Pengantar Redaksi Edisi 13

redaksiAda Nilai Dakwah dalam Akhlak Kita

Seringkali penilaian baik tidaknya seseorang diukur dengan akhlak dan adabnya ketika bergaul dengan orang lain. Inilah yang terjadi pada masyarakat secara umum. Bahkan, sebagian orang—yang belum memeluk Islam, atau yang jahil terhadap hakikat agama Islam—akan melihat dan menilai agama Islam dari perilaku dan tindak-tanduk pemeluknya.

Semakin berilmu tentang agama, seseorang seharusnya semakin menunjukkan akhlak karimah dan perilaku yang terpuji. Jika tidak demikian, ilmu yang dia peroleh justru akan menghujat dirinya sendiri. Lebih dari itu, perilaku buruk dari orang yang dianggap berilmu tentang agama, justru akan merusak nama baik agama itu sendiri. Betapa banyak anggapan keliru tentang agama Islam yang mulia ini, yang sebabnya ialah perilaku sebagian pemeluknya—bahkan orang yang ditokohkan dalam agama—yang jauh dari tuntunan Islam.

Pembaca…

Bisa jadi, untuk berdakwah dengan menyampaikan ilmu agama di depan khalayak, kita belum mampu. Akan tetapi, pernahkah kita sadari, ketika mengamalkan beragam tuntunan syariat semampu kita, sejatinya kita juga sedang mendakwahkannya kepada orang lain? Seakan-akan, kita sedang menunjukkan kepada orang lain, inilah Islam. Ketika ada orang bertanya kepada kita tentang sebuah amalan yang kita kerjakan, lantas kita jelaskan kepada mereka; bukankah ini suatu bentuk dakwah? Atau paling tidak, orang lain jadi tahu tentang sebuah amalan yang sebelumnya dia anggap aneh atau bahkan tidak ada dalam Islam. Bukankah ini juga dakwah?

Demikian pula halnya dalam hal akhlak dan perilaku kita sehari-hari. Sudah semestinya akhlak dan perilaku kita menunjukkan kemuliaan dan keindahan agama Islam yang kita peluk. Mulai dari cara berbicara dengan lawan jenis, gaya dandanan ketika di luar rumah, sopan santun di jalan, muamalah dengan tetangga, hingga perilaku dalam rumah tangga, cara mendidik anak, hingga menjaga hubungan silaturahim dan berbagai aspek kehidupan; kita harus menyadari sepenuhnya bahwa dalam semua hal tersebut ada nilai dakwah.

Akan tetapi, di sisi lain, perilaku dan pergaulan yang baik tidak boleh menabrak rambu-rambu syariat. Batasan syariat tetap harus dijaga. Upaya menunjukkan akhlak dan perilaku yang terpuji tidak boleh menyeret kita melakukan hal-hal yang diharamkan, seperti khalwat, ikhtilath, nada bicara wanita yang mengundang godaan, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Apalagi sampai menjatuhkan kita dalam kegiatan yang beraroma kebid’ahan, terlebih lagi kesyirikan.

Oleh karena itu, ada satu hal penting yang perlu kita perhatikan ketika bergaul dengan orang lain. Keinginan kita menunjukkan perilaku yang baik seharusnya tidak menghalangi kita melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Prinsip amar ma’ruf nahi mungkar harus tetap ditegakkan. Hanya saja, kita perlu melakukannya dengan hikmah, memilih cara dan kesempatan yang tepat.

Jadi, kita perlu mengetahui (baca: belajar dan mengilmui), hal-hal apa saja yang dibolehkan dan yang dilarang oleh syariat. Akhirnya, kita pun harus kembali kepada sebuah kaidah agung yang dituliskan oleh al-Imam al-Bukhari sebagai sebuah judul bab dalam kitab Shahih-nya: al-‘ilmu qabla al-qauli wal ‘amal. Ya, berilmulah dahulu sebelum berucap dan berbuat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − 9 =