Qurratu ‘Aini, Penabur Kebahagiaan dalam Hidupku

wirid-15Al-Ustadz Fathul Mujib

Dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan sifat hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara sifat-sifat hamba-Nya yang beriman itu Ia jelaskan dalam surat al-Furqan ayat 74,

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤

“… dan orang orang yang berkata, ‘Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (al-Furqan: 74)

Jadi, di antara sifat hamba Allah yang beriman adalah berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan doa ini,

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Hamba yang beriman memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala pasangan (suami/istri) dan keturunan yang akan menyejukkan mata mereka, yaitu keturunan yang taat kepada Allah, beribadah hanya kepada-Nya, dan tidak berbuat syirik kepada-Nya.

Hamba yang beriman juga memohon agar dijadikan sebagai teladan atau imam bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu menjadi teladan bagi mereka dalam kebaikan, bukan sebagai ‘teladan’ dan panutan dalam kejelekan.

Sebagai orang yang beriman, tentu kita akan lebih memerhatikan doa ini pada masa-masa yang kejahatan dan kemungkaran kian marak. Semakin hari semakin banyak korban yang berjatuhan karena tindak kejahatan dan kemungkaran ini. Semakin banyak anak kecil yang menjadi korban sehingga dicanangkanlah darurat perlindungan anak oleh kalangan pemerhati anak. Bahkan, ada anak-anak yang bertindak sebagai pelaku kejahatan itu. Melalui berbagai media massa kita sering melihat, mendengar, atau membaca berita mengenai anak-anak yang menjadi korban kejahatan, termasuk kejahatan seksual.

Mari bersama kita lihat sejenak sebagian kandungan doa yang seharusnya dipanjatkan oleh seorang hamba Allah, bahkan seharusnya sering dipanjatkan ini.

Memohon dan Berdoa Hanya Kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Hamba Allah yang beriman senantiasa memohon dan berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, terlebih dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Meminta kepada selain Allah dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh-Nya termasuk syirik besar yang akan menjadikannya sebagai orang yang merugi pada hari kiamat. Amalan-amalannya terhapus sia-sia, dan ia termasuk penduduk neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٦٥

“Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَدۡعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ لَا بُرۡهَٰنَ لَهُۥ بِهِۦ فَإِنَّمَا حِسَابُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦٓۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ١١٧

Dan barang siapa menyembah sembahan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (al-Mu’minun: 117)

Kiranya, dua ayat ini cukup menjadi bahan renungan bagi kita agar berhati-hati terhadap perbuatan syirik.

Dalam surat al-Furqan dijelaskan pula bahwa salah satu sifat hamba Allah subhanahu wa ta’ala adalah tidak berdoa kepada selain-Nya.

وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ

Dan orang-orang yang tidak berdoa kepada sembahan yang lain beserta Allah.” (al-Furqan: 68)

Seorang muslim harus mewaspadai penyakit yang paling berbahaya ini. Dengan demikian, ia hanya berdoa kepada Allah, khususnya dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah. Contohnya terdapat dalam doa ini. Seorang hamba meminta istri dan keturunan yang akan menjadikannya berbahagia, baik ketika di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, dalam doa ini kita dituntun untuk mengucapkan,

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا

Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami ….

Dalam doa ini digunakan kata hibah (yang terkandung dalam kata هَبْ). Sebab, doa ini tidak hanya untuk meminta kebaikan istri dan anak keturunan, tetapi sekaligus meminta hibah (karunia) bagi kita. Bahkan, manfaat doa ini akan dirasakan juga oleh kaum muslimin secara umum. Sebab, kesalehan orang-orang yang disebutkan di dalamnya akan menjadi sebab kebaikan bagi banyak pihak yang terkait dan mengambil manfaat dari mereka. (Tafsir as-Sa’di, dengan beberapa penyesuaian)

Kebaikan masyarakat dan bangsa ini akan terwujud ketika istri dan anak-anak—sebagai generasi penerus—adalah generasi yang saleh. Berbeda halnya ketika istri tidak lagi mengindahkan dan memerhatikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin di rumah suaminya. Ia tidak lagi menganggap tugas dan kewajibannya sebagai wanita dan sekaligus istri sebagai kewajiban yang harus ia emban. Ia justru telah berbalik arah. Menurutnya, itu semua hanya tugas kanca wingking. Itu semua hanya tugas orang-orang yang terbelenggu dan kuper (kurang pergaulan). Oleh karena itulah, tugas mulia mengasuh dan mendidik anak ia abaikan, bahkan ia tinggalkan. Kewajibannya untuk melayani suami ia anggap sebagai penghalang kemajuan dan kariernya.

