Ridha Dengan Pemberian-Nya

buah-kasih-6Al-Ustadzah Ummu Umar Asma

Allahlah Yang Mahakuasa dan Dialah satu-satu-Nya Pengatur alam ini. Inilah salah satu ajaran tauhid dalam Islam. Dengan meyakini hal ini, seorang mukmin akan selalu menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya. Dia senantiasa ridha akan pengaturan-Nya dengan meyakini bahwa hanya yang terbaiklah yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Termasuk dalam hal pemberian anak. Allahlah yang menentukan putra ataukah putri yang kelak ditimang oleh orang tua. Demikian dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya yang mulia,

لِّلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثٗا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ ٤٩ أَوۡ يُزَوِّجُهُمۡ ذُكۡرَانٗا وَإِنَٰثٗاۖ وَيَجۡعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًاۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٞ قَدِيرٞ ٥٠

“Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit-langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia menganugerahkan anak-anak perempuan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dia (juga) menganugerahkan anak-anak laki-laki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis, laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang Dia kehendaki). Dia pun menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (asy-Syura: 49—50)

Demikianlah, Allah saja yang berkuasa menentukan janin yang terkandung dalam perut ibu. Ada orang yang hanya dikaruniai anak perempuan tanpa anak laki-laki. Ada yang hanya memiliki anak laki-laki dan tidak bisa membelai anak perempuan. Namun, ada pula yang dianugerahi oleh Allah anak laki-laki dan anak perempuan. Bahkan, ada yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala menjadi orang yang mandul, tidak memiliki keturunan. Dalam hal ini, kita harus menyerahkan urusan hanya kepada-Nya dan ridha dengan ketentuan yang Dia berikan kepada kita.

Kita harus yakin sepenuhnya bahwa apa yang diberikan oleh Allah itulah yang terbaik bagi kita walaupun menurut pandangan kita kurang sesuai dengan keinginan kita. Allah berfirman dalam kitab-Nya,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٢١٦

            “Dan bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal hal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu, padahal hal itu buruk bagi kalian. Dan Allahlah Yang Mengetahui, dan kalian tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Meski ayat di atas diturunkan berkaitan dengan peperangan, tetapi hukumnya umum, mencakup segala sesuatu. Apabila kita mau berpikir secara sehat, akan kita sadari bahwa demikianlah kenyataannya.

Sebagai contoh—sekadar untuk memahamkan kita, bukan untuk menyamakan Allah dengan makhluk—adalah dokter dengan pasien. Misalnya, seorang pasien datang mengeluhkan penyakitnya kepada dokter. Setelah diperiksa, ternyata dia menderita penyakit mag. Dokter yang baik tentu akan melarang pasiennya dari makanan yang pedas dan asam walaupun pasien sangat menyukai makanan tersebut. Bahkan, rujak adalah makanan favoritnya.

Dokter melarang si pasien bukan karena membencinya sehingga melarang hal-hal yang disenanginya. Dokter melakukannya justru karena tahu bahwa itulah yang terbaik bagi kesehatan pasien. Larangan itu pun tentu tidak disenangi oleh pasien. Akan tetapi, apabila dia menyadari bahwa itulah yang terbaik bagi kehidupannya, dia akan menjalaninya dengan penuh kerelaan.

Lebih-lebih hubungan sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Tentulah Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Bisa jadi, sesuatu tampak kurang menarik menurut kita, tetapi ternyata itulah yang paling baik bagi kita. Begitu pula sebaliknya.

Oleh karena itu, sebagai hamba, kita wajib menerima dengan rela setiap pemberian Allah kepada kita. Semua itu adalah nikmat yang sangat besar yang dianugerahkan-Nya kepada kita dengan ilmu-Nya tentang hal-hal yang terbaik bagi kita.

Keutamaan Anak Perempuan

Pembaca Qonitah yang dirahmati oleh Allah, kami sebutkan keutamaan anak perempuan secara khusus tanpa bermaksud melebihkan anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki secara umum. Kami menyebutkannya karena dari zaman dahulu kebanyakan orang memandang sebelah mata kepada anak perempuan, sebagaimana hal ini telah terjadi pada zaman jahiliah. Selain itu, sebagian orang masih merasa bangga dengan anak laki-laki dan merasa rendah apabila memiliki anak perempuan. Sementara itu, Islam adalah agama yang adil dan memandang segala sesuatu dengan adil. Oleh karena itu, pembahasan ini bertujuan agar kita mengetahui kedudukan anak perempuan secara benar.

