Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Cermin Kemuliaan Seorang Wanita

cermin kemuliaan seorang wanitaAl-Ustadzah Hikmah

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Cermin Kemuliaan Seorang Wanita

Anugerah Ilahi telah banyak dilimpahkan kepada para pendahulu kita. Oleh karena itu, kita wajib mengenal mereka guna menapaki jejak mereka. Di antara mereka adalah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.

Nama Beliau

            Beliau adalah Hindun bintu Abi Umayyah Hudzaifah bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Beliau lebih dikenal dengan nama kuniah Ummu Salamah.

Ikut dalam Hijrah Pertama ke Habasyah bersama Sang Suami

            Pada tahun kelima kenabian, kekejaman kaum kafir Quraisy semakin hebat menimpa kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintah mereka untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia).

Berangkatlah dua belas pria dan empat wanita. Di antara mereka adalah Ummu Salamah bersama sang suami, Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum al-Qurasyi.

Abu Salamah rahimahullah Wafat

Ketika meletus Perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriah, Abu Salamah terjun ke kancah peperangan. Dalam perang tersebut, sebatang anak panah melesat mengenai beliau. Lima atau tujuh bulan setelah kejadian itu, beliau wafat.

Ummu Salamah berkabung. Sepeninggal sang suami, beliau menjalani masa ‘iddah[1] hingga selesai pada bulan Syawwal tahun ke-4 Hijriah.

Mendapat Pengganti yang Lebih Baik

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَ اللهُ: إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللهمّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tidak ada seorang muslim yang ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala disebabkan oleh musibah yang menimpaku dan berilah pengganti untukku yang lebih baik daripadanya,” melainkan Allah pasti memberinya pengganti yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no. 918)

Ummu Salamah berkata, “Ketika Abu Salamah wafat, aku bergumam, ‘Muslim mana yang lebih baik daripada Abu Salamah? Beliau adalah seorang sahabat Nabi, sedangkan kami adalah keluarga pertama yang hijrah kepada Rasulullah?’ Aku pun membaca doa di atas, maka Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberiku pengganti yang lebih baik daripada Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Hathib bin Abi Balta’ah meminangku untuk dinikahi oleh beliau sendiri. Aku pun berkata, ‘Saya memiliki seorang anak perempuan, dan saya ini sangat pencemburu.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Adapun anak perempuan Ummu Salamah, kami berdoa kepada Allah semoga Dia memberinya kecukupan. Aku juga berdoa semoga Allah menghilangkan rasa cemburunya’.” (HR. Muslim no. 918)

Demikianlah, Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menjadi seorang ummul mukminin (ibu kaum mukminin), karena istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu bagi kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلنَّبِيُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَأَزۡوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمۡۗ

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (al-Ahzab: 6)

Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu kaum mukminin dilihat dari sisi kewajiban menghormati mereka, bukan dari sisi bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mahram mereka. Kaum mukminin yang bukan mahram bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap tidak boleh melihat aurat mereka, berjabat tangan ataupun safar (bepergian) dengan mereka, dan melakukan hal-hal lain yang diharamkan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

Melihat Jibril dalam Wujud Dihyah alKalbi

            Diceritakan dalam sebuah hadits bahwa Jibril ‘alahissalam mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ketika itu, di sisi beliau ada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Jibril ‘alaihissalam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berbincang-bincang, lalu Jibril beranjak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, “Siapa orang ini?”

“Dihyah”, jawab Ummu Salamah.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha melanjutkan ceritanya, “Sungguh, demi Allah, aku menyangka bahwa lelaki tersebut adalah Dihyah, sampai aku mendengar khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberitakan kepada kami wahyu yang disampaikan oleh Jibril.” (HR. Muslim no. 2451)

Meriwayatkan Hadits Nabi

            Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha termasuk dalam deretan sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah keistimewaan yang sangat besar. Tidak terhitung betapa banyak pahala beliau disebabkan oleh banyaknya muslimin yang mengamalkan hadits-hadits yang beliau riwayatkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, dia akan mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala orang yang mengamalkannya. (HR. Muslim no. 3509)

Peran Ummu Salamah dalam Dakwah

            Pada tahun ke-6 Hijriah, setelah mengurusi isi Perdamaian Hudaibiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru kepada para sahabat, “Bangkitlah, sembelihlah hewan-hewan (yang kalian bawa), dan cukurlah rambut kalian!”

Namun, para sahabat tidak mengindahkan perintah tersebut meski Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya sampai tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menemui Ummu Salamah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluhkan sikap tak acuh para sahabat terhadap perintah beliau. Ummu Salamah, sang istri salehah, menghibur suaminya dan membantu mencari solusi masalah yang sedang dihadapi.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengusulkan, “Wahai Nabi Allah, keluarlah. Anda tidak perlu mengajak bicara seorang pun dari mereka sampai Anda menyembelih unta Anda, lalu memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut Anda.”

Segera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikuti usulan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha . Melihat tindakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat pun menyembelih hewan sembelihan mereka dan secara bergantian mencukur rambut. Demikian sekelumit peran Ummu Salamah dalam berdakwah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dikaruniai Putra dan Putri yang Berhasil

            Dari pernikahan Ummu Salamah dengan Abu Salamah, lahirlah Umar bin Abu Salamah dan Zainab bintu Abu Salamah. Kedua anak ini seperti sang ibu, meriwayatkan banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berdua termasuk pewaris ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain Umar dan Zainab, terlahir pula Salamah bin Abu Salamah dan Durrah bin Abu Salamah—sebagaimana dalam sebuah riwayat.

Wafat Beliau

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha wafat pada tahun ke-61 Hijriah setelah meninggalnya cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Sumber Bacaan:

  1. Zadul Ma’ad I, “Fashl Fi Azwajihi”
  2. Tahdzibut Tahdzib
  3. Hadits al-Bukhari no. 2732

[1] ‘Iddah adalah masa tunggu bagi seorang wanita yang telah ditinggal mati atau diceraikan oleh suaminya. Pada masa itu ia tidak diperbolehkan menikah atau menawarkan diri kepada laki-laki lain untuk menikahinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − two =