Tips Manfaat Edisi 10

tips-manfaat-10Kurma, Antara Sunnah Nabi dan Ilmu Modern

Oleh: dr. Rendi Aji Prihaningtyas

Kurma adalah makanan yang dicintai oleh Nabi Muhammad n. Saat sahur maupun berbuka puasa, kita disunnahkan memakan kurma. Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda, “Sebaik-baik (makanan) sahur seorang mukmin adalah kurma.” (HR. Abu Dawud)

Dalam riwayat Abu Dawud pula, Anas bin Malik z berkata, “Rasullullah n berbuka puasa dengan beberapa biji ruthab (kurma segar) sebelum mengerjakan shalat. Apabila tidak ada ruthab, (beliau berbuka) dengan beberapa tamr (kurma masak), dan kalau tidak ada tamr, (beliau berbuka) dengan beberapa teguk air.”

Pada dasarnya, semua makanan boleh dikonsumsi saat sahur dan buka. Namun, mengapa kurma yang dipilih oleh Nabi n?

Kurma sudah menjadi makanan yang dikonsumsi sejak lebih dari 6.000 tahun yang lalu. Pohon kurma, yang memiliki nama ilmiah Phoenix dactylifera, L., memiliki manfaat dari berbagai aspek, antara lain ekonomi, lingkungan, ornamen, kesehatan, dan nutrisi. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan modern saat ini, baik dari negara Arab maupun Barat, telah mengungkap banyak keistimewaan kurma. Berikut beberapa kelebihan kurma.

  1. Kaya kandungan nutrisi

Al-Shahib et. al. (2003), dalam International Journal of Food Sciences and Nutrition, menyebutkan bahwa kurma mengandung protein (2,3—5,6%), karbohidrat (44—88%), lemak (0,2—0,5%), 23 macam asam amino (seperti lisin, leusin, metionin, valin, isoleusin, dan fenilalanin, yang merupakan asam amino esensial yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh sehingga asupannya berasal dari makanan), serat (6,4—11,5%), vitamin, dan mineral. Salah satu lemak yang terkandung dalam kurma adalah asam lemak tak jenuh, seperti asam-asam oleat, linoleat, dan linolenat. Asam lemak tak jenuh memiliki efek positif untuk kesehatan, yaitu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL). Telah diketahui bahwa kadar kolesterol jahat yang melebihi kadar kolesterol baik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Kolesterol jahat yang berlebih ini akan mengendap di dinding pembuluh darah sehingga menyumbat aliran darah, yang pada akhirnya menimbulkan penyakit jantung ataupun stroke. Jadi, asam lemak tak jenuh mampu melindungi jantung kita dari sumbatan pembuluh darah.

Kurma juga mengandung vitamin-vitamin C, A, B1, B2, riboflavin, dan niasin. Mineral yang terkandung dalam kurma antara lain selenium, fluoride, zat besi, magnesium, kadmium, tembaga, natrium, kalium, kalsium, seng, kobalt, mangan, kalium, fosfor, dan sulfur. Vitamin dan mineral ini diperlukan untuk menjalankan proses fisiologis tubuh dan sebagai antioksidan alami yang mampu menangkal radikal bebas. Kurma juga mengandung kalium hingga 0,9% yang baik untuk kesehatan jantung.

  1. Memiliki indeks glikemik yang rendah

Hasil penelitian Alkaabi et. al. (2011) yang dipublikasikan dalam Nutrition Journal menunjukkan bahwa kurma memiliki indeks glikemik yang rendah. Dalam makanan berkarbohidrat dikenal indeks glikemik.

Apakah indeks glikemik itu? Indeks glikemik menggambarkan kecepatan penyerapan zat gula oleh tubuh. Karbohidrat yang masuk ke tubuh akan dipecah menjadi molekul terkecil yang disebut glukosa. Semakin tinggi nilai indeks glikemik, semakin besar pula kenaikan kadar glukosa darah. Hal ini memicu pengeluaran hormon insulin dari pankreas yang menyebabkan penumpukan lemak semakin banyak, begitu pula sebaliknya. Insulin adalah hormon yang mengubah glukosa darah menjadi glikogen (simpanan glukosa) dalam hati dan otot. Jika tubuh kita mendeteksi glukosa, insulin akan dikeluarkan untuk mengubah kelebihan glukosa darah menjadi bentuk simpanan lain. Kurma merupakan makanan berkarbohidrat yang memiliki indeks glikemik rendah sehingga tidak menyebabkan kenaikan glukosa darah yang terlalu tinggi.

Kurma sangat cocok dikonsumsi oleh orang yang sedang mengontrol berat badannya. Konsumsi kurma tidak menyebabkan kegemukan. Meskipun berasa manis, kurma aman untuk penderita diabetes mellitus (kencing manis) karena tidak menyebabkan kenaikan glukosa darah. Penelitian Alkaabi et. al. (2011) juga menunjukkan bahwa konsumsi kurma tidak menaikkan kadar glukosa darah setelah makan pada penderita diabetes mellitus. Oleh karena itu, berbuka dengan kurma adalah pilihan paling tepat karena mampu menambah asupan energi dari kandungan karbohidratnya (kalori yang diberikan sekitar 213 kalori/100 gram) tanpa menaikkan beban kerja pankreas akibat lambatnya kenaikan glukosa darah.