Di dalam sejarah, apabila kita melihat individu, akan kita dapati bahwa sebagian perempuan lebih mulia daripada laki-laki.

Mari kita lihat seorang anak perempuan suci yang berasal dari keluarga mulia. Sebelum dia lahir, orang tuanya bernadzar bahwa anak yang dilahirkan akan diserahkan untuk mengabdi kepada Allah di tempat yang mulia. Ketika bayi itu lahir, kedua orang tuanya pun menyerahkannya di sebuah tempat ibadah agar kelak sang anak senantiasa beribadah kepada Rabbnya. Siapakah dia? Dialah Maryam bintu ‘Imran, wanita suci, ibunda salah seorang nabi dan salah satu wanita terbaik di surga.

Bisa kita lihat pula seorang perempuan yang mulia, putri kedua orang tua yang mulia. Dari rahimnya terlahir pemimpin para pemuda surga. Dialah Fathimah bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebaliknya, ada anak laki-laki yang tidak memberikan kebaikan bagi orang tuanya. Sebutlah putra Nabi Nuh ‘alaihissalam. Dia justru tidak mau beriman kepada ayahandanya, padahal orang lain beriman. Bahkan, pada saat yang genting pun, saat air bah mengancam jiwa, ketika Nabi Nuh ‘alaihissalam mengajaknya beriman dan naik kapal, dia tetap durhaka dan menentang ajakan ayahnya untuk beriman.

Ada pula seorang anak laki-laki yang dibunuh oleh Khadhir dalam perjalanannya bersama Nabi Musa ‘alaihissalam. Ternyata, anak itu dibunuh karena dikhawatirkan akan membawa kejelekan bagi kedua orang tuanya. Allah mengisahkannya dalam firman-Nya,

وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا ٨٠ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا ٨١

“Adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin. Kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran. Maka dari itu, kami menghendaki supaya Rabbnya menggantikan bagi keduanya anak yang lain yang lebih suci dan lebih mendalam kasih sayangnya (kepada kedua orang tuanya).” (al-Kahfi: 80—81)

Demikianlah, Pembaca Qonitah, semoga Allah merahmati kita. Dalam kehidupan terkadang kita dapati hal seperti ini. Sebagian anak perempuan lebih mulia kedudukannya dan lebih membawa kebaikan bagi orang tuanya daripada anak laki-laki. Bisa jadi, hal ini kita lihat secara langsung di lingkungan kita.

Lebih-lebih menurut agama ini, ada keutamaan bagi orang tua yang memiliki dan mendidik anak perempuan. Disebutkan dalam sebuah hadits, Aisyah bercerita (yang artinya), “Seorang wanita masuk menemuiku bersama dua anak perempuannya. Dia meminta sesuatu dariku, tetapi aku hanya mempunyai sebutir kurma. Kuberikan kurma itu kepadanya. Dia pun membagi kurma itu menjadi dua bagian, lalu memberikannya kepada dua anaknya tanpa menyisakan sedikit pun untuk dirinya. Setelah itu, dia bangkit dan pergi bersama keduanya.

Datanglah Rasulullah n, maka kuceritakan peristiwa tersebut kepada beliau. Lantas beliau n bersabda, ‘Barang siapa diuji dengan anak perempuan, lalu dia berbuat baik kepadanya, kelak mereka (anak perempuan itu) akan menjadi penghalang baginya dari api neraka’.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Sungguh, satu hadits ini saja sudah cukup bagi kita untuk mengetahui keutamaan memiliki anak perempuan. Apalagi ternyata masih banyak hadits yang menyebutkan hal ini. Karena itu, wahai pembaca, semestinya kita senantiasa bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita, baik berupa anak laki-laki maupun anak perempuan. Kita harus menyadari kelemahan kita sebagai seorang hamba. Kita tidak tahu, apakah anak laki-laki yang terbaik bagi kita ataukah anak perempuan. Yang lebih penting bagi kita adalah bagaimana memelihara dan mendidik mereka dengan baik agar kelak kita mendapatkan kebaikan dari mereka di dunia dan di akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × two =