Menjaga Kebersihan Si Kecil

buah-kasih-13Al-Ustadzah Ummu Umar Asma

Bersih pangkal sehat. Ungkapan ini sudah sangat kita kenal. Memang, dengan menjaga kebersihan, di antara manfaat yang didapat adalah badan dan lingkungan yang sehat.

Sebagai agama yang sempurna yang mengajarkan setiap kebaikan kepada manusia dan memperingatkan mereka dari segala kejelekan, Islam tidak melalaikan masalah kebersihan. Baik kebersihan badan, kebersihan pakaian, maupun kebersihan lingkungan sangat ditekankan di dalam Islam. Bahkan, Allah sendiri berfirman dalam Kitab-Nya yang agung,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤

            “Dan pakaianmu sucikanlah.(al-Muddatstsir: 4)

Sebagai hamba yang taat kepada sang Khaliq, semestinya kita memiliki perhatian terhadap masalah ini. Terlebih orang tua, tanggung jawabnya bukan hanya memerhatikan diri sendiri, melainkan juga harus memerhatikan anak-anaknya. Oleh karena itu, tidak pantas orang tua membiarkan buah hatinya berpenampilan lusuh, kotor, dan tidak rapi. Sebab, hal itu tentunya bertolak belakang dengan ajaran agama yang mulia ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pun memerhatikan kebersihan anak kecil. Suatu ketika, keluar ingus Usamah bin Zaid, lalu beliau hendak membersihkannya. ‘Aisyah berkisah,

أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُنَحِّيَ مُخَاطَ أُسَامَةَ. قَالَتْ عَائِشَةُ: دَعْنِي حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّذِي أَفْعَلُ. قَالَ: يَا عَائِشَةُ، أَحِبِّيهِ فَإِنِّي أُحِبُّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam hendak membersihkan ingus dari hidung Usamah.” ‘Aisyah pun berkata, “Biarkan saya yang melakukannya.” Rasulullah bersabda, “Wahai ‘Aisyah, cintailah dia karena aku mencintainya.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi no. 3818)

Tidak hanya memerhatikan kebersihan badan, beliau juga sangat memerhatikan kebersihan dan kerapian pakaian anak-anak. Dalam hadits lain ‘Aisyah menceritakan,

عَثَرَ أُسَامَةُ بِعَتَبَةِ الْبَابِ فَشُجَّ فِي وَجْهِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمِيطِي عَنْهُ الْأَذَى. فَتَقَذَّرْتُهُ، فَجَعَلَ يَمُصُّ عَنْهُ الدَّمَ وَيَمُجُّهُ عَنْ وَجْهِهِ ثُمَّ قَالَ: لَوْ كَانَ أُسَامَةُ جَارِيَةً لَحَلَّيْتُهُ وَكَسَوْتُهُ حَتَّى أُنَفِّقَهُ

“Suatu ketika, Usamah terpeleset di ambang pintu sehingga wajahnya terluka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Bersihkan lukanya.’ Namun, aku merasa risi untuk melakukannya. Kemudian, beliau mengisap darah dari wajah Usamah lalu membuangnya (memuntahkannya). Setelah itu, beliau bersabda, ‘Seandainya Usamah adalah anak perempuan, sungguh aku akan mendandaninya dan memakaikan padanya pakaian sehingga hati para lelaki menyukainya (ingin menikahinya)’.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no. 1607)

Karena sikap beliau ini, Fathimah, putri beliau, juga melakukan hal yang sama terhadap putra-putranya. Abu Hurairah menyebutkan,

خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَائِفَةٍ مِنَ النَّهَارِ، لَا يُكَلِّمُنِي وَلَا أُكَلِّمُهُ حَتَّى جَاءَ سُوقَ بَنِي قَيْنُقَاعَ، ثُمَّ انْصَرَفَ حَتَّى أَتَى خِبَاءَ فَاطِمَةَ، فَقَالَ: أَثَمَّ لُكَعُ؟ أَثَمَّ لُكَعُ؟ يَعْنِي حَسَنًا. فَظَنَنَّا أَنَّهُ إِنَّمَا تَحْبِسُهُ أُمُّهُ لِأَنْ تُغَسِّلَهُ وَتُلْبِسَهُ سِخَابًا، فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ جَاءَ يَسْعَى حَتَّى اعْتَنَقَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ وَأَحْبِبْ مَنْ يُحِبُّهُ

“Aku pernah keluar bersama Nabi n pada sebagian siang. Beliau tidak mengajakku berbicara, demikian pula sebaliknya. Beliau tiba di pasar Bani Qainuqa’, lalu beranjak dan tiba di rumah Fathimah. Beliau bertanya, ‘Apakah di situ ada si Kecil? Apakah di situ ada si Kecil?’ Yang beliau maksud adalah Hasan. Kami pun menyangka bahwa ibunya menahannya sebentar untuk memandikannya dan memakaikan padanya kalung dari cengkih, misik, gaharu, dan campuran wewangian lainnya.

