Surat Pembaca Edisi 09

surat-pembacaKesalahan Tulis

Bismillah. Subhanallah, Qonitah semakin menarik untuk dibaca. Afwan, ada sedikit koreksi.

  1. Pada Qonitah edisi 05, tepatnya pada kolom bahasa Arab, ada kesalahan tulis pada kata hadza (ini). Hadza seharusnya haadzaa (ha panjang dua harakat, bukan satu harakat).
  2. Mengenai SMS tausiyah Qonitah Menyapa, saya sudah mendaftar, tetapi kok belum mendapatkan SMS tausiyah tersebut, padahal sudah ada konfirmasi balasan?

Jazakumullahu khairan wa barakallahu fikum.

Habibah

+6285726xxxxxx                                             

Lafadz hadza memang seharusnya dengan ha’ panjang (dua harakat). Akan tetapi, pada font Arab yang kami gunakan, tidak ada alif kecil (fathah berdiri). Agar tidak terjadi kekosongan harakat, kami beri harakat fathah pada huruf ha’ tersebut. Adapun SMS tausiyah dari Qonitah Menyapa, silakan konfirmasikan kembali ke nomor HP tempat Anda mendaftar. Jazakillahu khairan wa barakallahu fik.

 

Kupas Permasalahan Poligami

Alhamdulillah, masya Allah, majalah Qonitah isinya sangat menarik. Afwan, mudah-mudahan suatu saat bisa diangkat permasalahan tentang poligami dengan penjelasan yang lengkap, agar para suami mau mengukur diri sebelum melangkah, tidak bermudah-mudahan bersemangat di awal, tetapi putus di tengah jalan sehingga ada yang menjadi korban. Demikian juga para istri, tidak merasa berat untuk merelakan suami berpoligami jika memang pada kenyataannya sudah siap dan layak. Sebab, kita yakin bahwa tidak ada yang salah pada syariat poligami, tetapi individu yang menjalaninyalah yang membuat poligami seakan-akan menakutkan, bahkan di masyarakat terkadang dianggap memalukan. Apalagi banyak contoh konflik yang tidak dihadapi dengan ilmu sehingga menambah penilaian yang kurang baik tentang poligami. Mudah-mudahan ustadz dan ustadzah pengasuh Qonitah berkenan mengupasnya di majalah kesayangan kita ini. Semoga Allah memudahkannya. Barakallahufikum.

XXXXXXummu@gmail.com

Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmu ash-shalihat. Usulan Anda sudah kami tampung. Semoga Allah l memberikan kemudahan kepada kami untuk menyajikan pembahasan tersebut di edisi-edisi mendatang. Wa fiki barakallah.

 

Siapakah al-Imam al-Mawardi?

Bismillah. Afwan, pada Qonitah edisi 06, pada rubrik Alam Wanita disebutkan nama “al-Mawardi”. Siapakah beliau? Kalau memungkinkan, mohon diberitahukan biografinya. Jazakumullahu khairan wa barakallahu fik.

Ummu Abdillah al-Qosim – Solo

+6283826xxxxxx

Berikut kami sampaikan jawaban dari penulis.

Al-Imam alMawardi adalah Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Habib alBashri alBaghdadi, populer dengan sebutan alMawardi. Beliau lahir di kota Bashrah pada 364 H atau 974 M, dan wafat pada 450 H atau 1058 M.

Al-Mawardi dikenal sebagai seorang pemikir Islam dan termasuk ahli fikih madzhab Syafi’i yang menonjol. Beliau ahli dalam bidang ilmu fikih, ushul, tafsir, dan bahasa Arab. Bahkan, beliau termasuk pakar politik pada masa pemerintahan Daulah ‘Abbasiyah.

Pada awal pertumbuhan al-Mawardi di kota Bashrah, beliau belajar dan mendengar hadits dari sejumlah ulama. Pada 429 H, beliau menjadi qadhi (hakim) dan dijuluki dengan Aqdhal Qudhat (Hakim Agung).

Al-Mawardi dikenal melalui karya-karyanya, di antaranya kitab Adab ad-Dun-ya wa ad-Din, al-Hawi al-Kabir, dan al-Iqna’ yang merupakan ringkasan kitab al-Hawi. Karya beliau yang paling fenomenal adalah al-Ahkam as-Sulthaniyyah, sebuah kitab yang membahas politik.

Diringkas dari:

-Thabaqat Fuqaha asySyafi’iyyah (melalui al-Maktabah asySyamilah).

-Tarikh Islam wa Wafiyat al-Masyahiril A’lam (melalui al-Maktabah asy-Syamilah).

 

Sirah Tabiin dan Atba at-Tabiin

Alhamdulillah, majalah Qonitah tampil bagus dan sempurna. Akan tetapi, alangkah baiknya jika ditambahkan sirah tabi’in dan atba at-tabi’in.

Aisyah Ummu ‘Abdirrahman

+6285337xxxxxx

Jazakillahu khairan kami sampaikan atas usulan Anda. Insya Allah akan kami pertimbangkan.

 

Mohon Klarifikasi

Afwan, pada majalah Qonitah edisi 8, hlm. 87, dinukilkan jawaban asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Maqshud. Apakah yang dimaksud adalah Muhammad bin ‘Abdil Maqshud al-Mishri? Jika iya, setahu saya, dia mempunyai pemahaman takfiri. Mohon klarifikasi dari redaksi. Barakallahu fikum.

abuxxxxx@yahoo.co.id

Jazakumullahu khairan katsiran atas masukan Anda. Dengan ini redaksi memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap pembaca atas dicantumkannya fatwa tersebut. Sebelum ini kami memang belum mengetahui siapa Muhammad bin ‘Abdil Maqshud dan bagaimana akidahnya. Setelah kami cek di link yang disampaikan penanya, ternyata benar, beliau sudah ditahdzir oleh asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah karena mempunyai pemahaman takfiri dan menyebarkan fatwa-fatwa yang salah.

Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan-kemudahan kepada kita untuk tetap kokoh meniti jalan-Nya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − seventeen =