Pengantar Redaksi Edisi 16

redaksiKERJA SAMA DALAM HAL MENDIDIK ANAK

Mencari keturunan merupakan salah satu tujuan manusia berkeluarga. Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala menggariskan fitrah manusia. Semasa anak masih kecil, ia menjadi penghibur bagi orang tua. Ketika orang tua sudah lanjut usia, manfaat dan bakti anak sangat dibutuhkan oleh orang tua. Agar mendapatkan anak yang berbakti, tentu orang tua harus berusaha mendidik dan membimbingnya menjadi anak yang saleh dan salihah. Sebab, hanya anak yang seperti itulah yang bisa mewujudkan bakti kepada orang tua.

Dalam proses mendidik anak inilah mutlak dibutuhkan kerja sama dan saling pengertian antara ayah dan ibu. Kedua hal ini lebih dibutuhkan lagi ketika kedua orang tua hendak menerapkan sebuah kebijakan terhadap anak. Apabila terjadi perbedaan pendapat tentang sebuah kebijakan, usahakan dialog dan diskusi tidak terjadi di depan anak. Jadi, kebijakan tersebut telah disepakati oleh ayah dan ibu, baru disampaikan kepada anak. Dengan demikian, anak tahu bahwa kedua orang tuanya telah memberi aturan tertentu. Karena telah menjadi kesepakatan ayah dan ibu, tentu anak tidak memiliki celah untuk melanggar aturan tersebut.

Bayangkan apabila yang terjadi adalah sebaliknya. Artinya, ayah menerapkan sebuah kebijakan, tetapi ibu tidak sepakat; atau sebaliknya. Akhirnya, anak akan mencari dukungan kepada pihak yang membolehkan dilanggarnya kebijakan tersebut. Misalnya, ayah melarang, tetapi ibu membolehkan. Apa yang terjadi? Anak akan belajar untuk tidak menghormati salah satu dari kedua orang tuanya.

Di samping itu, faktor lingkungan dan masyarakat sekitar juga sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang kepribadian anak. Oleh karena itu, dibutuhkan pula kerja sama antar orang tua yang ada dalam sebuah lingkungan. Dibutuhkan sikap sabar untuk saling menasihati dalam kebenaran, dan sabar untuk menerima masukan dari pihak lain.

Ketika anak berbuat salah dan ditegur oleh tetangga, seharusnya orang tua bersyukur dan berterima kasih. Ternyata tetangga kita masih peduli terhadap kebaikan anak kita. Ada efek negatif yang muncul ketika orang tua tidak terima dengan teguran tetangga terhadap anaknya. Di antaranya, tetangga akan berpikir ulang untuk menegur ketika si anak melakukan kesalahan lagi, sehingga anak justru akan terbiarkan larut dalam kesalahan. Di antaranya pula, anak akan merasa bahwa dia mendapatkan pembelaan atas kesalahannya, sehingga lebih berani untuk melakukan kesalahan di masa mendatang. Tentu kita tidak mau kedua hal ini terjadi pada anak kita.

Ketika anak memasuki sebuah lembaga pendidikan (baca: pesantren), dibutuhkan pula kerja sama yang baik antara orang tua dan lembaga tersebut. Komunikasi antara orang tua dan lembaga pendidikan harus terjalin dengan baik demi kemaslahatan anak. Orang tua semestinya aktif mengikuti perkembangan belajar anak setiap hari. Orang tua tidak boleh berlepas tangan terhadap pendidikan anak meski anak sudah masuk pesantren. Ketika pesantren menerapkan aturan-aturan, awasilah anak agar tetap mematuhinya. Jika anak melanggar dan dibiarkan, anak akan belajar untuk bersikap tidak konsisten.

Pembaca yang budiman…. Karena itu, untuk mewujudkan anak yang saleh dan salihah, perlu kerja sama dan saling pengertian: antara ayah dan ibu; antara orang tua dan lingkungan sekitar; serta antara orang tua dan lembaga yang telah mereka percayai untuk mendidik anaknya.

Berbagai usaha yang kita lakukan guna mendapatkan anak yang saleh dan salihah haruslah disandarkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Senantiasalah menyempatkan diri berdoa demi kebaikan anak, terlebih lagi pada waktu dan tempat yang mustajab. Sebab, hanya Allah subhanahu wa ta’ala sajalah Dzat yang Mahamampu memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × three =