Merekalah Panutan Kita dalam Beragama

titian-sunnah-12Al-Ustadz Abu Hafs Umar


Beragam paham dalam ber-Islam yang diamalkan manusia sekarang ini membuat bingung kaum muslimin. Telah banyak jamaah, harakah, organisasi Islam, majelis taklim, ataupun majelis zikir dengan berbagai model dan warnanya. Yang lebih membingungkan lagi, setiap kelompok mengaku berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Akan tetapi,  realitasnya, mereka tidak sama dalam mempraktikkan keduanya.

Ada kelompok yang menitikberatkan amalan jihad sehingga setiap hari mengangkat senjata, dan pembicaraannya selalu tentang perang. Ada kelompok yang menitikberatkan sisi dakwah sehingga melalaikan sisi akidah. Ada kelompok yang menitikberatkan sisi politik sehingga dalam setiap kajiannya membicarakan khilafah dan kekuasaan. Ada pula yang menitikberatkan masalah zikir sehingga kegiatannya cuma berzikir. Masih banyak kelompok lain dengan berbagai warna dan modelnya. Akhirnya, umat pun terkotak-kotak dalam berbagai model pemahaman dalam beragama. Lalu, pemahaman yang mana yang mesti kita amalkan?

Memahami Islam Harus dengan Pemahaman Sahabat

Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah, dalam memahami agama Islam, setiap muslim mesti meninggalkan segala atribut kelompok, organisasi, atau jamaahnya. Mari kita mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah ini dengan pengamalan generasi yang paling murni pemahaman Islamnya. Siapa mereka? Tidak lain adalah para sahabat Nabi.

Kita mesti memahami Islam dengan pemahaman para sahabat Nabi. Mengapa? Banyak sekali alasan untuk itu, baik alasan dalam al-Quran, as-Sunnah, perkataan para ulama salaf, maupun alasan secara logika. Berikut akan dipaparkan beberapa alasan keharusan beragama dengan pemahaman para sahabat Nabi.

1. Allah memuji para sahabat di banyak tempat dalam al-Qur’an

Tidak ada pujian yang lebih mulia daripada pujian Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an. Misalnya, dalam firman-Nya,

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya itu keras terhadap orang-orang kafir, tetapi saling berkasih sayang sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud, mereka mencari karunia dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (al-Fath: 29)

Al-Imam as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan keadaan Nabi dan para sahabatnya dari kalangan Muhajirin dan Anshar, bahwasanya mereka itu paling sempurna sifat-sifatnya dan paling agung keadaannya.

  • Mereka keras terhadap orang kafir dan bersungguh-sungguh dalam memusuhinya. Mereka melakukan hal itu dengan puncak kesungguhan. Orang kafir tidak melihat dari para sahabat selain sikap keras dan tegas, sehingga musuh-musuh pun menjadi hina dan luluh lantak, dan para sahabat pun mengalahkan mereka.
  • Berkasih sayang dengan sesama mereka, yakni saling mencintai, saling merahmati, dan saling menyayangi, seperti satu tubuh. Mereka saling mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintai untuk dirinya. Inilah muamalah mereka terhadap makhluk.
  • Adapun muamalah mereka terhadap sang Pencipta, Anda lihat mereka banyak rukuk dan banyak sujud. Maksudnya, Allah menyifatkan mereka dengan banyak shalat, yang rukun paling agungnya adalah rukuk dan sujud. Mereka mengharap dengan ibadah tersebut karunia Allah dan keridhaan-Nya. Inilah maksud mereka: meraih ridha Rabb mereka dan mendapat pahala-Nya.
  • Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Maksudnya, ibadah mereka sungguh berpengaruh pada wajah mereka karena begitu banyak dan bagusnya. Ketika batin-batin mereka bercahaya karena shalat, lahir-lahir mereka ikut bercahaya pula.”

Dalam ayat yang lain, Allah juga memuji para sahabat dengan pujian yang sangat istimewa,

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah: 100)

Lihatlah, Allah telah menyatakan keridhaan-Nya kepada kaum Muhajirin dan Anshar yang merupakan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Adapun generasi setelah para sahabat, Allah tidak menyatakan keridhaan kepada mereka, kecuali kalau mereka mengikuti para sahabat dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa mengikuti para sahabat adalah sebab keridhaan Allah. Dalam untaian pujian Allah subhanahu wa ta’ala terhadap para sahabat itu terkandung makna perintah untuk mengikuti mereka, agar kita mengamalkan Islam berdasarkan pemahaman mereka.

