Menyibak Kedustaan Si Munafik

figur-mulia-14Al-Ustadzah Hikmah

Menyibak Kedustaan Si Munafik

Silsilah Kisah Berita Bohong Atas Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

Pembaca setia Qonitah, ini sebuah kisah ironis yang sangat menyayat hati!

Pernahkah Anda mendengar nama ‘Abdullah bin Ubai bin Salul? Orang ini hidup pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam masih hidup, pada saat kejayaan Islam mulai mencuat.

Apakah Anda mengira bahwa dia adalah salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam? Bukan, Ukhti…. Justru dia adalah gembong munafikin yang telah dijanjikan oleh Rabbnya bahwa dia kelak mendapat azab yang besar di akhirat.

Setelah Perang al-Muraisi’, si munafik jahat ini—dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang penuh hikmah—berhasil menyulut fitnah keji di tengah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Sekejap, bibir-bibir munafikin menyunggingkan senyum. Ya, sekejap saja!

Mulut-mulut mereka yang kejam dengan teganya melontarkan tuduhan zina kepada dua sahabat Nabi yang mulia, yaitu Ibunda Kaum Mukminin, Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma, dan Shafwan bin al-Mu’aththal radhiyallahu ‘anhu.

Bayangkan…. Hati siapa yang tidak ‘kan pilu jika mendengar tuduhan keji itu dilontarkan kepadanya?

Ulah jahat si munafik hina ini berhasil lolos, menyelinap ke tengah rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Badai nyaris menghantam. Kabut kelam sejenak mewarnai hubungan bermasyarakat generasi terbaik umat ini g. Begitu hebatnya arus propaganda dusta ini, hingga sangat disayangkan, tidak sedikit dari mereka yang ikut hanyut. Namun, Allah Yang Mahakuasa lagi Maha Penyayang tidak membiarkan makar munafikin itu berkelanjutan.

Dari atas langit ketujuh Allah menurunkan ayat-ayat-Nya yang bisa kita baca dalam surat an-Nur ayat 11—20.

Tersingkaplah makar dusta itu ….

Terhiburlah hati sang ibu ….

“Janganlah kalian mengira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian. Justru hal itu baik bagi kalian.” Demikianlah Allah menghibur.

Tiap-tiap orang dari mereka akan mendapatkan balasan atas dosa yang diperbuatnya. Pemikul bagian terbesar dosa itu adalah ‘Abdullah bin Ubai bin Salul. Dia mendapat azab yang besar.

Marilah kita ikuti kisah selengkapnya. Selamat membaca.

Ummul Mukminin Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, berkisah tentang berita dusta yang mengoyak kehormatan beliau, lalu Allah menurunkan ayat-ayat sebagai bukti kesucian beliau dari tuduhan dusta itu. Berikut kisah beliau.

1. Jatuh undian menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam

Merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa ketika hendak bepergian, beliau mengadakan pengundian di antara istri-istri beliau. Siapa saja di antara mereka yang keluar namanya, dialah yang menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam selama perjalanan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pun mengadakan pengundian di antara kami (istri-istri beliau) untuk menemani beliau dalam sebuah peperangan.[1] Pada pengundian tersebut keluarlah namaku. Aku pun ikut melakukan perjalanan, menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam peperangan yang terjadi setelah diturunkannya ayat hijab tersebut.[2]

2. Pascaperang al-Muraisi’.

Sepanjang perjalanan, aku diangkut dalam sebuah sekedup. Kami pun berangkat.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam selesai dari peperangan tersebut, beliau mengajak kami kembali ke Madinah. Pada suatu malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengumumkan agar rombongan pasukan singgah dan beristirahat di suatu tempat.

Tatkala rombongan sedang beristirahat, aku keluar dari sekedupku lalu berjalan menjauh dari rombongan karena ada sebuah keperluan.

3. Kehilangan kalung.

Setelah menyelesaikan keperluanku, aku kembali ke tungganganku. Kuraba dadaku. Ternyata kalungku, yang terbuat dari manik-manik dari Dzafar[3], telah putus. Aku pun berbalik untuk mencari kalung tersebut sehingga waktuku habis hanya untuk mencarinya.

