Penghalang Terkabulnya Doa

wirid-6Al-Ustadz Idral Harits

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Doa dan ta’awwudzat (bacaan untuk meminta perlindungan) ibarat senjata. Fungsi senjata itu tergantung pada siapa yang menyandangnya, bukan pada ketajamannya semata. Oleh sebab itu, apabila senjata itu sempurna tanpa cacat, tangan yang mengayunkannya cukup kuat, dan tidak ada yang menghalanginya—perisai dan sejenisnya, niscaya tercapailah tujuan yang diharapkan dalam bentuk tebasan (yang membinasakan lawan, –red.). Akan tetapi, jika salah satu dari ketiga hal ini tidak ada, tentu tidak ada pula hasil dari senjata itu.”

Seperti itu pula halnya doa, kadang hasilnya terlihat, kadang pula tidak. Hal ini karena mungkin saja doa yang dipanjatkan bukan doa yang baik, atau orang yang berdoa tidak menyatukan hati dan ucapannya, atau ada penghalang terkabulnya doa. Akibatnya, doa itu pun tidak ada hasilnya.
Penghalang-penghalang tersebut bisa jadi berasal dari dalam hamba itu sendiri, atau dari luar dirinya.

Penghalang pertama, sering menggunakan sesuatu yang haram, baik berupa makanan, minuman, maupun pakaian.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata,

كَانَ لِأَبِي بَكْرٍ غُلاَمٌ يُخْرِجُ لَهُ الْخَرَاجَ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ، فَجَاءَ يَوْمًا بِشَيْءٍ، فَأَكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ لَهُ الْغُلاَمُ: أَتَدْرِي مَا هَذَا؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لِإِنْسَانٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَمَا أُحْسِنُ الْكِهَانَةَ إِلاَّ أَنِّي خَدَعْتُهُ، فَلَقِيَنِي فَأَعْطَانِي بِذَلِكَ، فَهَذَا الَّذِي أَكَلْتَ مِنْهُ. فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ

“Dahulu, Abu Bakr memiliki seorang bujang yang biasa mengeluarkan kharaj (harta yang menjadi bagian majikan dari usaha budaknya, -red.) untuknya. Abu Bakr biasa makan dari kharaj itu. Pada suatu hari, si bujang datang membawa sesuatu, lalu Abu Bakr memakannya.
Berkatalah bujang itu, ‘Tahukah Anda makanan apakah ini?’
‘Makanan apakah ini?’ Abu Bakr balik bertanya.
Kata bujang itu, ‘Dahulu, pada masa jahiliah, saya selalu membisikkan hal-hal gaib kepada seseorang. Sebenarnya, saya tidak pandai perdukunan. Saya hanya menipunya. Dia pun menemui saya lalu memberi saya upah. Makanan yang Anda makan ini adalah dari upah itu.’
Seketika, Abu Bakr memasukkan jarinya ke mulutnya hingga memuntahkan semua yang ada di perutnya.”

Subhanallah! Coba bandingkan dengan sebagian besar saudara kita kaum muslimin saat ini, yang tidak hanya menceburkan diri dalam perkara syubhat (samar-samar), tetapi juga menceburkan diri dalam perkara haram!

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih pantas baginya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُواْ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعۡمَلُواْ صَٰلِحًاۖ إِنِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ وَقَالَ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ, ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ؛ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Hai manusia, sesungguhnya Allah Mahabaik, tidak menerima kecuali yang baik-baik. Sesungguhnya Allah telah memerintah orang-orang yang beriman dengan apa yang diperintahkan-Nya kepada para rasul. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’
Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman,
‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian’.”

Kemudian, beliau bercerita tentang seorang laki-laki yang menempuh perjalanan panjang, yang kusut masai rambutnya lagi berdebu. Dia menadahkan tangannya ke langit sambil berdoa, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku”, sementara makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan diberi gizi dengan yang haram. “Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”

Laki-laki tersebut menjalani empat keadaan yang merupakan sebagian sebab terkabulnya doa:
1. memperpanjang safar,
2. tabadzdzul (sederhana, lusuh) dalam hal pakaian dan keadaan,
3. menadahkan tangan ke langit, dan
4. meminta dengan memelas dan berulang-ulang sambil menyebut-nyebut rububiyyah Allah dengan mengucapkan, “Ya Rabbi, ya Rabbi (Wahai Rabbku, wahai Rabbku).”
Ternyata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam justru mengatakan,

فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”

Oleh karena itu, setiap muslim wajib segera bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari semua kemaksiatan dan dosa yang dilakukannya serta mengembalikan hak orang lain yang dizaliminya, agar dia selamat dari penghalang besar terkabulnya doa.

Penghalang kedua, tergesa-gesa lantas berhenti berdoa. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Akan dikabulkan doa salah seorang dari kalian selama dia tidak tergesa-gesa lalu berkata, ‘Saya sudah berdoa, tetapi tidak juga dikabulkan’.”
Dengan demikian, kita tidak boleh berputus asa dan tergesa-gesa, berharap doa yang sudah kita panjatkan segera terkabul. Bisa jadi, Allah tidak mengabulkan doa karena beberapa alasan, seperti tidak terpenuhinya syarat-syarat terkabulnya doa, atau adanya sebab lain. Misalnya, Allah tidak mengabulkan doanya demi kebaikannya yang tidak diketahuinya.