2. Para sahabat adalah kaum pilihan Allah.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata ketika menafsirkan firman-Nya,

 

قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَىٰٓۗ قَالَ : أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Katakanlah, ‘Segala puji hanya milik Allah, dan kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang dipilihNya’. (an-Naml: 59) Beliau berkata, “(Hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya) adalah sahabat-sahabat Muhammad `.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Mereka menjadi sahabat Nabi bukan secara kebetulan seperti yang disangka oleh sebagian orang. Akan tetapi, mereka adalah umat yang memang dipilih oleh Allah untuk mendampingi dan membela nabi terbaik. Tentunya Allah mengutus nabi terbaik dengan ditemani para pengikut yang terbaik pula, yakni para sahabat. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Mas’ud,

‏إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِيْنِهِ

“Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, maka Dia mendapati bahwa hati Muhammad ` adalah hati yang paling baik. Maka dari itu, Dia pun memilihnya untuk diri-Nya lalu mengutusnya dengan risalah-Nya. Kemudian, Dia melihat hati para hamba, setelah hati Muhammad, maka Dia mendapati bahwa hati para sahabat beliau adalah sebaik-baik hati hambaNya. Maka dari itu, Allah pun menjadikan mereka sebagai pembantu-pembantu NabiNya, mereka berperang membela agamaNya. (Atsar riwayat al-Imam Ahmad t)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga menyatakan, “Barang siapa di antara kalian yang mau mengambil panutan, hendaklah dia mengambil panutan dari generasi yang sudah meninggal, karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah (kesesatan). Mereka itulah para sahabat Rasulullah. Mereka adalah generasi yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling lurus petunjuknya, paling bagus keadaannya, dan paling sedikit sifat memberati dirinya. Mereka adalah kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, kenalilah hak mereka dan berpeganglah pada petunjuk mereka, karena sesungguhnya mereka itu berada di atas petunjuk yang lurus.” (Atsar riwayat Ibnu ‘Abdil Bar)

Atsar di atas adalah nasihat emas dari Ibnu Mas’ud, agar kita mengikuti petunjuk para sahabat Nabi dalam mengamalkan Islam. Selanjutnya, beliau radhiyallahu ‘anhu menerangkan alasannya:

  • Mereka adalah kaum yang paling aman dari fitnah/kesesatan karena meninggal dalam keadaan istiqamah di atas hidayah. Sejarah mereka harum dan bersih, tidak terkotori bid’ah dan kesesatan. Berbeda halnya dengan orang yang masih hidup, mungkin dia sekarang di atas petunjuk, tetapi bisa jadi menyimpang dan mati di atas penyimpangannya. Orang yang demikian tentu tidak pantas dijadikan panutan.
  • Mereka paling baik hatinya karena hati mereka adalah hati pilihan Allah.
  • Mereka paling dalam ilmunya, paling lurus petunjuknya, dan paling bagus keadaannya karena mengambil ilmu dari guru yang paling agung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Mereka paling tahu ilmu tafsir ayat-ayat al-Qur’an, kapan turunnya, sebab turunnya, nasikh dan mansukhnya. Mereka juga paling tahu hadits-hadits Rasulullah. Mereka paling tahu pula cara menerapkan tiap ayat atau hadits karena dibimbing langsung oleh Nabi `.
  •  Mereka paling sedikit sikap memberati diri.

 

3. Rasulullah juga menyatakan pujian kepada para sahabat dalam banyak hadits.

Di antaranya adalah hadits,

عَنْ‎ ‎أَبِي‎ ‎هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‎أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟‎ ‎قَالَ: أَنَا وَمَنْ مَعِيَ ثُمَّ الَّذِيْنَ عَلَى الْأَثَرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ عَلَى الْأَثَرِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berkata, “Nabi ` ditanya, ‘Siapa manusia yang terbaik?’ Beliau menjawab, ‘Aku dan orang yang bersamaku (para sahabat), kemudian mereka yang di atas atsar, kemudian mereka yang di atas atsar’.” (HR. al-Ajurri dalam asy-Syari’ah)

Dalam hadits Ibnu Mas’ud, beliau ` bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam hadits-hadits di atas, beliau menyifatkan para sahabat sebagai manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Tidak akan ada umat yang datang setelah mereka, yang lebih baik daripada mereka. Mengapa? Tidak lain karena mereka telah mengambil ilmu agama yang masih murni langsung dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Mereka mengamalkan agama yang masih murni, tidak mengandung penyimpangan dan kebid’ahan.