  1. Memperlama rasa kenyang

Kurma mengandung selulosa dan zat pati yang merupakan karbohidrat kompleks. Karbohidrat kompleks adalah karbohidrat yang biasanya terdiri atas lebih dari sepuluh molekul glukosa. Karbohidrat kompleks lebih sehat daripada karbohidrat sederhana seperti nasi putih. Karbohidrat kompleks juga memperlama rasa kenyang karena pemecahannya membutuhkan waktu yang lebih lama daripada pemecahan karbohidrat sederhana. Selain itu, kandungan serat dalam kurma memperlambat proses pencernaan di dalam tubuh. Oleh karena itu, kurma sangat cocok untuk sahur! Dengan mengonsumsi kurma saat sahur, perut kita tidak akan mudah lapar. Hal ini sama halnya jika kita mengonsumsi beras merah, bukan beras putih. Sehat, bukan?

  1. Serat pada kurma untuk kesehatan pencernaan

Terkadang saat seseorang berpuasa, dia mengalami konstipasi (sembelit). Jangan bingung! Kita bisa mengatasinya dengan kurma. Kurma kaya serat. Serat sulit dicerna di dalam usus sehingga akan dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk yang masih padat. Serat akan menambah volume tinja. Adanya stool bulking effect (penambahan volume tinja) akibat serat akan mempercepat waktu transit sisa makanan dan zat-zat sisa metabolisme lain di dalam usus. Hal ini memperlancar buang air besar, mencegah sembelit, dan mencegah kanker usus. Mengapa? Karena semakin pendek transit sisa makanan dan zat sisa metabolisme di dalam usus, semakin pendek juga waktu terpaparnya sel usus dengan zat karsinogenik. Hal ini akan melindungi sel usus kita dari kanker.

  1. Cocok untuk mereka yang berdiet

Seperti sudah disebutkan di atas, kurma tidak meningkatkan kadar glukosa darah dengan segera sehingga penumpukan lemak akibat pengeluaran hormon insulin oleh pankreas pun akan melambat. Oleh karena itu, mereka yang berdiet tetap bisa mengonsumsi yang manis-manis tanpa takut gemuk!

  1. Penangkal radikal bebas

Radikal bebas adalah satu atau lebih atom yang memiliki elektron yang tidak berpasangan sehingga dapat mengikat elektron dari molekul lain yang menyebabkan rusaknya molekul lain tersebut. Radikal bebas terbentuk karena proses endogen dan eksogen. Secara endogen, tubuh akan membentuk radikal bebas sebagai hasil metabolisme dalam jumlah seimbang. Namun, dewasa ini, dengan banyaknya polusi, pola makan yang tidak sehat dan tidak seimbang, kerja yang berlebihan, rokok, dll, terjadilah pembentukan radikal bebas secara eksogen yang berlebihan.

Sebenarnya, tubuh juga memproduksi antioksidan, seperti SOD, SGH, dan katalase. Namun, keseimbangan ini terganggu sehingga kita membutuhkan asupan antioksidan dari luar tubuh. Kurma merupakan makanan yang mengandung antioksidan. Kandungan vitamin C, vitamin E, flavonoid, dan tanin dalam kurma berperan sebagai antioksidan yang mampu melawan radikal bebas.

Hasil penelitian Gad et. al. (2010), yang dipublikasikan dalam American Journal of Food Technology, menyebutkan bahwa selain menjadi lebih manis, yoghurt yang ditambah 10% sirup kurma ternyata memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi karena kandungan fenolnya meningkat dan asam folatnya lebih banyak daripada plain yoghurt.

  1. Sebagai neuroprotektor (pelindung sel saraf) pada otak

Wan Ismail et. al. (2013), dalam Alternative and Integrative Medicine, mengatakan bahwa pemberian ekstrak buah kurma dapat mengurangi kerusakan saraf pada tikus percobaan dengan cara menghambat pengerutan sel saraf otak, mencegah terjadinya atrofi (tidak berkembangnya) sel saraf otak, dan mencegah kematian sel saraf otak pada tikus percobaan. Mengapa? Karena adanya aktivitas antioksidan yang disuplai saat konsumsi ekstrak buah kurma.

  1. Sebagai antimikroba

Kandungan senyawa fenolik (seperti flavonol, proantosianidin, dan hidroksisinamat), mineral (seperti selenium), dan vitamin C dalam kurma memiliki efek antimikroba (antivirus, antijamur, dan antibakteri) sehingga mempertahankan daya tahan tubuh dan mencegah terjadinya peradangan.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − 12 =