4. Tertinggal oleh rombongan.

Kemudian, datanglah rombongan orang yang mempersiapkan tunggangan untukku. Mereka mengangkat sekedupku dan meletakkannya di atas unta yang tadinya kutunggangi. Mereka mengira bahwa aku berada di dalamnya.

Para wanita pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wassalammemiliki tubuh yang ringan karena tidak berdaging banyak. Mereka mengonsumsi makanan sedikit saja.

Ketika orang-orang yang mengangkat sekedupku itu mengangkat dan memikulnya, mereka tidak merasa heran dengan ringannya sekedupku. Sebab, pada saat itu aku hanyalah bocah yang masih sangat ringan.

Setelah itu, mereka mempersiapkan unta-unta tunggangan dan berangkat.

Akhirnya, aku menemukan kalungku setelah rombongan pasukan itu berlalu. Aku kembali ke persinggahan, tetapi tidak ada seorang pun di sana. Aku pun tetap duduk di sana. Menurut perkiraanku, mereka pasti akan kembali ke tempat itu ketika tidak mendapatkan diriku di dalam sekedup.

5. Ditolong oleh Shafwan bin al-Mu’aththal radhiyallahu ‘anhu.

Tatkala aku sedang duduk, rasa kantuk yang tak terbendung menjadikanku tertidur.

Seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang bernama Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sulami—kemudian bernisbah adz-Dzakwani—berada di belakang rombongan pasukan tersebut.

Keesokannya, dia berjalan di sekitar persinggahanku, yang di situ aku menunggu kembalinya rombongan.

Tiba-tiba dia melihat bayangan hitam seseorang yang sedang tidur. Begitu melihatku, dengan serta-merta dia dapat mengenaliku karena dahulu pernah melihatku sebelum turunnya ayat hijab.

Aku terbangun karena mendengarnya membaca istirja’[4] ketika mengenaliku. Dengan segera kututup wajahku dengan jilbabku. Demi Allah, kami sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun. Aku tidak mendengar sepatah kata pun darinya, kecuali ucapan istirja’nya.

Shafwan bin al-Mu’aththal radhiyallahu ‘anhu mendekatkan untanya, lalu menderumkannya. Diinjaknya kaki depan unta itu. Aku menghampiri unta tersebut kemudian menungganginya.

Shafwan radhiyallahu ‘anhu pun menuntun unta tersebut hingga kami dapat menyusul rombongan pasukan yang sedang singgah di sebuah tempat bernama Nahruzh Zhahirah (نَحْرُ الظَّهِيرَةِ).

5. Meletus fitnah.

Setibanya kami di Nahruzh Zhahirah, orang-orang yang melihat kedatangan kami mulai berkomentar dengan versinya masing-masing. Binasalah di antara mereka orang yang telah ditakdirkan binasa. Musuh Allah yang paling jahat, gembong munafikin penyulut berita bohong itu, adalah ‘Abdullah bin Ubai bin Salul.

7. Beberapa sahabat yang ikut terjatuh.

‘Urwah bin az-Zubair, salah seorang perawi (yang meriwayatkan hadits di atas dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha), berkata, “Saya mendapatkan cerita bahwa berita bohong itu sengaja disebarkan. Rekan-rekan ‘Abdullah bin Ubai bin Salul berkerumun di sekelilingnya, mendengarkan dan menelan apa pun yang keluar dari mulutnya, serta menyebarluaskan desas-desus itu.”

‘Urwah bin az-Zubair juga berkata, “Orang-orang yang getol menyebarkan berita bohong itu tidak ada yang disebut/diketahui namanya, kecuali Hassan bin Tsabit, Misthah bin Utsatsah, dan Hamnah bintu Jahsy, serta beberapa orang lain yang tidak saya ketahui siapa saja mereka. Hanya saja, mereka adalah عُصْبَةٌ (sekelompok orang yang berjumlah antara 3 sampai dengan 10 orang[5]), sebagaimana telah difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala (dalam an-Nur: 11[6]). Namun, penyulut isu bohong yang sebenarnya adalah gembong munafikin, yaitu ‘Abdullah bin Ubai bin Salul.”

