Perlindungan Bagi Buah Hati

buah-kasih-7Al-Ustadzah Ummu Umar Asma

Si kecil telah terlahir ke dunia. Kini suami dan istri tidak lagi berdua. Ada kawan baru yang senantiasa menemani mereka dalam keseharian. Rumah yang tadinya sepi, kini berubah, dihiasi tangisan manja si kecil dan tawa riang kedua orang tuanya.

Kebahagiaan menyambut buah kasih kian terpancar di wajah-wajah orang tua baru. Betapa tidak, penantian mereka berakhir sudah. Bak petani yang dahulu menanam biji, kini telah memanen buah. Seakan-akan mata ini senantiasa terasa sejuk tatkala memandangnya. Demikian pula hati ini, tiada henti-hentinya bersyukur kepada Ilahi atas anugerah yang Dia berikan. Hal itu tampak dari besarnya perhatian dan perlindungan bagi si kecil, dari memberikan air susu agar terpenuhi kebutuhan fisiknya; menyiapkan pakaian dan segala peralatan bayi agar dia merasa nyaman; menggendong, memeluk, dan menciumnya agar dia merasa aman dan selalu hangat. Itulah fitrah orang tua terhadap anak-anak.

Sungguh, kita harus bersyukur kepada Rabb yang memberikan rasa kasih sayang dalam diri orang tua terhadap anak-anaknya. Dengan kasih sayang itu, tentu orang tua akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan mereka, baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Bisa kita bayangkan, seorang bayi kecil yang terlahir dalam kondisi lemah, sangat membutuhkan bantuan orang-orang di sekitarnya. Seandainya orang tua tidak memiliki rasa sayang terhadap mereka, tentu akan terasa berat bagi keduanya. Hampir setiap malam ibu bangun untuk menyusui si bayi, mengganti popoknya yang basah, menggendongnya sambil berjalan-jalan, dan sebagainya. Pada siang hari ibu sulit untuk beristirahat. Saat mata bisa terlelap, ibu harus kaget mendengar tangisannya. Namun, semua itu dijalaninya dengan ringan, bahkan dengan penuh kebahagiaan. Semua itu tidak lain karena Allah telah menanamkan dalam diri mereka rasa cinta dan kasih sayang yang sangat besar kepada anak-anak mereka.

Perlindungan Untuknya

            Di antara bentuk kasih sayang orang tua adalah selalu melindungi anak-anaknya. Perlindungan secara fisik mungkin telah diketahui dan dilaksanakan oleh setiap orang tua. Namun, agama ini mengajarkan perlindungan lain yang lebih daripada sekadar perlindungan fisik. Islam membimbing orang tua agar memintakan perlindungan kepada Allah bagi anak-anaknya dari kejelekan seluruh makhluk, baik yang terlihat maupun tidak. Allah mengisahkan ibunda Maryam yang melakukan hal itu. Allah berfirman,

فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ وَإِنِّي سَمَّيۡتُهَا مَرۡيَمَ وَإِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٣٦

Tatkala istri ‘Imran melahirkan anaknya, dia berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya aku melahirkan anak perempuan.’ Allah subhanahu wa ta’alaebih mengetahui apa yang ia lahirkan, dan tidaklah anak laki-laki itu seperti anak perempuan. ‘Sesungguhnya aku memberinya nama Maryam, dan aku memintakan kepada-Mu bagi dirinya dan anak keturunannya perlindungan dari setan yang terkutuk’.” (Ali ‘Imran: 36)

Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa selayaknya orang tua berupaya agar anaknya terlindung dari kejelekan yang hakiki, yaitu kejelekan setan. Lihatlah, Pembaca Qonitah, semoga Allah memberkahi kita semua, demikian agungnya ajaran ini. Begitu besarnya perhatian yang diberikan kepada anak-anak agar senantiasa beroleh kebaikan dan terlindung dari kejelekan.

Teladan kita, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, pun melakukannya. Beliau pernah mendoakan kedua cucu beliau, Hasan dan Husain, dengan doa berikut.

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

            Aku memohonkan perlindungan bagi kalian berduadengan kalimat-kalimat Allah yang sempurnadari setiap setan, binatang berbisa, dan pandangan mata yang jahat. (Dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Misykatul Mashabih no. 1535)

Jadi, semestinya, kita pun melakukannya terhadap anak-anak kita karena Islam telah mensyariatkannya dan karena kasih sayang kita kepada mereka.

Ain (Pandangan Mata)

            Dari hadits di atas kita ketahui bahwa beliau memintakan perlindungan dari tiga hal, yaitu setan, binatang buas, dan pandangan mata yang jahat. Apa yang dimaksud pandangan mata yang jahat?

Pandangan mata (ain) adalah pandangan mata seseorang terhadap sesuatu yang menakjubkan, bisa disertai rasa takjub tanpa memuji nama Allah, bisa juga disertai rasa iri. Dengan izin Allah, pandangan tersebut bisa menyebabkan sakitnya atau terganggunya orang yang dipandang.

