Pengantar Redaksi Edisi 03

redaksiBerselancar di jejaring internet memang mengasyikkan. Internet seakan-akan meletakkan semua perkembangan dunia di genggaman tangan. Bagai pedang bermata dua, internet bisa digunakan untuk kebaikan dan kejelekan. Beragam manfaat yang ada memang tidak bisa dinafikan, meski banyak pula hal-hal yang menggelincirkan. Kita bisa membaca fatwa para ulama, mengunduh bacaan al-Qur’an, mendakwahkan kebenaran, dan melakukan berbagai kegiatan positif lainnya. Akan tetapi, di samping sekian banyak kebaikan yang bisa diraih, setumpuk keburukan pun ada di sana. Kemaksiatan, pemahaman menyimpang, hingga ajakan kepada kekafiran dan kesyirikan siap memangsa pengguna internet yang tidak waspada.

Terkhusus bagi muslimah, ada banyak aspek yang mesti diwaspadai ketika menjelajahi dunia maya. Yang utama, jangan sampai karena menjelajahi dunia maya, urusan dunia nyata menjadi tertunda. Muslimah memiliki sekian banyak kewajiban, baik terkait dengan ibadah maupun yang terkait dengan urusan rumah. Di samping itu, seorang muslimah juga hendaknya berhati-hati sehingga tidak menjadi objek kejahatan dunia maya. Sekian banyak berita kejahatan melalui internet kita dengar atau baca. Bisa jadi, bentuknya ‘hanya’ penipuan yang melenyapkan harta. Namun, adapula berita yang benar-benar membuat miris hati. Ada perempuan—biasanya ABG—yang tiba-tiba menghilang dan menyebabkan orang tua susah bukan kepalang. Usut punya usut, ternyata dia termakan rayuan lelaki yang dikenalnya di dunia maya. Kisah selanjutnya cukup menyedihkan untuk diceritakan.

Karena itu, sekali lagi, seorang muslimah harus berhati-hati dan pandai membawa diri, baik sebagai orang tua maupun sebagai pribadi. Filter berupa ketakwaan, ilmu, dan akhlak sangatlah diperlukan.

Pembaca, anak-anak adalah tabungan yang masih bisa bermanfaat setelah kita berpisah dengan dunia. Jagalah mereka seutuhnya. Jika kita sangat memelihara perkembangan fisiknya, perkembangan jiwa seharusnya lebih kita jaga. Kita tidak hanya ingin anak-anak menjadi bagus penampilannya. Lebih dari itu, keselamatan dan kesucian jiwa mereka hendaknya menjadi perhatian utama. Kita harus benar-benar menyadari, banyak pengaruh negatif yang memengaruhi anak-anak di masa ini. Di antara panah kerusakan yang menyasar anak kita berasal dari dunia maya.

Melepaskan anak-anak berinternet tanpa pengawasan bukanlah tindakan bijak. Butuh pengawasan dan kewaspadaan dari orang tua jika tidak ingin anaknya celaka atau rusak. Bisa jadi, kita sangka bahwa anak sudah beristirahat di kamarnya, tetapi dengan internet di tangan, pikirannya sedang berkelana hingga ujung dunia. Oleh karena itu, hendaknya orang tua tidak memberikan sarana yang menjerumuskan anak ke dalam jurang keburukan. Kasih sayang terhadap anak tidak harus diwujudkan dengan memberinya materi. Semua pemberian harus ditimbang dengan matang dan hati-hati. Jika tidak, anak saleh yang diharapkan hanya tinggal angan-angan.

Marilah kita menjadi orang tua yang baik dan bijak. Untuk itu, ilmu agama menjadi syarat mutlak. Meski demikian, ilmu agama tanpa pengamalan tidak bisa membuat orang tua menjadi teladan. Ingin anak kita menjadi seorang jujur? Mulailah dari diri kita. Mau anak kita meninggalkan dusta? Awali dari diri kita. Ajari anak dengan keteladanan. Yang lebih penting, senantiasa kita panjatkan doa kepada Allah agar memberi kita taufik dan bimbingan. Sebab, tanpa kehendak dan pertolongan-Nya, segala daya dan upaya manusia tidaklah bermakna.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 2 =