Pujian Rasulullah di atas bukan sekadar pujian, melainkan juga perintah untuk kita meneladani para sahabat dan mengamalkan Islam dengan pemahaman mereka yang masih bersih dari berbagai penyimpangan.

  • Mereka adalah orang yang paling tahu tentang tafsir ayat-ayat al-Qur’an, kapan diturunkan dan apa sebab turunnya. Mereka adalah orang yang menghafal hadits-hadits Rasulullah dan mengetahui cara menerapkannya, bahwa hadits ini untuk masalah demikian dan demikian. Semua ini tidak ada pada generasi setelah mereka.

Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata, “Adapun para sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang menyaksikan wahyu dan turunnya, serta mengetahui tafsir dan penjelasan al-Qur’an. Mereka adalah umat yang dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya, menolong beliau, menegakkan agama-Nya, dan memenangkan hak-Nya. Allah meridhai mereka sebagai sahabat dan menjadikan mereka sebagai panutan dan teladan kita. Mereka menghafal—dari beliau `—apa yang telah beliau sampaikan dari Allah kepada mereka.” (al-Jarh wa at-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim)

4. Allah subhanahu wa ta’ala mengancam orang-orang yang berpaling dari pemahaman para sahabat, bahwa mereka akan semakin disesatkan dan dimasukkan ke Jahannam.

Ibnu Abi Hatim mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan kita untuk berpegang teguh pada petunjuk mereka (sahabat), menapaki manhaj (metode) mereka, menempuh jalan mereka, dan meneladani mereka. Allah berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

‘Barang siapa mendurhakai Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti selain jalan kaum mukminin, Kami biarkan dia terhadap kesesatan yang telah dikuasainya, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Adalah Jahannam seburuk-buruk tempat kembali.’ (an-Nisa’: 115)

Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah, pada lafadz “dan mengikuti selain jalan kaum mukminin”, yang dimaksud kaum mukminin adalah para sahabat, seperti tafsir Ibnu Abi Hatim di atas. Maknanya, orang yang berpaling dari jalan para sahabat diancam akan dibiarkan oleh Allah dalam kesesatannya dan akan dimasukkan ke Jahannam. ‘Iyadzan billah (kita berlindung kepada Allah).

5. Para sahabat adalah generasi yang menghafalkan hadits-hadits dan menyampaikan ajaran Islam dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada generasi setelahnya.

Hal ini sebagaimana ucapan Ibnu Abi Hatim, “Mereka telah menghafal—dari beliau shallallahu ‘alaihi wassalam—apa yang telah beliau sampaikan dari Allah kepada mereka. Jadi, mereka adalah generasi yang melanjutkan dakwah Rasulullah setelah beliau wafat. Dari merekalah Islam ini tersebar ke penjuru dunia.

Kita mendapati Nabi menyemangati mereka untuk menyampaikan ajaran beliau dalam banyak hadits. Kita dapati beliau mengatakan kepada para sahabat untuk itu. Di antaranya, beliau mendoakan mereka dengan sabdanya, Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengarkan ucapanku, lalu menghafalkannya dan menjaganya sampai menyampaikannya kepada orang lain.

Beliau juga bersabda ketika berkhotbah, Hendaknya yang hadir ini menyampaikan kepada yang tidak hadir.

Beliau ` juga mengatakan, Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. Sampaikanlah kisah Bani Israil, tidak mengapa.

Setelah para sahabat radhiyallahu ‘anhum tersebar di berbagai negeri, mereka mengajarkan Islam seperti yang mereka pelajari dari Nabi. Akhirnya, Islam pun tersebar di berbagai negeri.” (al-Jarh wa at-Tadil karya Ibnu Abi Hatim, dengan sedikit perubahan)

Pembaca Qonitah yang dirahmati Allah, itulah sekelumit gambaran keutamaan para sahabat. Masih banyak keutamaan mereka yang tidak bisa dicantumkan dalam tulisan ini. Mereka itulah yang mesti menjadi acuan kita dalam mengamalkan agama ini. Kehidupan mereka adalah sebuah potret pengamalan Islam yang murni, yang tidak akan muncul umat sebaik mereka di dunia ini. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk bisa meniti jejak mereka, sehingga bisa bertemu dengan mereka di jannah-Nya.

Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × four =