8. Sebulan sakit tanpa sentuhan lembut suami tercinta.

Setelah kami tiba di Madinah, aku jatuh sakit selama sebulan. Berita bohong sedang ramai dibicarakan oleh khalayak. Namun, sedikit pun aku tidak mengetahui masalah berita bohong ini. Hanya saja, ada satu hal yang mengusikku: aku tidak mendapatkan sentuhan kelembutan dari suami tercinta, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, yang biasa kudapatkan ketika aku sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam hanya masuk menemuiku, mengucapkan salam, lantas bertanya, “Bagaimana kabarmu?” Setelah itu, beliau berlalu. Itulah yang membuatku heran. Aku sama sekali tidak merasakan datangnya berita dusta yang menimpaku.

9. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berupaya mencari solusi.

Berita bohong telah tersiar luas di tengah-tengah muslimin (para sahabat g), padahal aku belum tahu apa-apa.

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berdiri di atas mimbar. Beliau berkhotbah tentang masalah yang berkenaan denganku ini. Beliau ingin mencari pembelaan para sahabat beliau g dari kejahatan ‘Abdullah bin Ubai bin Salul yang kali ini berani membuat fitnah sebesar itu.

Beliau membuka khotbah dengan membaca syahadat, memuji Allah, dan mengulang pujian untuk-Nya dengan pujian-pujian yang Dia sajalah pemiliknya. Kemudian, beliau bersabda,

Amma ba’du (adapun setelah itu), wahai sekalian muslimin, siapakah di antara kalian yang bisa menolongku terkait dengan seorang lelaki yang gangguannya telah mengenai istriku? Demi Allah, aku tidak mengetahui kondisi istriku kecuali kebaikan (dia adalah wanita yang baik). Sampai-sampai mereka juga telah menuduh lelaki yang aku tidak mengetahui kondisinya kecuali kebaikan (yaitu Shafwan bin al-Muaththal radhiyallahu ‘anhu). Dia tidak masuk ke rumahku (kepada keluargaku) kecuali bersamaku, dan aku tidak melakukan safar (bepergian) kecuali dia pun ikut pergi bersamaku.”

Sa’d bin Mu’adz al-Anshari dari Bani ‘Abdil Asyhal radhiyallahu ‘anhu pun berdiri dan berkata, “Saya akan memberi pembelaan dan pertolongan untuk Anda dari kejahatan ‘Abdullah bin Ubai bin Salul, wahai Rasulullah! Jika dia dari suku Aus, niscaya kami penggal lehernya! Jika dia termasuk dari saudara-saudara kami dari Khazraj, silakan Anda memberi perintah kepada kami, niscaya kami tunaikan perintah Anda.”

Dalam riwayat al-Imam al-Bukhari no. 4757 disebutkan dengan lafadz, “Berdirilah Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, berilah saya izin untuk memenggal leher mereka!’.”

Setelah itu, berdirilah Sa’d bin ‘Ubadah, pemimpin suku Khazraj. Sebenarnya, dia lelaki yang baik. Hanya saja, rasa kesukuan telah menguasai dirinya. Sa’d bin ‘Ubadah menukas ucapan Sa’d bin Mu’adz, “Dusta! Demi Allah, kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Seandainya mereka dari kalangan Aus, pasti kamu tidak suka jika leher mereka dipenggal.”

Berdirilah Usaid bin Hudhair, anak paman dari pihak ayah Sa’d bin Mu’adz. Usaid bin Hudhair menimpali Sa’d bin ‘Ubadah, “Kamu yang dusta! Demi Allah, kami benar-benar akan membunuhnya. Sesungguhnya kamu adalah orang munafik (melakukan perbuatan seperti perbuatan orang munafik)! Kamu membela orang-orang munafik!”

Demikianlah, kedua suku ini, Aus dan Khazraj, bertikai dan berdebat. Mereka hampir bunuh-membunuh, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam masih berdiri di atas mimbar.

Rasulullah berusaha menenangkan mereka sehingga mereka terdiam, dan beliau pun ikut diam.