Barangkali kita pernah mendapati seorang bayi atau anak kecil yang mendadak rewel. Dia menangis tanpa sebab yang jelas, bukan karena sakit atau lelah. Atau anak kecil yang demam tinggi dan tidak kunjung sembuh. Sudah diobati dengan berbagai obat, tetap saja tubuhnya panas. Barangkali juga kita mendapati seorang anak yang kurus kering, layu tak bersemangat, padahal keluarganya tidak dalam kondisi kekurangan.

Gambaran-gambaran di atas bisa jadi disebabkan oleh ain, dan ini bukanlah takhayul semata. ‘Ain ini benar adanya dan telah diterangkan dalam banyak hadits, seperti doa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam di atas. Al-Qur’an pun menyebutkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِن يَكَادُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَيُزۡلِقُونَكَ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ

Dan hampir-hampir orang kafir akan menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka. (al-Qalam: 51)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, dalam Tafsir beliau, menyebutkan, “Ayat ini mengandung dalil bahwa pengaruh ‘ain adalah sesuatu yang nyata terjadi.”

 

Pengobatan Ain

Pengobatan bagi seseorang atau anak kecil yang terkena ain berbeda dengan pengobatan penyakit biasa. Apabila penyakit biasa cukup diobati dengan obat dan pemeriksaan fisik lainnya, berbeda halnya dengan ain. Segala puji hanya milik Allah yang tidaklah menurunkan penyakit kecuali pasti memberikan pula obatnya. Demikian pula dengan penyakit akibat ain ini. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan pengobatannya melalui beberapa hadits, di antaranya,

  • Hadits :

مَرَّ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ بِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ وَهُوَ يَغْتَسِلُ، فَقَالَ: لَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ وَلَا جِلْدَ مُخَبَّأَةٍ. فَمَا لَبِثَ أَنْ لُبِطَ بِهِ، فَأُتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقِيلَ لَهُ: أَدْرِكْ سَهْلًا صَرِيعًا. قَالَ: مَنْ تَتَّهِمُونَ بِهِ؟ قَالُوا: عَامِرَ بْنَ رَبِيعَةَ. قَالَ: عَلَامَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ؟ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ مَا يُعْجِبُهُ، فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ. ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ، فَأَمَرَ عَامِرًا أَنْ يَتَوَضَّأَ، فَيَغْسِلُ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، وَرُكْبَتَيْهِ وَدَاخِلَةَ إِزَارِهِ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَصُبَّ عَلَيْهِ

 ‘Amir bin Rabi’ah melewati Sahl bin Hunaif yang sedang mandi. Kata ‘Amir, “Belum pernah aku melihat pemandangan seperti hari ini, dan belum pernah aku melihat kulit seperti kulit wanita yang dipingit.”

Tidak berapa lama kemudian, terbantinglah Sahl, kemudian dia didatangkan ke hadapan Nabi. Orang-orang pun mengatakan kepada beliau, “(Wahai Rasulullah), segera selamatkan Sahl. Ia telah terkapar.”

Nabi bertanya, “Siapa yang kalian curigai dalam hal ini?” Mereka menjawab, “’Amir bin Rabi’ah.”

Beliau pun berkata, “Atas dasar apa salah seorang di antara kalian hendak membunuh saudaranya? Apabila dia melihat sesuatu yang menakjubkan pada diri saudaranya, hendaknya ia mendoakan kebaikan untuknya.”

Kemudian, beliau meminta air dan memerintah ‘Amir untuk berwudhu’. ‘Amir pun membasuh wajahnya, kedua tangan hingga sikunya, kedua kaki hingga lututnya, dan bagian dalam sarungnya. Setelah itu, beliau  memerintahnya untuk menuangkan air itu pada Sahl. (HR. Ibnu Majah no. 3500, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3908/4020 dan al-Misykah no. 4562)

  • Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melihat putra-putra Ja’far bin Abi Thalib, lalu bertanya kepada Asma bintu ‘Umais, “Mengapa kulihat anak-anak saudaraku kurus-kurus? Apakah mereka kekurangan?”

Asma menjawab, “Tidak, tetapi mereka cepat terkena ‘ain.”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Ruqyahlah mereka.”

Asma berkata, “Aku pun membacakan kepada beliau (ruqyah yang hendak kubaca).” Beliau bersabda, “Ruqyahlah mereka dengan bacaan itu.” (HR. Muslim no. 4075)

Dari kedua hadits di atas kita ketahui bahwa cara mengobati penyakit akibat ‘ain adalah meminta orang yang memiliki ‘ain untuk berwudhu, lalu bekas air wudhu tersebut digunakan untuk mandi penderita. Cara kedua adalah meruqyah penderita dengan bacaan ruqyah yang syar’i, yaitu bacaan ayat-ayat al-Qur’an.

Namun, tentunya kita harus senantiasa berlindung dan memintakan perlindungan kepada Allah bagi anak-anak kita darinya. Kita doakan mereka dengan doa yang telah disebutkan di atas. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dan anak-anak kita dari kejelekan makhluk yang Ia ciptakan. Amin. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 7 =