Memupuk Solidaritas, Mengikis Sifat Individualis

adab-7Al-Ustadz Marwan

Kebakhilan Menumbuhkan Sifat Individualis yang Tercela

Individualis/egois adalah orang yang senantiasa mendahulukan kepentingannya sendiri sekaligus menganggap bahwa dirinya lebih pantas mendapatkan hak dan pelayanan dalam urusan duniawi. Sifat ini termasuk akhlak yang tercela karena muncul dari sifat bakhil yang merupakan lawan sifat mulia, yaitu dermawan.

Sifat bakhil yang paling dahsyat ialah bakhil terhadap diri sendiri dalam keadaan dirinya sangat membutuhkan. Betapa banyak orang bakhil yang menahan hartanya dan tidak mau mengeluarkannya, padahal ia sedang sakit dan memerlukan pengobatan. Betapa banyak pula orang yang bakhil dalam hal amalan-amalan kebaikan; ia terhalang mengerjakannya karena sifat bakhil tersebut.

Sedemikian jeleknya sifat bakhil yang menimpa pemiliknya sendiri, lantas bagaimana halnya ketika sifat bakhil ini ditujukan kepada orang lain? Kita memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari sifat yang sangat tercela ini.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengajari kita doa untuk berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari sifat bakhil. Dalam hadits dari ‘Umar bin al-Khaththab z, disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berdoa,

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan sifat bakhil.”

Hal lain yang menunjukkan jeleknya sifat bakhil adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,

لاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Tidak akan pernah berkumpul selama-lamanya sifat kikir (dalam harta dan kebaikan) dan keimanan di dalam hati seorang hamba.” (HR. an-Nasa’i dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah )

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan, “Berkaitan dengan sifat bakhil, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ٨ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ٩ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ١٠ وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ ١١

 “Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar, dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (al-Lail: 8—11)

Ayat-ayat di atas merupakan lanjutan ayat,

فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ ٥ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ٦ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ٧

 Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (al-Lail: 5—7)

Orang yang meyakini kebenaran al-haq (yaitu kalimat La ilaha illallah dan seluruh konsekuensinya dalam hal akidah, termasuk meyakini adanya balasan pahala di akhirat); menunaikan kewajiban, baik yang terkait dengan ilmu, harta, maupun kedudukan; dan senantiasa menjaga ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala , sungguh Dia l akan memberi mereka kemudahan untuk menempuh jalan di dunia dan di akhirat.

Setiap orang hendaknya memikirkan keadaan jiwanya, apakah termasuk jiwa yang membenarkan al-haq, memberikan sesuatu yang wajib diberikan, dan senantiasa menjaga ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala . Kalau demikian keadaannya, sungguh, dia termasuk orang yang akan senantiasa diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Namun, apabila keadaannya sebaliknya, lawannya pula yang akan dia peroleh.

Sisi pendalilan pada ayat di atas adalah firman-Nya,

وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ

“Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.”

Maksudnya, bakhil untuk menunaikan kewajiban, baik yang terkait dengan harta, kedudukan, maupun ilmu.

Di antara sifat bakhil adalah yang disebutkan di dalam hadits, “Orang yang bakhil adalah yang ketika namaku (Nabi) disebutkan di sisinya, ia tidak membaca shalawat atasku.”

Ini merupakan kebakhilan terhadap kewajiban yang harus ditunaikan, yaitu ketika nama Nabi n disebut di sisinya, ia tidak bershalawat atas beliau. Sementara itu, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan petunjuk dengan perantaraan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Maka dari itu, sepantasnyalah kita bersegera membaca shalawat atas Rasulullah ketika nama beliau disebut.” (Syarh Riyadhish Shalihin min Kalami Sayyidil Mursalin )

Mengobati Sifat Bakhil

Sifat individualis tidak akan terkikis, bahkan akan tumbuh subur, selama sifat bakhil yang terdapat dalam jiwa seseorang tidak diobati sedini mungkin.

Saudariku, rahimakunnallah. Mengobati sifat bakhil ditempuh dengan mengetahui penyebabnya, kemudian mengobatinya dengan sifat baik yang menjadi lawan penyebab sifat bakhil tersebut.

Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Tentang mengobati sifat bakhil, ketahuilah, penyebab kebakhilan adalah kecintaan terhadap harta benda. Kecintaan terhadap harta memiliki dua sebab:

Pertama, kecintaan terhadap berbagai syahwat, yang tidak bisa dipenuhi kecuali dengan harta dan panjangnya angan-angan.

Kedua, kecintaan terhadap harta itu sendiri.

Ketahuilah pula, metode pengobatan segala penyakit adalah dengan memberikan lawan dari penyebab penyakit tersebut. Maka dari itu, mengobati kecintaan terhadap syahwat ditempuh dengan menumbuhkan sifat qana’ah dan sabar; sedangkan mengobati panjangnya angan-angan ialah dengan memperbanyak mengingat kematian.”