Tidak lama kemudian, ia keluar sambil berlari. Beliau pun memeluknya dan berkata, Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya.” (Muttafaqun ‘alaih, ini lafadz Muslim)

Oleh karena itu, wahai Pembaca sekalian, tidak sepantasnya orang tua membiarkan anak-anaknya berpenampilan kotor dan kumal. Sebab, ini adalah bentuk penyia-nyiaan terhadap mereka. Semestinya kita mencontoh suri teladan kita, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, dan senantiasa memerhatikan kebersihan, kerapian, dan kesehatan anak-anak kita.

Membersihkan air kencing bayi

Masih terkait dengan kebersihan anak, Islam juga mengatur cara membersihkan air kencing bayi. Sungguh, betapa sempurnanya agama ini. Tidak ada perkara yang dilalaikan untuk diatur dan dibimbing, sekecil apa pun perkara tersebut. Apalagi, masalah air kencing bayi sangat lekat dengan kehidupan ibu. Membersihkannya adalah aktivitas keseharian seorang ibu. Di sisi lain, air kencing bayi adalah salah satu najis yang harus dibersihkan. Oleh karenanya, Islam mengatur cara membersihkannya tanpa membebani ibu dengan langkah-langkah yang berat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memberikan bimbingan tentang pembersihan najis ini dalam banyak hadits. Di antaranya adalah hadits Abu Samh, beliau berkata,

كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَ: وَلِّنِي قَفَاكَ. قَالَ: فَأُوَلِّيهِ قَفَايَ، فَأَسْتُرُهُ بِهِ، فَأُتِيَ بِحَسَنٍ أَوْ حُسَيْنٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، فَبَالَ عَلَى صَدْرِهِ، فَجِئْتُ أَغْسِلُهُ، فَقَالَ: يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ، وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ

“Aku melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila hendak mandi, beliau bersabda, ‘Balikkan punggungmu.’ Aku pun membalikkan punggungku (membelakangi beliau) sehingga menutupi beliau dengan punggungku. Seusai beliau mandi, didatangkan kepada beliau Hasan atau Husain radhiyallahu ‘anhuma. Tiba-tiba ia kencing di dada beliau. Aku pun datang, hendak mencuci pakaian beliau. Namun, beliau bersabda, ‘Baju dicuci apabila terkena kencing anak perempuan, dan diperciki air apabila terkena kencing anak laki-laki’.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 402)

Dari hadits di atas kita ketahui bahwa beliau membedakan cara menyucikan pakaian yang terkena kencing bayi perempuan dan kencing bayi laki-laki. Apabila terkena kencing bayi laki-laki, baju cukup diperciki, yaitu digenangi air sehingga mencakupi kencing yang mengenai pakaian. Namun, air tidak sampai menetes. Adapun apabila terkena kencing bayi perempuan, baju harus dicuci.

Bimbingan beliau untuk membersihkan baju yang terkena air kencing bayi ini juga menunjukkan bahwa air kencing bayi hukumnya najis. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita bermudah-mudah dalam masalah tempat, pakaian, atau badan yang terkena kencing tersebut. Hanya saja, kencing bayi laki-laki adalah najis yang ringan sehingga pembersihannya berbeda dengan kencing bayi perempuan.

Perlu kita perhatikan pula bahwa cara pembersihan ini berlaku selama bayi hanya mengonsumsi ASI sebagai makanan utamanya. Hal ini kita dapati dalam hadits Ummu Qais bintu Mihshan berikut.

أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجْرِهِ فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ

Ummu Qais datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sambil membawa bayi laki-lakinya yang belum makan makanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mendudukkan bayi tersebut di pangkuan beliau, lalu si bayi kencing di pakaian beliau. Beliau pun meminta air kemudian memerciki pakaian beliau dan tidak mencucinya. (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan makanan (dalam hadits tersebut) adalah makanan selain ASI, kurma yang digunakan untuk mentahnik, madu yang digunakan untuk pengobatan, dan yang semisalnya. Jadi, yang dimaksudkan di sini adalah si bayi belum diberi makanan selain ASI.

Oleh karena itu, apabila bayi laki-laki telah mendapat asupan makanan selain ASI, baju yang terkena kencingnya pun tidak lagi cukup diperciki air. Namun, baju tersebut harus dicuci sebagaimana apabila terkena air kencing yang lain.

Demikianlah, Pembaca sekalian, bimbingan Islam dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan suci dari najis. Semestinya kita senantiasa memerhatikan dan melaksanakannya dalam rangka ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, disertai keyakinan bahwa semua ini akan membawa kebaikan bagi kita dan si kecil di dunia dan di akhirat. Allahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + 15 =