabbnya, yaitu keimanannya kepada takdir dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala, serta ketaatannya seumur hidupnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Maryam menjadi permisalan Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang-orang yang beriman karena meskipun ia berhadapan dengan orang-orang yang kafir kepada Allah, kekufuran mereka tidak memudaratkannya. Ia hamba Allah yang banyak beribadah, shiddiqah, lagi qanitah (taat) kepada-Nya. Sungguh layak apabila wanita muslimah mempelajari kisah dan perjalanan hidup Maryam bintu ‘Imran ‘alaihassalam dan memetik ibrah darinya.

Maryam putri ‘Imran, ibunda ‘Isa ‘alaihissalam, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya.

Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × one =