Berita bohong yang memuat tuduhan zina atas Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha semakin memanas. Sementara itu, yang dituduh sendiri sama sekali belum mengetahui informasi di luar sana.

Keresahan yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membawa beliau untuk memanggil dua orang sahabat dekat beliau, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma. Beliau meminta pertimbangan kepada keduanya untuk menceraikan istri tercinta, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Berikut kelanjutan cerita yang dikisahkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memanggil ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma ketika wahyu tidak kunjung turun. Beliau bertanya kepada kedua orang sahabat tersebut dan meminta pendapat mereka untuk menceraikan sang istri.

Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma memberikan isyarat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa dia yakin akan terbebasnya ‘Aisyah dari tuduhan dusta. Usamah juga menyebutkan bahwa dia tahu besarnya kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada istri beliau. Katanya pula, “Istri Anda adalah keluarga Anda. Kami tidak mengetahui kecuali kebaikan.”

Adapun ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan membuat Anda merasa sempit. Wanita selain ‘Aisyah itu banyak. Tanyailah budak wanita itu (yakni Barirah, maula ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bekas budak yang dimerdekakan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, –pen.), pasti dia membenarkan Anda.”

11. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya kepada Barirah radhiyallahu ‘anha.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memanggil Barirah dan bersabda, “Hai Barirah, apakah engkau melihat sesuatu yang ganjil terkait dengan diri ‘Aisyah?”

Barirah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Demi Dzat yang mengutus Anda dengan membawa kebenaran, saya tidak mengetahui adanya satu aib/kekurangan pun pada dirinya. Tidak ada satu hal pun yang saya pandang remeh pada ‘Aisyah. Hanya saja, dia adalah bocah yang masih sangat belia. Dia tidur di samping adonan roti keluarganya, lalu datanglah seekor kambing menyambar adonan rotinya itu.”

Ada sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam yang menggertak Barirah, “Benarkan ucapan Rasulullah![7]” Sampai-sampai mereka membeberkan berita dusta itu di hadapan Barirah sambil menggertaknya dengan kasar.

Namun, dengan serta-merta Barirah mengingkarinya seraya bertasbih, “Subhanallah, Mahasuci Allah! Demi Allah, aku tidak mengetahui keadaannya kecuali sebagaimana seorang tukang perhiasan mengetahui kemurnian emas merah.”

12. Shafwan bin al-Mu’aththal radhiyallahu ‘anhu mengingkari tuduhan.

Tuduhan dusta itu pun telah sampailah ke telinga Shafwan bin al-Mu’aththal radhiyallahu ‘anhu. Beliau pun mengingkarinya dengan tegas seraya berkata, “Subhanallah, Mahasuci Allah! Demi Allah, aku tidak pernah menyingkap pakaian seorang wanita pun.”

“Shafwan ini kemudian terbunuh sebagai syahid di jalan Allah,” kata ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Insya Allah bersambung.

[1] Yaitu Perang al-Muraisi’.

[2] Ayat hijab adalah ayat ke-53 dari surat al-Ahzab. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi, kecuali jika kalian diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya). Akan tetapi, jika kalian dipanggil, masuklah, dan apabila kalian selesai makan, keluarlah tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepada kalian (untuk menyuruh kalian keluar), dan Allah tidak malu untuk menerangkan yang benar. Apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Dan tidak boleh kalian menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh pula menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sungguh yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”

[3]Dzafar adalah sebuah desa di Yaman. (Syarh Shahih Muslim, syarah hadits no. 2770)

[4]Istirja’ adalah bacaan إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali).

[5]Kata عُصْبَةٌ terkadang dimaknakan dengan “sekelompok orang tanpa batas bilangan”. Lihat arti kata عُصْبَةٌ dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar, syarah hadits no. 4750.

[6] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ

“Sesungguhnya orang yang membawa berita bohong itu adalah sekelompok orang (yang berjumlah antara 10—40 orang) dari kalian juga.” (an-Nur: 11)

[7] Maksudnya, mereka menyuruh agar Barirah radhiyallahu ‘anha mengakui bahwa memang pada diri ‘Aisyah ada keanehan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 2 =