Untaian Bimbingan dan Peringatan dalam Menghadapi Badai Fitnah

adab-014Al-Ustadz Marwan

Untaian Bimbingan dan Peringatan dalam Menghadapi Badai Fitnah

Suatu hal yang mesti dimaklumi bahwa dunia ini adalah negeri ujian dan medan untuk beramal. Oleh karena itu, perseteruan antara al-haq (kebenaran) dan kebatilan akan terus ada semenjak diturunkannya Adam q ke muka bumi ini sampai waktu yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Setan dan bala tentaranya, baik dari kalangan jin maupun manusia, bahu-membahu mengusung kebatilan, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَٱسۡتَفۡزِزۡ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتَ مِنۡهُم بِصَوۡتِكَ وَأَجۡلِبۡ عَلَيۡهِم بِخَيۡلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِ وَعِدۡهُمۡۚ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا ٦٤

“Dan bangkitkanlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki, berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak, dan beri janjilah mereka. Tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (al-Isra’: 64)

Dengan berbagai tipu muslihatnya, setan senantiasa menyeru manusia kepada kebatilan. Ia berharap agar para pengikutnya bersama-sama dengannya menjadi penduduk api neraka. Ia hiasi kebatilan dengan atribut-atribut kebaikan, dan sebaliknya, ia gambarkan di hadapan manusia bahwa kebaikan adalah kebatilan. Akibatnya, banyak manusia yang tertipu oleh tipu daya dan makar setan. Wal ‘iyadzu billah (hanya kepada Allah kita berlindung).

Adapun kebenaran diemban oleh para rasul dan pengikut mereka dari kalangan ulama dan orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan dan perbaikan dengan menjelaskan kebenaran tersebut kepada segenap manusia. Dengan izin dan kehendak Allah, lewat tangan-tangan mereka inilah sebagian manusia mendapatkan hidayah. Orang yang mendapatkan hidayah tersebut pun mampu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Dengan pandangan ilmu ia mampu memisahkan antara hal-hal yang bermudarat dan hal-hal yang bermanfaat. Dengan timbangan ilmu ia mampu pula memandang akibat-akibat dari setiap perkara. Ia juga senantiasa bersabar dan kokoh dalam melawan hawa nafsu dan memerangi setan beserta bala tentaranya, yaitu seluruh musuh Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Jauhi Fitnah yang Menerpa

Sungguh sekarang kaum muslimin dihadapkan pada berbagai fitnah yang besar. Fitnah-fitnah tersebut seakan-akan potongan malam yang gelap.

Harta adalah fitnah yang telah dihamparkan di tangan-tangan manusia. Hal ini merupakan kekhawatiran yang pernah diungkapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Kebanyakan manusia telah menggunakan harta tersebut bukan di jalan Allah, tetapi membelanjakannya di jalan-jalan setan. Wal ‘iyadzu billah.

Anak-anak adalah fitnah. Kebanyakan orang tua telah menyia-nyiakan mereka, padahal secara umum, hitam putih perilaku anak disebabkan oleh bimbingan dan tuntunan dari orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ وَيُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak terlahir di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membentuknya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Pergaulan bebas dengan para penyeru kejelekan dari kalangan orang kafir adalah fitnah. Sungguh pada masa ini negeri-negeri kaum muslimin dan komunitas muslimin telah dimasuki orang-orang kafir. Mereka menebarkan berbagai kejelekan dengan memasukkan akidah kebatilan atau perilaku yang rusak.

Wanita adalah fitnah. Bahaya fitnah para wanita sangatlah besar, terlebih pada masa ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah memperingatkan adanya fitnah yang sangat besar sepeninggal beliau, yaitu fitnah yang diakibatkan oleh para wanita.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, Tidaklah kutinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih berbahaya atas kaum pria daripada fitnah para wanita. (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

Fitnah wanita adalah fitnah pertama yang menimpa Bani Israil. Fitnah inilah yang menyebabkan kehancuran mereka. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, “Takutlah kalian terhadap dunia dan takutlah kalian terhadap wanita. Sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah dalam urusan wanita.

Menyeru manusia kepada kebatilan dan menjauhkan mereka dari alhaq adalah fitnah. Dengan berbagai cara hal ini dilakukan. Lewat media cetak, siaran-siaran radio, dan tayangan-tayangan televisi, kebatilan tersebar dengan cepat. Hampir bisa dikatakan bahwa mayoritas media memiliki andil besar dalam penyebaran berbagai kebatilan. Hanya sedikit dari media-media tersebut yang mengusung al-haq.

Ini fakta yang tidak membutuhkan pembuktian dengan menyaksikan dan mendengarkan secara langsung, karena memang tidak layak disaksikan atau didengarkan. Cukuplah bukti itu didapatkan dari kesaksian orang-orang tepercaya yang, dahulu, sebelum mendapatkan hidayah, pernah menyaksikan, mendengarkan, dan membaca sajian-sajian di berbagai media elektronik dan media cetak tersebut.

Sekian banyak media yang tidak luput dari alunan alat-alat musik dan nyanyian. Ditayangkanlah berbagai acara yang mayoritasnya mendorong dan membangkitkan syahwat. Pergaulan bebas dipertontonkan dan dituntunkan. Sifat malu dipaksakan untuk dicabut dari kaum Hawa, padahal sifat mulia ini mesti ada pada mereka. Ditayangkan pula gelak tawa dan canda ria muda mudi yang tidak memiliki hubungan mahram sedikit pun, seolah-olah mereka sepasang suami istri yang sah. Tidak ada hijab yang menghalangi mereka. Masih banyak lagi sajian rusak yang tidak akan cukup disebutkan di sini. La haula wala quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah).

