Menyikapi Kejahatan Penguasa

titian-sunnah-14Al-Ustadz Abu Hafs Umar

Dewasa ini marak berbagai aksi demo masyarakat, buruh, dan mahasiswa dalam menyikapi “ketidakberesan” tindakan pemerintah. Berbagai isu diangkat: kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kasus korupsi oknum pejabat, kasus eksekusi tanah, tuntutan kenaikan upah minimum regional (UMR), dan sebagainya. Ada yang berdemo meneriakkan yel-yel berbau hasutan. Tidak jarang aksi demo berujung dengan bentrokan hingga jatuh korban.

Ada demonstran yang cenderung merugikan kepentingan publik, seperti menutup jalan-jalan protokol sehingga lalu lintas macet total dan banyak warga dirugikan. Bahkan, ada yang nekat menzalimi diri, seperti melakukan aksi mogok makan. Masih banyak aksi protes lainnya yang diekspos oleh media massa. Ingar-bingar aksi protes menjadi sajian hangat di media massa.

Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah, aksi-aksi tersebut membuat hati miris. Ironisnya, aksi tersebut dianggap oleh sebagian kelompok Islam sebagai jihad dan amar ma’ruf nahi mungkar melawan kezaliman penguasa. Bagaimana sebenarnya bimbingan Islam dalam menyikapi semua itu?

Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah….

Sesungguhnya Nabi telah mengajarkan Islam kepada umat ini sebagai ajaran yang penuh kedamaian dan ketenteraman. Allah berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

 

Tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi segenap alam.” (al-Anbiya’: 107)

Berbagai aksi demo tersebut cenderung menimbulkan kekacauan dan kerusakan. Tidak jarang dalam demo tersebut terjadi perusakan fasilitas umum ataupun barang-barang milik warga yang tidak bersalah. Sementara itu, Allah tidak mencintai segala bentuk kerusakan di muka bumi.

وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ٢٠٥

“Dan Allah tidak mencintai kerusakan.” (al-Baqarah: 205)

Mari kita pelajari bimbingan Islam menghadapi kejahatan penguasa, niscaya kita dapatkan solusi terbaik dalam menyikapi berbagai fenomena yang kita saksikan di masyarakat kita.

 

Keadaan Penguasa Adalah Cerminan Keadaan Rakyat

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin v berkata,
“Akan tetapi, wajib kita ketahui bahwa bagaimanapun keadaan masyarakat, seperti itulah penguasa yang dikuasakan kepada mereka. Jika jelek hubungan masyarakat dengan Allah, jelek pula penguasa yang dikuasakan oleh Allah. ‘Dan demikianlah Kami kuasakan sebagian orang yang zalim atas sebagian yang lain disebabkan apa yang telah mereka usahakan.’ Apabila rakyat saleh, Allah akan memudahkan untuk mereka penguasa yang saleh pula, dan sebaliknya.” (Syarh Riyadhish Shalihin 1/56)

Allah menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa kezaliman penguasa itu akibat kezaliman rakyat. Allah berfirman,

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعۡضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعۡضَۢا بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ١٢٩

“Dan demikianlah Kami kuasakan sebagian orang yang zalim terhadap sebagian yang lain sebagai akibat apa yang telah mereka usahakan.” (al-An’am: 129)

Dalam ayat di atas, jelas sekali disebutkan alasan Allah menguasakan penguasa zalim kepada suatu negeri, yaitu kezaliman rakyat. Kalau kita mau jujur, kezaliman penguasa kita memang disebabkan kezaliman masyarakat.

Mari kita lihat realitas kebanyakan masyarakat kita. Tidak sedikit di antara mereka yang bertindak korupsi walaupun dalam skala kecil, korupsi ala grassroot. Banyak contohnya. Ada sejumlah warga yang mendapatkan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), padahal mereka tidak berhak menerimanya. Oleh karenanya, timbullah kekisruhan di beberapa tempat kala pembagian BLSM. Ada juga sekelompok masyarakat yang mengajukan proposal, meminta bantuan kepada pemerintah, tetapi data yang dipakai ternyata fiktif. Mereka melakukannya demi mengantongi dana bantuan secara ilegal. Bahkan, siswa-siswa sekolah pun ada yang mengorup uang SPP-nya. Banyak pula pedagang yang mengurangi timbangan dan takarannya. Bukankah itu semua gambaran korupsi “akar rumput”? Oleh karena itu, wajarlah tatkala Allah menguasakan (oknum) pemerintah yang korup kepada masyarakat.

Ada juga warga kita yang zalim dengan berbuat dosa dan maksiat lainnya. Ada yang berbuat kesyirikan, ada pula yang meninggalkan shalat, tidak berpuasa Ramadhan, dan meninggalkan kewajiban lainnya. Ada yang masih berjudi, berzina, makan riba, dan melakukan tindak kezaliman lainnya. Karena berbagai tindak kemaksiatan dan kezaliman yang dilakukan individu masyarakat inilah Allah menjadikan penguasa zalim yang memimpin mereka. Tidak mungkin Allah menguasakan kepada mereka penguasa yang adil dan amanah semisal Abu Bakr, ‘Umar bin al-Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan, atau ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.