Sampai pada penuturan beliau rahimahullah , “Ketahuilah, semakin banyak urusan duniawi yang dicintai, semakin banyak pula musibah yang menimpa akibat hilangnya urusan tersebut. Maka dari itu, barang siapa mengenali efek negatif yang mungkin muncul dari harta benda, dia tidak akan terbuai olehnya. Dia hanya mengambil harta tersebut sesuai dengan keperluan. Sikap menahan diri dari harta benda sesuai dengan kebutuhan ini tidak disebut sebagai kebakhilan. Wallahu a’lam.” (Mukhtashar Minhajil Qashidin)

Memupuk Solidaritas dengan al-Itsar

Mendidik dan melatih jiwa agar memiliki sifat dermawan adalah upaya yang seyogianya dilakukan oleh setiap muslimah. Setiap bentuk muamalahnya dilakukan semata-mata untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengharapkan pahala serta keridhaan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ ١٨ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعۡمَةٖ تُجۡزَىٰٓ ١٩ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ٢٠ وَلَسَوۡفَ يَرۡضَىٰ ٢١

“…yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Akan tetapi, (dia memberikan itu semata-mata) karena mengharap Wajah Rabbnya yang Mahatinggi. Kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (al-Lail: 18—21)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ٨ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا ٩

 “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Mereka mengatakan) ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih’.” (al-Insan: 8—9)

Kedermawanan tidak terbatas pada mendermakan sejumlah harta kepada orang yang berhak, tetapi juga mencakup hal-hal yang terkait dengan kemaslahatan duniawi. Misalnya, mendahulukan saudaranya untuk memperoleh pelayanan dalam suatu urusan duniawi, membantu sesama, dan sebagainya. Kedermawanan dengan derajat tertinggi adalah al-itsar, yaitu mengutamakan pemberian—berupa harta atau kebaikan yang bersifat duniawi—kepada orang lain, padahal si pemberi sendiri membutuhkannya. Tidak ada kedermawanan dengan derajat yang lebih tinggi daripada al-itsar.

Allah subhanahu wa ta’ala memuji para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam karena al-itsar yang mereka miliki. Allah berfirman,

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩

 “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yakni kaum Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (kaum Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin), dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) di atas diri mereka sendiri sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan. Barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Menyusuri Jejak dan Kisah Berharga di Kurun Terbaik

Saudariku kaum muslimah, rahimakunnallah.

Ada sebuah kisah yang tidak seyogianya dilupakan oleh orang yang pernah membaca dan mempelajarinya. Kisah ini juga mengandung khazanah faedah bagi orang yang belum pernah membaca dan mempelajarinya. Ibunda kaum mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bercerita, “Suatu ketika, datang seorang wanita miskin bersama kedua anaknya ke rumahku. Ia meminta sesuatu kepadaku, tetapi makanan yang kumiliki saat itu hanyalah sebutir kurma. Kuberikan kurma itu kepadanya, lalu dia membaginya menjadi dua dan memberikannya kepada kedua anaknya. Setelah itu, mereka pun pergi. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam masuk ke rumahku, lalu kuceritakan kejadian tersebut kepada beliau. Beliau bersabda, ‘Barang siapa mengurusi anak-anak perempuan sebagaimana wanita tersebut, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, kelak mereka menjadi penghalang baginya dari api neraka’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Selain menunjukkan pola hidup sahaja yang ada di rumah tangga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, kisah ini juga menunjukkan kedermawanan dan itsar yang dimiliki ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau mendahulukan orang lain yang sangat membutuhkan, padahal makanan yang ada di rumah beliau hanyalah sebutir kurma tersebut.

Akan kita telusuri kisah lain yang juga penuh suri teladan terkait dengan al-itsar.

Pada peristiwa Perang Yarmuk, sahabat-sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, yaitu al-Harits bin Hisyam, Suhail bin ‘Amr, dan ‘Ikrimah bin Abi Jahl, gugur di jalan Allah sebagai syuhada. Dalam kondisi kritis sebelum meninggal, mereka disodori air minum. Namun, masing-masing mengutamakan saudaranya yang lain yang sama-sama sangat membutuhkan air minum. Pada saat salah seorang di antara mereka disodori air minum, ia mengatakan, Berikan terlebih dahulu kepada si Fulan.” Demikian seterusnya hingga semuanya mendapati ajal sebelum sempat meminum air tersebut.

Dalam riwayat lain dikisahkan, “Ketika ‘Ikrimah meminta air minum, ia melihat Suhail bin ‘Amr tengah memandangnya. ‘Ikrimah pun mengatakan (kepada orang yang menyodorkan minuman), ‘Berikan air itu kepada Suhail.’ Pada saat itu pula, Suhail melihat al-Harits bin Hisyam sedang memandangnya. Suhail pun mengatakan, ‘Berikan air itu kepadanya.’ Akan tetapi, belum sampai air minum tersebut kepada al-Harits bin Hisyam, ternyata ketiga-tiganya telah menemui ajal.”

Dua kisah di atas cukuplah menjadi teladan yang baik terkait dengan akhlak mulia, yaitu al-itsar. Membiasakan diri berbuat itsar kepada orang lain dalam urusan duniawi akan menciptakan solidaritas yang tinggi di tengah masyarakat. Akan tumbuhlah kepekaan dan kepedulian kepada sesama muslim. Lebih besar daripada itu adalah diraihnya keridhaan dan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala .

Wallahu ta’ala a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 13 =