 

Kepada Para Orang Tua

Orang tua telah mendapat wasiat Allah subhanahu wa ta’ala terkait dengan keberadaan anak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ

 Allah mewasiatkan bagi kalian tentang anak-anak kalian. (an-Nisa’: 11)

Telah diketahui bahwa wasiat itu terkait dengan urusan yang sangat penting.

Para nabi dan orang-orang saleh terdahulu telah memberikan suri teladan yang baik yang menunjukkan besarnya perhatian mereka kepada generasi penerus. Mereka berharap agar anak keturunan mereka termasuk dalam golongan yang mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Bahkan, perhatian mereka terhadap anak-anak mereka tetap diberikan sekalipun ajal telah di hadapan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang kisah Nabiyyullah Ya’qub q,

أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٣

 “Adakah kalian hadir ketika Ya’qub didatangi (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Rabbmu dan Rabb nenek moyangmu, yaitu (Rabb) Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Rabb yang Maha Esa, dan kami tunduk patuh hanya kepada-Nya’.” (al-Baqarah: 133)

Demikian pula wasiat Luqman kepada putranya, sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

 “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (Luqman: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah dia menjaganya atau menyia-nyiakannya. Hingga Allah akan bertanya kepada seorang kepala keluarga terkait dengan seluruh anggota keluarga (yang dipimpinnya). (HR. an-Nasa’i dan Ibnu Hibban dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan, “Alangkah banyak orang yang menyengsarakan buah hatinya di dunia dan di akhirat. Ia menyia-nyiakan anaknya, tidak mendidiknya, dan justru membantunya dalam meraih setiap keinginannya. Ia menyangka bahwa apa yang dilakukannya tersebut adalah bentuk pemuliaan kepada anak, padahal sesungguhnya ia telah menghinakan si anak. Ia menyangka telah memberikan kasih sayangnya kepada si anak, padahal sesungguhnya ia telah menzaliminya. Akibatnya, orang tua tersebut tidak bisa mengambil manfaat dari si anak. Hilang pula bagiannya di dunia dan di akhirat. Jadi, jika Anda perhatikan, mayoritas kerusakan anak itu justru datang dari sisi orang tua.”

Beliau rahimahullah juga menuturkan, “Pada mayoritas anak, kerusakan mereka justru datang dari sisi orang tua. Orang tua menyia-nyiakan mereka dan tidak mengajari mereka kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah dalam agama. Ketika masih kecil, anak-anak tersebut disia-siakan oleh orang tua mereka. Akibatnya, kelak setelah dewasa, anak-anak tersebut tidak bisa mengambil manfaat dari diri mereka sendiri, tidak pula memberikan manfaat bagi orang tua mereka.”

Kesimpulannya, anak-anak memiliki hak atas orang tua mereka. Orang tua wajib menjaga dan menegakkan hak-hak tersebut. Sungguh semua itu termasuk perkara yang seorang hamba akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Kepada Generasi Muda

Saudariku, Pembaca, rahimakumullah.

Generasi muda adalah tonggak umat ini. Merekalah generasi harapan. Mereka merupakan bagian konstruksi umat ini. Dari mereka akan tumbuh orang-orang yang berilmu (ulama). Dari mereka pula tumbuh para tentara yang siap berjihad di jalan Allah. Jika keadaan mereka baik, jadilah mereka penyejuk pandangan para orang tua di kehidupan dunia ini. Akan terus mengalir kemanfaatan mereka setelah kematian orang tua mereka. Mereka pun akan digabungkan dengan orang tua mereka ketika orang tua mereka masuk ke surga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۢ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ٢١

“Dan orang-orang yang beriman yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (ath-Thur: 21)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡۖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ ٢٣

“… (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapak, istri-istri, dan anak cucu mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” (ar-Ra’du: 23)

Generasi muda harapan adalah generasi muda yang tumbuh di dalam peribadahan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah mengabarkan tujuh kelompok manusia yang akan mendapatkan perlindungan Allah subhanahu wa ta’ala pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah subhanahu wa ta’ala. Di antara mereka adalah, “Seorang pemuda yang tumbuh di dalam peribadahan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Termasuk bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, khususnya kepada generasi muda, adalah sabda beliau kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Wahai anak muda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah semata.” (al-Hadits)

Demikian pula bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah subhanahu wa ta’ala?” Sampai akhir hadits.

Secara umum, wanita juga termasuk generasi muda. Ia mukallaf (mendapat beban syariat) sebagaimana halnya pria. Salah satu kewajiban wanita yang sama dengan kewajiban kaum pria adalah mencari ilmu. Dengan ilmu tersebut ia bisa menegakkan ibadah yang wajib ia tunaikan. Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Wanita adalah pribadi yang mukallaf sebagaimana halnya pria. Maka dari itu, ia wajib mencari ilmu yang wajib baginya, agar ia bisa menunaikan kewajiban-kewajiban itu di atas keyakinan.”

Di antaranya, wanita wajib mempelajari thaharah yang merupakan keharusan atasnya, tata cara mandi haid dan janabah, wudhu dan tayammum beserta pembatal-pembatalnya. Wajib pula baginya mempelajari masalah shalat, tata caranya, waktu-waktunya, dan sunnah-sunnahnya, serta hal-hal yang terkait dengan fikih shalat ketika safar dan ketika bermukim. Ia wajib pula mempelajari masalah puasa, zakat, haji, dan syariat lainnya, baik yang terkait dengan hak-hak suami dan kehidupan rumah tangga, birrul walidain, hak-hak anak dan pendidikan untuk mereka, hukum safar bagi wanita dan syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika safar, maupun kewajiban-kewajiban syariat yang lain. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 3 =