Oleh karena itu, hendaknya kita semua bertobat dari dosa-dosa dan kezaliman kita. Jangan menyalahkan dan menyudutkan penguasa secara mutlak, apalagi berbuat anarkis setiap kali menghadapi kezaliman penguasa. Bandingkan keadaan kita dengan keadaan para sahabat, sebaik-baik umat yang mengamalkan Islam. Mereka sangat jauh dari berbagai tindak kezaliman dan kemaksiatan. Jadi, wajar saja kalau penguasa yang memimpin mereka adalah sebaik-baik pemimpin, yakni Rasulullah `.

 

Kejahatan Penguasa Adalah Azab Allah

Dalam sejarah Islam tercatat bahwa pada abad pertama Hijriah, ada seorang gubernur Baghdad yang kejam dan jahat, yaitu al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Kekejaman dan kejahatannya sangat luar biasa, sampai-sampai para ulama berbeda pendapat apakah al-Hajjaj telah kafir atau tidak.

Banyak orang tak berdosa yang dia bunuh dengan kejam. Bahkan, sahabat yang mulia, ‘Abdullah bin az-Zubair c, juga menjadi korban pembantaiannya. Seorang ulama besar dari kalangan tabi’in, Sa’id bin Jubair v, juga dia bunuh. Sebagai gambaran kekejaman al-Hajjaj, Hisyam bin Hassan v pernah mengatakan, “Mereka menghitung orang yang telah dibunuh oleh al-Hajjaj dengan cara dikurung dan tidak diberi makan sampai mati, jumlahnya sekitar 120 ribu orang.” (HR. at-Tirmidzi)

Para ulama menilai bahwa kejahatan al-Hajjaj merupakan akibat kezaliman rakyatnya, sehingga Allah pun mengazab mereka dengannya. Hal ini sebagaimana ucapan al-Imam al-Hasan al-Bashri v, “Kejahatan al-Hajjaj adalah azab dari Allah. Azab Allah itu tidak dihadapi dengan tangan-tangan kalian (memberontak kepada pemerintah). Akan tetapi, kalian mesti menundukkan dan merendahkan diri kepada Allah. Allah berfirman,

وَلَقَدۡ أَخَذۡنَٰهُم بِٱلۡعَذَابِ فَمَا ٱسۡتَكَانُواْ لِرَبِّهِمۡ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ٧٦

‘Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.’ (al-Muminun: 76)

Dalam nasihat al-Hasan al-Bashri ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik:

  1. Kejahatan penguasa adalah azab Allah sebagai akibat kezaliman rakyat.
  2. Kezaliman penguasa jangan dihadapi dengan demonstrasi atau pemberontakan, tetapi dicegah dengan banyak bertobat dan kembali ke jalan-Nya.

Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah….

Perkataan al-Imam al-Hasan al-Bashri di atas adalah nasihat emas yang mesti diterapkan masyarakat kita. Mari, kita banyak-banyak bertobat dan memperbaiki hubungan dengan Allah, demi mencegah berbagai kejelekan penguasa.

 

Bimbingan Rasulullah dalam Menghadapi Kezaliman Penguasa

Demikian jahatnya al-Hajjaj, tetapi bagaimanakah sikap para sahabat yang masih hidup ketika itu?

Zubair bin ‘Adi v pernah mengatakan, “Kami mengeluh kepada Anas bin Malik z tentang apa yang kami dapati dari al-Hajjaj, maka beliau berkata,

اِصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوا رَبَّكُمْ، ‎‎سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ

‘Bersabarlah kalian. Sesungguhnya tidaklah datang suatu zaman kepada kalian, kecuali zaman yang sesudahnya lebih jelek daripada zaman tersebut, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian. Aku mendengar hal itu dari Nabi kalian’.(HR. al-Bukhari)

Lihatlah jawaban sahabat yang mulia, Anas bin Malik, tatkala dikeluhkan kepada beliau berbagai kejahatan al-Hajjaj. Anas tidak lantas terpancing emosinya, kemudian menyuruh manusia untuk berdemo menentang kezaliman al-Hajjaj. Tidak pula Anas menyuruh mereka mengangkat senjata, memberontak kepada pemerintahan al-Hajjaj. Akan tetapi, yang beliau sampaikan adalah bimbingan yang menyejukkan hati, yang bersumber dari Nabi `. Beliau mengatakan, “Bersabarlah kalian. Sesungguhnya tidaklah datang suatu zaman kepada kalian, kecuali zaman yang sesudahnya lebih jelek daripada zaman tersebut, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian. Aku mendengar hal itu dari Nabi kalian.”

