Tawadhu’ Sebuah Akhlak Yang Mulia

tawadhu'-3Al-Ustadz Abdul Halim

Ibnu Hibban rahimahullah berkata, “Senantiasa bersikap tawadhu’ dan menjauhi kesombongan adalah kewajiban bagi orang yang berakal. Seandainya tidak ada alasan untuk bersikap tawadhu’ kecuali bahwa semakin seseorang bersikap tawadhu’ semakin bertambah derajatnya, tentu yang wajib baginya ialah tidak berpakaian (berakhlak, -pent.) dengan selainnya.”

Ibnu Hibban rahimahullah juga berkata, “Jangan ada seorang pun yang menghalangi dirinya bersikap tawadhu’. Sikap tawadhu’ akan menghasilkan keselamatan, mewariskan persatuan, mengangkat rasa dendam, dan menghilangkan penolakan. Buah dari tawadhu’ adalah kecintaan, sebagaimana halnya buah dari qana’ah adalah ketenangan. Apabila orang mulia bersikap tawadhu’, kemuliaannya akan semakin bertambah, sebagaimana halnya ketika orang hina bersikap sombong, hal itu semakin menghinakannya. Bagaimana bisa seseorang tidak bersikap tawadhu’, padahal dia diciptakan dari air nutfah yang berbau busuk, akhir kesudahannya adalah menjadi bangkai yang menjijikkan, dan hidupnya selalu membawa kotoran (tinja)?”

(Raudhatul ‘Uqala’ wa Nuzhatul Fudhala’ hlm. 59 dan 61, karya al-Imam al-Hafiz Abu Hatim Muhammad bin Hibban, melalui Maktabah Syamilah)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − sixteen =