Ketika demikian keadaannya, bisa dibayangkan akibatnya. Bahkan, sudah sering kita lihat akibatnya. Hak-hak para suami terabaikan sehingga mereka cenderung mencari kepuasan di luar rumah. Tidak ada lagi yang mengontrol anak-anak sehingga terjadilah keadaan yang bisa dilihat sekarang ini. Banyak anak kecil yang menjadi korban kejahatan. Bahkan, tidak sedikit pula anak yang telah menjadi pelaku kejahatan.

Keadaan telah sedemikian kacau dan runyamnya sehingga dimunculkanlah darurat perlindungan anak. Bahkan, presiden kita pun diharapkan bisa turun tangan dalam mengatasinya. Jika keadaan ini kita bandingkan dengan tuntunan dan ajaran dalam al-Qur’an, terlihat dengan jelas betapa indah dan betapa mulianya aturan Islam ini. Terlihat jelas pula bahwa keteraturan dalam Islam adalah keteraturan yang sangat rapi sekaligus menjadi solusi bagi berbagai problem dan kasus yang sedang marak di negeri ini.

Hal itu menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang Mahasuci dan Mahaagung, baik dalam Dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya. (Disarikan dari Ruhul Ma’ani karya al-Alusi, dengan beberapa penyesuaian)

Oleh karena itu, sangat tepat ketika Allah subhanahu wa ta’ala memulai surat al-Furqan dengan firman-Nya,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

 “Mahasuci Allah yang telah menurunkan alFurqan (alQuran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (al-Furqan: 1)

Maksudnya, menjadi pemberi peringatan kepada seluruh manusia agar mereka menempuh jalan ‘ibadurrahman (para hamba ar-Rahman) dan menjauhi jalan-jalan orang-orang kafir.

Akan sangat mengena lagi ketika kita lihat penutup surat al-Furqan ini, yaitu,

قُلۡ مَا يَعۡبَؤُاْ بِكُمۡ رَبِّي لَوۡلَا دُعَآؤُكُمۡۖ فَقَدۡ كَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ يَكُونُ لِزَامَۢا ٧٧

“Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), Rabbku tidak mengindahkan kalian andaikan tidak ada doa (ibadah) kalian. (Namun, bagaimana kalian beribadah kepada-Nya), padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Oleh karena itu, kelak (azab) pasti (menimpa kalian).” (al-Furqan: 77)

Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan kita agar kita mengikuti jalan hamba-Nya yang beriman dan menjauhi perilaku dan perbuatan orang-orang kafir. Sebab, orang-orang kafir pasti ditimpa siksa dan azab di akhirat kelak setelah ditimpa azab dan siksa di dunia. Di antara bentuk hukuman di dunia adalah bencana alam yang menimpa bertubi-tubi, kejahatan yang merebak sehingga hilang rasa aman, anak-anak yang berani melawan orang tua, dan sebagainya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kaum muslimin agar mereka mau mengikuti seruan-Nya, yaitu menauhidkan-Nya dan menjalankan syariat-Nya dengan penuh keikhlasan sehingga akibat yang baik bisa tercapai.

Qurrata A’yun

Kemudian, kita akan menyimak sedikit kandungan kata qurrata a’yun atau qurratul ‘ain. Adapun kandungan kata ﮨ ﮩ ﮪ (istri dan keturunan) akan dibahas pada pembahasan berikutnya, insya Allah. Sebab, kata “istri dan keturunan” dalam doa ini bisa berkedudukan sebagai bayaniyyah (penjelas). Seakan-akan doa ini bermakna “Berikanlah kepada kami karunia berupa penyejuk mata, yaitu istri dan keturunan”. Maksudnya, penyejuk mata dijelaskan oleh kata “istri dan keturunan”.

Oleh karena itu, kita mendahulukan pembahasan mengenai kata qurrata a’yun.

Makna asal qurrata adalah “dingin”. Bangsa Arab merasa terganggu oleh sengatan panas sehingga mencari kenyamanan dengan hawa dingin. Disebutkan qurrata a’yun atau qurratul ‘ain ketika didapatkan kebahagiaan. Dikatakan pula bahwasanya air mata yang menetes ketika seseorang mendapat kebahagiaan atau kesenangan itu bersifat dingin. Adapun air mata yang menetes ketika seseorang bersedih itu bersifat panas.

Dijelaskan oleh al-Azhari bahwa makna qurrata a’yun adalah hati seseorang mendapatkan apa yang ia ridhai atau senangi sehingga matanya pun menjadi tenang melihatnya dan tidak lagi melirik yang lain. (Ma’alim at-Tanzil karya al-Baghawi, melalui al-Maktabah asy-Syamilah)

Jadi, qurratul ‘ain merupakan ungkapan bagi kebahagiaan dan kesenangan. Kata ini diambil dari kata al-qarr (الْقَرُّ) yang bermakna “dingin”, karena air mata bahagia bersifat dingin. (Ruhul Ma’ani karya al-Alusi, melalui al-Maktabah asy-Syamilah).

Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 2 =