Ketika Allah tidak mengabulkan doa seseorang—meskipun dia sudah bersungguh-sungguh dalam berdoa, belum tentu karena Allah tidak menyukainya. Akan tetapi, mungkin Allah menundanya sampai waktu yang tepat.

Masih ingatkah Anda kisah Nabi Zakariya ‘alaihissalam? Kapan beliau mempunyai putra? Setelah lanjut usia! Apakah sejak menikah, beliau pernah berhenti berdoa karena putus asa?

Perhatikanlah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا ٤

“Ia (Zakariya) berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa berdoa kepada-Mu, wahai Rabbku’.” (Maryam: 4)

Maksudnya, beliau tidak pernah merasa ditolak dan tidak dikabulkan doanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya, Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa sangat baik kepada beliau dan selalu mengabulkan doa beliau. Kebaikan dan kelembutan Allah subhanahu wa ta’ala selalu tertuju kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, hendaklah dipahami bahwa tidak terkabulnya doa adalah salah satu bentuk ujian dari Allah subhanahu wa ta’alaepada seorang hamba. Oleh sebab itu, hendaklah dia bersabar menerima ujian tersebut. Bisa jadi, tidak terkabulnya doa yang dia panjatkan itu agar dia mengoreksi diri dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Di sisi lain, terpenuhinya semua harapan hamba belum tentu menjadi pertanda kebaikan bagi dirinya. Sebab, mungkin saja hal itu merupakan istidraj (pancingan) dari Allah subhanahu wa ta’ala, apalagi jika selama ini dia bergelimang kemaksiatan dan jauh dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ. ثُمَّ تَلاَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ ٤٤

“Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba sebagian dunia yang disukainya, padahal dia suka bermaksiat, (ketahuilah bahwa) itu adalah istidraj.” Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala(((yang artinya),
“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka mereka terdiam berputus asa.” (al-An’am: 44)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَأَوۡلَٰدُهُمۡۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ٨٥

“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.” (at-Taubah: 85)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

أَيَحۡسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِۦ مِن مَّالٖ وَبَنِينَ ٥٥ نُسَارِعُ لَهُمۡ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ بَل لَّا يَشۡعُرُونَ ٥٦

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (al-Mu’minun: 55—56)

Penghalang ketiga, berbuat kemaksiatan dan hal-hal yang diharamkan. Kemaksiatan membuat hati jauh dari Allah, gelap, bahkan mati.

Penghalang keempat, meninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar melakukan amar ma’ruf nahi munkar, atau Allah akan menimpakan kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa, tetapi doa kalian tidak dikabulkan.”

Penghalang kelima, berdoa dengan sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي اْلآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَكْشِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا: إذًا نُكْثِرُ يَا نَبِيَّ اللهِ؟ قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ.

“Tidak ada seorang muslim pun yang memanjatkan sebuah doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, melainkan Allah pasti memberinya salah satu dari tiga hal dengan sebab doa itu: (1) Allah menyegerakan untuknya jawaban doa yang dipanjatkannya, (2) menyimpan jawaban doa itu untuknya di akhirat, atau (3) menyelamatkannya dari kejelekan yang sebanding dengan doa yang dipanjatkannya.”
Kata para sahabat, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak (doa), wahai Nabiyullah.”
Kata beliau, “Allah subhanahu wa ta’alaebih banyak lagi (karunia-Nya).”

Maka dari itu, bisa jadi, selama ini, kita mengira bahwa doa kita tidak terkabul, padahal sudah dikabulkan dengan sesuatu yang mungkin lebih banyak atau lebih baik daripada doa yang pernah kita panjatkan. Misalnya, kita pernah meminta rezeki berupa harta yang banyak kepada Allah, tetapi tidak pernah terkabul. Sementara itu, kita selalu sehat, berhati tenteram, dan bekerja tidak terlalu berat. Bukankah kondisi seperti ini jauh lebih baik daripada seandainya kita diberi harta berlimpah, tetapi satu atau dua organ penting tubuh kita terkena penyakit berat, seperti kanker ganas, serangan jantung, atau kerusakan hati—hepatitis dan sejenisnya?

Bagaimana mungkin kita menikmati harta tersebut kalau tubuh kita sakit-sakitan, terbaring di atas ranjang, terkurung di dalam rumah, atau dirawat di rumah sakit?
Bisa jadi pula, kita diselamatkan dari kejelekan yang sebanding dengan apa yang pernah kita minta. Bisa jadi pula, permohonan kita itu dijadikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai simpanan kebaikan untuk kita di akhirat.

Abu Nu’aim, al-Hakim, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi rahimahumullah menukil dari sebagian sahabat, seperti Jabir dan Bunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Jibril ‘alaihissalam ditugasi memerhatikan hajat setiap manusia. Apabila seorang mukmin berdoa, Allah subhanahu wa ta’ala berkata kepadanya, “Hai Jibril, tahanlah keperluan hamba-Ku ini karena Aku mencintainya dan mencintai suaranya.” Sebaliknya, jika seorang kafir berdoa, Allah subhanahu wa ta’ala berkata kepadanya, “Penuhilah hajat hamba-Ku ini karena Aku membencinya dan membenci suaranya.”

Wallahul muwaffiq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − fourteen =