Surat Pembaca Edisi 13

surat-pembacaPenulisan Kata ‘Rasulillah’

Afwan, saya mau bertanya. Pada Majalah Muslimah Qonitah edisi 10 di rubrik Figur Mulia hlm. 49, penulisan kata ‘Rasulillah’ bukankah seharusnya ‘Rasulullah’? Mohon penjelasannya. Barakallahu fik wa jazakumullahu khairan.

Fatimah az-Zahra Syarief – Soroako
+6282314xxxxxx

Jika ditinjau dari sisi nahwu (salah satu cabang ilmu bahasa Arab), penulisan tersebut sudah benar. Kata ‘Rasulillah’ menempati kedudukan sebagai mudhafun ilaih dari kata ‘bintu’ sehingga berharakat kasrah. Adapun dalam kaidah bahasa Indonesia, penulisan yang benar ‘Rasulullah’. Semoga kami bisa lebih konsisten dalam pemilihan kata-kata tersebut. Fiki barakallah wa jazakillahu khairan.

Penggunaan Dhamir yang Tepat

Bismillah. Afwan, pada hlm. 80 untuk contoh-contoh dhamir di majalah Qonitah edisi 11, bukankah untuk jamak yang tidak berakal dhamirnya dihukumi muannats mufrad? Pada contoh tercantum ‘Hadzihi baqaraatun kabiiratun. Hunna min Amrika’. Bukankah seharusnya ‘Hiya min Amrika’. Jazakumullahu khairan. Barakallahu fikum.

Ummu Syafiq
+6285245xxxxxx
Sebenarnya, masalah ini sudah dijelaskan pada artikel tersebut, yakni pada kotak “Ingatlah”. Silakan lihat penjelasan kata بَقَرَاتٌ dan شَجَرَاتٌ. Kedua kata ini bisa menggunakan هُنَّ karena berupa jamak muannats salim walaupun tidak berakal. Penulis membawakan hujah dari ayat ke-7 dalam surat Ali ‘Imran dan ayat ke-46 dalam surat Yusuf. Pada ayat tersebut, هُنَّ digunakan untuk sebagai kata ganti dari آيَاتٌ, padahal آيَاتٌ tidak berakal, dan sebagai kata ganti dari بَقَرَاتٍ سِمَانٍ, yang juga tidak berakal.
Sekali lagi, ini karena kedua contoh tersebut berupa jamak muannats salim. Adapun untuk jamak taksir yang tidak berakal, tetap dianggap sebagai muannats mufrad sehingga memakai dhamir هِيَ.

Penulisan Kata Serapan

Alhamdulillah. Saya punya usul: penulisan kata dalam naskah majalah agar menggunakan tanda-tanda khusus pada kata serapan bahasa Arab. Misalnya, ‘jihad’ seharusnya ‘jihaad’ dengan mad, dan pada kata yang dimulai dengan huruf ‘ain, misalnya ‘ibaadah’. Jazakumullahu khairan wabarakallahu fikum.
+6285240xxxxxx

Perlu diketahui, penulisan kata dalam bahasa Indonesia memiliki aturan tersendiri. Kata-kata yang berasal dari bahasa asing dan sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia akan dijumpai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Contoh yang Anda sebutkan merupakan kata serapan dari bahasa asing yang sudah menjadi sebuah kata baku bahasa Indonesia, sehingga kami menuliskannya sesuai dengan aturan penulisan dalam bahasa Indonesia.
Adapun kata-kata asing yang belum diserap menjadi kata baku bahasa Indonesia, kami tulis dengan cetak miring, sebagaimana halnya aturan yang berlaku dalam EYD.
Barakallahu fikum.

Bahasan tentang Hak-hak Istri

Bismillah. Alhamdulillah, saya sangat senang dengan terbitnya majalah Qonitah. Afwan, saya menyarankan agar majalah Qonitah membahas hak-hak istri secara ringkas pada edisi berikutnya. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah kepada kita semua, amin. Jazakumullahu khairan. Saya tunggu di edisi berikutnya.
+6285702xxxxxx

Alhamdulillah, bahasan tentang hak-hak istri sudah masuk dalam rencana kami. Setelah bahasan tentang hak-hak suami di edisi ini, Anda bisa menelaah bahasan tentang hak-hak istri di edisi ke-14 insya Allah. Jazakillahu khairan.

Pembahasan enggak Nyambung

Assalamu’alaikum. Mohon maaf, saya pembaca majalah Qonitah. Saya pernah membaca artikel tentang zikir berjamaah. Awalnya, saya tertarik dengan tulisan tersebut, tetapi lama kelamaan jadi enggak nyambung ya. Saran saya, mohon diperbaiki lagi cara penulisannya agar mudah dipahami pembaca dan bisa jadi hujah yang kuat. Terima kasih.
+6285743xxxxxx

Wa’alaikumussalam warahmatullah. Jazakumullahu khairan atas saran Anda. Kami memang bertekad untuk menyajikan materi dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan pada upaya kami tersebut. Mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda.

Klarifikasi tentang Doa Bercermin

Afwan, terkait doa ketika bercermin HR. Ahmad (1/403) di edisi 5, saya temukan di majalah lain dengan tajuk ‘Doa Agar Dikaruniai Akhlak yang Baik’ HR. Ahmad (1/402 no. 3824). Di sana terdapat penjelasan bahwa tidak ada nash yang shahih bahwa doa tersebut khusus dibaca ketika bercermin. Kemudian, nukilan nomor haditsnya juga berbeda. Mohon penjelasan, manakah yang benar? Jazakumullahu khairan wa barakallahu fikum.
+6285723xxxxxx

Setelah kami pelajari kembali, memang benar bahwa doa tersebut tidak dikhususkan ketika bercermin. Doa memohon karunia akhlak yang baik ini bisa dibaca kapan saja. Hal ini karena riwayat yang mengkhususkannya pada saat bercermin adalah lemah. Oleh karena itu, kami bertobat kepada Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas kesalahan kami. Jawaban ini sekaligus sebagai ralat atas tulisan terdahulu.
Adapun nukilan nomor hadits bisa saja berbeda disebabkan oleh perbedaan cetakan dan penerbit. Jazakumullahu khairan wa fikum barakallah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + eight =