Bagaimanapun keadaan al-Hajjaj, dia adalah penguasa yang mesti ditunaikan hak-haknya. Oleh karena itu, para sahabat yang masih hidup dan kebanyakan ulama pada zaman itu tidak memberontak kepada al-Hajjaj. Akan tetapi, mereka tetap memerintahkan agar bersabar menghadapi kejahatan al-Hajjaj. Pemberontakan hanya akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Bahkan, dua sahabat yang mulia, ‘Abdullah bin ‘Umar dan Anas bin Malik g, masih melakukan shalat berjamaah di belakang al-Hajjaj, karena demikianlah bimbingan Islam dalam bersikap terhadap para penguasa.

Demikian pula tatkala ada penguasa yang tidak menunaikan hak rakyat, bahkan melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Nabi ` sudah mengabarkan akan datangnya penguasa model demikian, yang mementingkan diri pribadi dan tidak menunaikan hak rakyat. Akan tetapi, beliau membimbing kita untuk bersabar juga.

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَ تَسْأَلُونَ اللهَ الَّذِي لَكُمْ

Dari Ibnu Mas’ud z, Rasulullah ` bersabda, “Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi atsarah (perbuatan penguasa yang mengutamakan kepentingan pribadi dan tidak menunaikan hak rakyatnya) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Jawab beliau, “Hendaknya kalian menunaikan hak penguasa atas kalian, dan kalian meminta hak kalian kepada Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

Asy-Syaikh Ibnu Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Atsarah adalah mendahulukan kepentingan diri pribadi daripada orang yang berhak. Maksudnya, akan berkuasa atas kaum muslimin penguasa yang mendahulukan kepentingan pribadinya dalam harta kaum muslimin, membelanjakannya semau mereka, dan menghalangi kaum muslimin dari hak mereka (ini adalah makna korupsi, –pent.).

Akan tetapi, ketika para sahabat bertanya, ‘Apa yang Anda perintahkan kepada kami?’, beliau menjawab, ‘Hendaknya kalian menunaikan hak penguasa atas kalian.’ Maksudnya, janganlah perbuatan mereka mendahulukan kepentingan pribadi itu menghalangi kalian untuk mendengar, taat, tidak memberontak, dan tidak membuat kekacauan. Sebaliknya, bersabarlah, dengar, dan taatlah kalian. Jangan merebut kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Mintalah kepada Allah hak kalian, yakni mintalah kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada mereka untuk memberikan hak kalian.” (Syarh Riyadhush Shalihin 1/55)

 

Yang Bersabar atas Kezaliman Penguasa akan Minum Air Telaga Nabi

Selanjutnya, Nabi menyebutkan keutamaan orang yang bersabar menghadapi kejahatan penguasa, bahwa mereka akan minum air telaga Nabi pada hari kiamat nanti. Dalam hadits Usaid bin Hudhair z, Nabi ` bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَلْقَونَ بَعْدِي أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى‎تَلْقَونِي عَلَى الْحَوْضِ

“Sesungguhnya kalian akan mendapati penguasa-penguasa yang mementingkan diri pribadi dan tidak menunaikan hak rakyat, maka bersabarlah sampai kalian bertemu denganku di al-Haudh (telaga).” (Muttafaq ‘alaih)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin v berkata, “Maksudnya, sesungguhnya jika kalian bersabar, balasan Allah atas kesabaran kalian adalah Allah akan memberi minum kalian dari telaga Nabi `.” (Syarh Riyadhush Shalihin 1/55)

 

Menasihati Penguasa dengan Hikmah

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin v berkata, “Di antara hak penguasa atas rakyat adalah hendaknya mereka (rakyat) menasihati dan membimbing penguasa. Hendaknya pula rakyat tidak menjadikan kesalahan-kesalahan penguasa—ketika penguasa bersalah—sebagai sarana untuk mencelanya dan menyebarkan aib-aibnya kepada manusia. Sebab, hal itu justru akan membuat manusia lari darinya, membencinya, membenci apa yang dia lakukan walaupun perbuatannya itu benar, dan menyebabkan rakyat tidak mau mendengar dan taat kepada penguasa. Sesungguhnya di antara kewajiban pemberi nasihat, khususnya yang menasihati penguasa, hendaknya mereka menggunakan hikmah dalam nasihatnya dan mengajak ke jalan Rabbnya dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 65)

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Bukan termasuk manhaj salaf membeberkan aib-aib penguasa dan menyebutkannya di mimbar-mimbar, karena hal itu justru akan menimbulkan kekacauan yang memudaratkan dan tidak mengandung manfaat. Akan tetapi, metode yang diikuti para salaf adalah menasihati penguasa di antara mereka (pemberi nasihat) dan penguasa saja, menulis surat kepadanya, atau menghubungi ulama yang bisa menghubungi penguasa tersebut dan mengarahkannya kepada kebaikan.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 65)

Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah….

Demikianlah bimbingan Islam dalam menghadapi kejelekan penguasa. Memang kita tidak boleh ridha terhadap berbagai tindak kejahatan penguasa. Akan tetapi, kita harus menjalankan bimbingan Rasulullah ` dalam menghadapi itu semua. Bimbingan beliau adalah solusi segala problem kita. Semoga Allah melimpahkan taufik kepada kita semua untuk bisa menjalankan bimbingan Nabi ` dalam semua sisi kehidupan kita.

Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × four =